Sabtu, 30 November 2013

Jejak VOC di Sumatra Barat (1659-1799)

Kongsi Perdagangan Hindia-Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada pula VWC yang merupakan persekutuan dagang untuk kawasan Hindia Barat. VOC dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia sekaligus merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham.

Di kalangan orang Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni, diambil dari kata "compagnie" yang ada dalam singkatan namanya,. Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalnya VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.

Karena banyaknya pegawai VOC yang curang dan korup serta bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis, VOC dinyatakan bangkrut dan dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden serta kekayaan  berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan di Indonesia yang selanjutnya dikuasai langsung oleh kerajaan Belanda.

Bagaimana di Sumatera's Westkust? Inilah gambaran sekilas sepak terjang VOC di Sumatera Barat:

Padang : Loji/Gudang (tahun 1659); berubah menjadi Gudang Besar dan Barak {tahun 1668), selanjutnya  berubah menjadi Benteng.
Produk : Merica, Garam, Kapur Barus, Kemenyan

Priaman: Loji (tahun 1671);  berubah menjadi Benteng tahun 1684

Airhaji: Loji
              Produk: merica dan emas

Airbangis: Loji (tahun 1669)
                  Produk: merica, kelapa dan minyak kelapa

Indrapura: Loji (tahun 1659)
                   Produk: merica

Pulu Tjinkuk (atau Pulu Tjinko): Loji dengan kantor perwakilan dagang (1662)
                                                      Produk: merica

Secara umum Sumatera Barat menguntungkan bagi VOC, meskipun keuntungan itu harus diperoleh dengan susah payah. Biaya operasional penambangan emas. misalnya, semakin lama semakin bertambah besar jika  dibanding hasilnya. Sementara perdagangan merica bersifat fluktuatif. Hal ini terjadi karena di Eropa merica juga diimpor dari tempat lain. Selain itu juga karena pedagang yang berada diluar kawasan monopoli VOC di sepanjang pantai barat Sumatra tetap aktif. Apalagi sejak British East India Company yang terusir dari Banten tahun 1684 membuka kantor mereka di Bengkulu.

Sekarang mari kita lihat satu persatu.

Ajerbangis (disebut juga Aijerbangis atau Aijerbangies); sekarang Airbangis.
VOC mendirikan loji disini setelah di Priaman (1671). Ini hanya sebagai pos tambahan. Sampai abad ke-18 hanya ada sekitar sepuluh orang pegawai VOC disini. Yang diperdagangkan adalah merica, kelapa dan minyak kelapa. Bersama dengan Priaman dan Tico, loji ini dihapuskan tahun 1770.

Tico (disebut juga Ticous, Tikoes, Tacauw, Ticou); sekarang Tiku .
Di Tico, utara Priaman, VOC mendirikan kantor tahun1667, setelah Poulo Tijnko. Seperti halnya Ajerbangis, ini hanya pos tambahan.  Di Tiku VOC menukar merica dengan pakaian dan kain katun. Dihapuskan bersama dengan Priaman dan Ajerbangis pada 1770.

Priaman (disebut juga Priamang atau Priamange); sekarang Pariaman .
 Priaman berada di sebelah utara Padang. VOC membuka loji disini tahun 1671 dan selanjutnya membangun sebuah benteng Fort Vredenborg (juga disebut Vredenburg and Vreedenburg). Tahun 1684, Priaman dikuasai oleh Kesultanan Aceh, bersama Padang dan Indrapoura serta beberapa kawasan VOC lainnya di pantai barat Sumatra. Meskipun akhirnya berdamai, perdagangan di daerah ini tetap dipengaruhi oleh konflik antara Sultan Aceh dan kerajaan-kerjaan kecil di sekitarnya. Selain itu juga persaingan dengan perusahaan dagang Inggris menjadi masalah akut di sini. Beberapa kali pos di Priaman ini ditinggalkan, termasuk tahun 1698. Akhirnya dihapus tahun 1770 bersama Ajerbangis and Tico.

Padang
Pada 1667 Jacob Jorisz ditunjuk sebagai komandan dari 110 pegawai VOC di Padang (itermasuk 40 sampai 50 orang tentara). Pada 1670, loji besar ini ditunjuk sebagai pusat dari seluruh kawasan VOC di pesisir barat Sumatra. Pada 1668 Padang ditunjuk sebagai ibukota. Kota ini dilengkapi dengan rumahsakit, gereja dan alun-alun yang dikelilingi oleh perkantoran. Sesudah tahun 1700, penduduk didalam benteng berjumlah 430 orang pada tahun 1730. Ekspor utama Padang adalah merica, garam, kapur barus dan kemenyan.

Troisang, sekarang Tarusan .
Catatan tertulis tentang pos VOC ini tidak ditemukan. Hanya diketahui lewat peta.

Sillida (disebut juga Silido, Sillida, Zelida, Zilida, Zillida, Salido Ketjil, Pinang ), sekarang Painan .
Di Painan VOC mendirikan Benteng Fort Cronenburg. Daerah ini menghasilkan emas dan perak. Sebelumnya VOC membelinya dengan cara barter kepada penduduk lokal. Pada tahun 1667 VOC memeperoleh izin menambang emas dan perak di Sillida dari raja Indrapoera, Taroesan and Bajang . Pada tahun 1670, pertambangan emas dibuka. Masalahnya adalah petambang orang Eropa sangat mahal dan tidak cocok dengan iklim tropis.  Pada tahun 1696, pertambangan ditutup sementara. Dilanjutkan lagi pada awal abad 18 dengan mempekerjakan budak-budak dari Madagascar. Karena kondisi lingkungan yang tidak sehat di pertambangan, tingkat kematian sangat tinggi. Dari sini emas dan perak dikapalkan dalam bentuk mentah karena untuk membuat proses pengolahan logam sendiri memerlukan biaya yang sangat besar.  Akhirnya tambang ini disewakan VOC kepada Angku Lareh Sillida .

