Gambar yang diperkirakan berasal dari tahun 1830 di samping ini berjudul "Kopral dari Barisan Jawa". Tergambar seorang pria berbaju seragam militer biru, lengkap dengan tanda pangkat di lengan bawah bajunya, tetapi tanpa sepatu. Menyandang sebuah tombak yang dihiasi bendera Belanda, namun anehnya memiliki gagang seperti gagang senapan. Yang lebih aneh lagi adalah bentuk topinya. Kok kayak topi para lady di London waktu nonton pacuan kuda, ya? Kegedean lagi. Tapi ah sudahlah, mungkin pelukisnya saja yang kurang akurat.
Apa itu Barisan Jawa? Dari penjelasan gambar yang diberikan situs KILTV, Barisan Jawa ini adalah pembantu Belanda dalam Perang Padri. Oh, kalau begitu inilah model penampilan pasukan yang dipimpin oleh Sentot Alibasyah Prawirodirdjo.
Sebagaimana tercantum dalam teks sejarah klasik, Sentot adalah salah seorang panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Ia sangat ditakuti Belanda karena kelihaiannya berperang. Namun demikian Sentot pada akhirnya menyerah kepada Belanda, beberapa waktu sebelum Pangeran Diponegoro ditangkap dengan licik oleh Belanda pada saat perundingan.
Setelah itu -entah dengan alasan atau bujukan apa- Sentot bersedia dikirim oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch ke Minangkabau untuk membantu Belanda berperang melawan kaum Padri. Berangkatlah ia bersama pasukannya. Tetapi sampai di Sumatera Barat ia berulah. Ia malah bermain mata dengan kaum Padri, sehingga dicap pengkhianat oleh Belanda. Ia ditarik ke Batavia pada 1834 dan selanjutnya diasingkan ke Bengkulu sampai meninggalnya pada tahun 1855.
Bagaimana nasib Barisan Jawa? Mereka dilebur kedalam kesatuan tentara Hindia Belanda dan terus berperang di pihak Belanda melawan kaum Pidari.
Tapi sejarah memang punya banyak versi. Rusli Amran punya versi sendiri terhadap Barisan Sentot ini sebagaimana dimuat dalam bukunya Cerita-cerita Lama dalam Lembaran Sejarah terbitan Balai Pustaka (1997). Bahkan dalam buku itu juga diungkap motif kenapa Sentot mau membantu Belanda. Perkara benar tidaknya tentu diserahkan ke pembaca.
Ini dia kutipannya.
Sebagai tanda terima kasih atas jasanya membantu Belanda berperang melawan Diponegoro, Alibasya Prawirodirjo alias Sentot, bersama keluarga dan para pengikutnya (seluruhnya lebih dari 1.500 jiwa), dikirim oleh Gubernur Jenderal/Komisaris Jenderal J. Van den Bosch ke Sumatra Barat tahun 1832.
Kepadanya dijanjikan bahwa sesampai di sana ia akan diangkat sebagai raja kecil dengan keraton dan pasukan sendiri. Akan tetapi sebelumnya ia harus membantu Belanda dalam Perang Pidari yang telah 10 tahun berkecamuk di Minangkabau. Tujuan lain Van den Bosch mengirim Sentot jauh dari Pulau Jawa agar lebih aman jika anak muda berpengalaman perang dan pemberani, dengan para pengikut yang setia dikucilkan di tempat yang jauh.
![]() |
| Sentot Alibasyah Prawirodirdjo |
Orang-orang Belanda dalam tentara sangat tidak menyenanginya. Bukan saja karena tulang punggungnya begitu kuat, melainkan sudah menjadi kebiasaan orang totok untuk tidak menyenangi perwira berkulit berwarna. Selain itu, penduduk setempat pun tidak menyenangi Sentot. Ia dianggap sombong dan agak meremehkan penduduk asli.
Sentot tidak lama di Sumatra Barat. Sebelum Perang Pidari dimenangkan Belanda, khusus setelah terjadi "serangan fajar" tahun 1833, harapannya untuk dijadikan raja kecil pun pupus. Serangan serentak dilakukan "Kaum Putih" sewaktu fajar menyingsing tanggal 11 Januari 1833, mengubah segala rencana Van den Bosch. Dalam waktu 24 jam, ratusan tentara Belanda tewas dan seluruh Sumatra Barat bagian utara (kecuali kota-kota pantai), jatuh lagi ke tangan Pidari.
Tentara yang sebelumnya senantiasa melaporkan kepada Van den Bosch bahwa keadaan sudah "aman" dan perang segera akan berakhir, sekarang saling menuding dan saling menuduh dengan orang-orang pemerintahan sipil dan berusaha mencari kambing hitam. Sentot termasuk salah seorang yang dijadikan kambing hitam, dituduh "berkhianat" oleh berwira-perwira bule di sana. Banyak bangsa kita yang tidak bersalah menjadi korban kaum militer yang sedang kalap karena dipermalukan oleh serangan mendadak orang-orang Pidari waktu subuh itu.
Setelah diselidiki secara cermat, ternyata semua tuduhan itu tidak benar, termasuk tuduhan atas diri Sentot. Ini diakui oleh Van den Bosch. Akan tetapi, anak muda pemberani seperti Sentot dituduh yang bukan-bukan, bisa menggawatkan keadaan kalau tetap berada di Sumatra Barat. Oleh karena itu, Van den Bosch mengambil jalan keluar paling aman, dia dipersilakan mengaso ke Bengkulu, diberi tunjangan lebih dari cukup (juga untuk para pengikutnya), dan tetap hidup serba mewah seperti di Padang.
Secara resmi, Barisan Sentot baru dibubarkan bulan Januari 1834. Bagian terbesar dari pasukannya dipecah, dilebur ke dalam kesatuan-kesatuan tentara Hindia Belanda. Mereka tidak diizinkan menjadi satu kesatuan lagi.
Para perwiranya yang bergelar pangeran diangkat menjadi mayor, seperti Suryobronto, cucu Sultan Yogya dan yang bergelar raden temenggung diangkat menjadi kapten, umpamanya Prawirodipuro, Notoprawiro, dan Prawirokusumo, sedangkan yang temenggung diangkat menjadi letnan satu, seperti Prawirosudiro dan Sosroatmojo. Akan tetapi, ada juga yang diangkat menjadi letnan dua, seperti Kartowongso dan Prawirodilogo, malah ada yang juga hanya sersan, seperti Joyosentono. Mereka ini meneruskan perjuangan membantu Belanda melawan Pidari. Semuanya berjumlah sekitar 600 orang masuk tentara Hindia Belanda.
Sebagian lagi dilepas dari dinas ketentaraan. Mereka mendapat tunjangan yang cukup selama mereka belum mendapat pekerjaan yang tetap. Mereka boleh menetap di Sumatra, boleh juga kembali ke Jawa atas ongkos pemerintah.
Ada pula yang diberi uang pensiun besar, tetapi harus bermukim terus di Sumatra. Umpamanya di Padang seperti halnya Raden Temenggung Mangundipuro (bapak Kapten Prawirodipuro) atau Raden Temenggung Purwonegoro (mertua kapten yang sama). Kedua raden temenggung ini mendapat tunjangan tidak kurang dari 174 gulden sebulan. Jumlah yang tidak sedikit untuk waktu itu. Seorang lagi Temenggung Ponconegoro, entah apa sebabnya ia harus diam di Tapanuli dengan uang pensiun 65 gulden sebulan.
Sebagian lagi (kurang lebih 40 jiwa bersama keluarga) diberi tanah di dekat Padang untuk bertani. Selama satu tahun hidup mereka dijamin oleh pemerintah.
Tentu banyak pula yang memilih tinggal di Minangkabau karena terpikat gadis-gadis Minang yang terkenal cantik dan istri yang baik. Sejak generasi kedua, perkawinan ini banyak dijalankan dan anak-anak serta keturunan mereka benar-benar sudah menjadi orang Minang. Nama dan bahasa Jawa mereka pun kemudian menjadi hilang.
Yang cukup menarik dipandang adalah besarnya pensiun yang diberikan Pemerintah Belanda kepada para kiai bekas barisan Sentot. Yang tertinggi adalah Haji Nisa, menetap di Padang, menerima pensiun tidak kurang dari 224 gulden sebulan. Mungkin karena dia juga dianggap mengepalai semua orang asal suku Jawa di sana. Dua lainnya (Kiai Penghulu dan Kiai Melangi) masing-masing menerima 115 gulden sebulan.
Satu lagi yang juga menarik ialah kedudukan yang baik diberikan pemerintah kepada keturunan bekas Barisan Sentot ini. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa pada saat jatuhnya Hindia Belanda karena Perang Pasifik, banyak sekali dari mereka memegang jabatan penting di Sumatra Barat. Waktu itu mereka sudah lama berintegrasi dengan penduduk setempat. Seperti telah dikatakan, bukan saja nama-nama, melainkan bahasa ibu mereka pun sudah lama tidak dipakai dan terlupakan. Diantara mereka ada yang keturunan langsung Sentot Alibasya (saudara, kemanakan, atau sepupunya).
Kecuali pangkat-pangkat yang dikaitkan dengan adat seperti kepala laras dan penghulu kepala, mereka menguasai semua kedudukan penting dalam jajaran pemerintahan abad yang lalu. Yang terpenting di antaranya ialah di bidang perkopian, seperti mantri kopi klas 1 sampai klas 3. Juga mantri-mantri lainnya: mantri cacar, mantri candu, mantri jalan, mantri pasar, dan mantri pajak. Adalagi di bidang perkeretaapian, pertambangan batu bara,kepolisian, dan lain-lain.
Namun, yang paling menarik ialah setelah pangkat kepala laras diganti dengan demang, banyak dari mereka memegang jabatan tertinggi untuk pribumi ini, misalnya Wongsosentono (Abdullah) jadi demang antara lain di Pariaman. Sebelum itu, sebagai mantri kopi, dia berpindah-pindah tempat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kartowongso (Ibrahim) menjadi demang di Ulakan, Painan, dan Talamau, setelah sebelumnya menjadi mantri kopi di daerah-daerah rawan, seperti Solok dan Alahan Panjang. Dia anak Wongsodirjo (Solihin) yang juga bekerja si perkopian sejak dari Halaban hingga Padang Panjang. Sorang lagi bernama Wirioharjo (Rusman), ipar Kartowongso, pernah menjadi mantri kopi di Payakumbuh, Tanjung, Bukitsileh, Lubukgadang, dan lain-lain tempat sebelum diangkat menjadi Demang Batang Hari dan Rao.
Siapa tidak kenal nama Wirado Prawirodirjo. sebagai mantri kopi klas 1, dia tewas dibunuh rakyat selama Pemberontakan Pajak tahun 1908 (di Kamang) atau nama-nama termasyur waktu itu, seperti Prawirodimejo (Karah), Poncoduria (Wahab), Wongsoprawiro (Ahmad), dan Wongsosasmito. Tolong Datuk Basa (anak Joyokarsono) malah pernah menjadi kepala laras di Lubuk Sikaping. Ada pula yang menjadi guru di Batusangkar, seperti Wiriojoyo.
Demikianlah sekilas tentang keturunan yang disebut Barisan Sentot. Yang banyak diketahui ialah tentang mereka yang berkedudukan penting. Kita tidak mempunyai keterangan-keterangan tentang mereka dari keturunan para prajurit biasa.
Pemimpinnya sendiri, Sentot Alibasya Prawirodirjo, tidak sempat menjadi raja kecil di Minangkabau. Seperti ditulis tadi, karena serangan di waktu fajar bulan Januari 1833. Dia meninggal di Bengkulu tanggal 17 April 1855. Menurut yang penulis baca, sewaktu wafat, Sentot meninggalkan 7 istri (4 tidak resmi) dan 28 anak (7 tidak resmi).
Dengan demikian, berakhirlah riwayat pemuda flamboyan, pemberani dan ambisius. Andai kata tidak terjadi serangan fajar orang-orang Pidari dan andai kata Belanda masih berkuasa, sekarang di Minangkabau (di XII-Kota atau XX-Kota) mungkin berdiam seorang raja kecil keturunan Sentot dengan keraton dan tentara sendiri, dengan tugas terpenting, menyiapkan tentara bantuan bagi Belanda jika terjadi pemberontakan rakyat di sana. Mungkin pula di Minangkabau kini berdiam sekelompok elit bangsa Jawa. Inilah tujuan Komisaris Jenderal Van den Bosch dahulu mengirim Sentot ke Sumatra Barat.
Memang harus diakui, suatu tindakan tepat untuk daerah seperti Minangkabau yang tidak henti-hentinya berontak melawan penjajah.
(Sumber: KITLV; groups.yahoo.com/neo/groups/surau/conversations/topics/13177; wikipedia)


