Reruntuhan Gerbang Pulau Cingkuak
Poulo Chinco (disebut juga Chinco, Poulo Chinco, Poulo Chinko, Pulu Tjinko, Poelau Ching cake, Pulu Tjinkuk); sekarang Pulau Cingkuak.
Poulo Chinco adalah sebuah pulau kecil di depan Painan . Pada tahun 1667 pulau ini dipagari dengan konstruksi batu pada bagian bawahnya. Pada tahun 1669 di sinididirikan sebuah gudang dengan konstruksi batu. Disini juga berkedudukan Kepala Dagang Pesisir Barat Sumatra, langsung dibawah komando Tuan Kumandur di Padang.  Di sebelah rumah Tuan Kepala Dagang berdiri gudang merica dan kain. Merica diekspor dari sini, sedangkan kain dibeli di India dan digunakan sebagai penukar merica masyarakat. Di sini terdapat juga rumah budak dan rumah jaga serdadu. Semua tersedia di pulau ini, termasuk anggur, yang sebenarnya tidak begitu diperlukan di sebuah pulau di daerah tropis yang panas.

Indrapoera (disebut juga Indrapoura dan Indapoura); sekarang Indrapura
Indrapoera berlokasi antara Padang dan Bengkulu. Sekitar tahun 1659 VOC mendirikan kantor di sini. VOC menandatangani kontrak dengan sultan Indrapoera tentang monopoli merica. Tahun 1702 sebuah garnisun VOC dibantai dalam sebuah pemberontakan di sini. Pada 1716 VOC mendirikan loji baru dengan menandatangani kontrak baru dengan sultan setempat.

Adjarhadja (disebut juga Adjarhadja, Adjer Hadja, Ajerhadia, Ajerhadja, Aijerhadja); sekarangAirhaji .
Adjarhadja berada dekat dengan Indrapoera . Adjarhadja adalah sebuah pasar kecil dan pos pengamatan bagi VOC. Dengan melindungi raja-raja setempat dari ancaman Sultan Aceh, VOC berhasil memonopoli merica disini.  

Menurut catatan, pada tahun 1770, di pesisir barat Sumatra terdapat 290 pegawai VOC yang berpusat di Padang. Dengan pegawai yang hanya sebanyak itu, VOC bisa berkuasa hampir 200 tahun. Betapa ajaibnya...

(Sumber: vocsite.nl;  wikipedia; voc-kaap.org; suetoclub.files.wordpress.com)

Sabtu, 16 November 2013

Saudagar Antar Bangsa (1900)


Foto di atas adalah foto keluarga yang unik. Si ayah berdiri di depan rumah, sedangkan istri dan sepasang anaknya memperhatikan sang ayah dari teras rumah. Si ibu berdiri sementara kedua anaknya nangkring di pagar teras. Kenapa nggak diajak sekalian aja,ya? :)

Rumahnya besar, bertipe bungalow. Si ayah bernama F.W.J.H. Tengbergen, seorang saudagar di Padang. Sayangnya, ambo tidak berhasil menemukan informasi lebih lanjut soal aktifitas dagangnya maupun lokasi tepatnya rumah dalam foto ini sekarang. Yang pasti keluarga ini adalah penduduk kota Padang karena nama mereka tercantum dalam Adresboek (buku alamat) kota pada awal abad ke-20.

Pak Tengbergen sepertinya bukan saudagar kacangan. Mainnya sudah antar benua. Bahkan berita tentang dirinya  juga muncul di sebuah majalah dari Australia, The Queenslander yang terbit di Brisbane. Memang isinya hanya berita ringan, tapi cukup menggambarkan "kelas" Meneer Tengbergen ini.

Pada hari Sabtu tanggal 20 Maret 1909 The Queenslander menulis:

F. W. J. H. Tengbergen , pedagang dari  Hindia Belanda, yang baru-baru ini mengunjungi New York, mengejutkan beberapa orang pialang saham di Wall Street dengan memberikan  kartu namanya yang terdiri dari lima nama, empat nama kristen yang panjang sebelum diikuti nama keluarganya . 

"Itu belum seberapa, " katanya , " Saya punya teman yang punya empat belas nama. Ayah teman saya yang malang itu adalah seorang pedagang di salah satu kota besar di India. Sebelumnya hubungan antara ayahnya dan juru catat kota sudah tidak baik karena permasalahan bisnis.

Pada waktu teman saya itu lahir ayahnya pergi ke pejabat ini untuk mencatatkan kelahirannya . Kedua orang itu saling melotot saat mereka bertemu di kantor.

'Apa yang Anda inginkan di sini ?' kata juru catat.
'Aku kesini ada urusan,' jawab ayah teman saya . 'Tuliskan apa yang saya katakan.'

Juru catat tidak mengacuhkan permintaan itu dan melanjutkan pekerjaannya yang terhenti. Ayah teman saya itu menjadi marah, dan dengan kata-kata tegas mengulangi permintaannya disertai dengan ancaman . Akhirnya si juru catat menyetujuinya sambil mengomel, dan ayah teman saya tersenyum penuh kemenangan.

Ini adalah yang didiktekan ayah teman saya kepada si juru catat sebelum menambahkan nama keluarganya, susunan huruf sampai huruf L: 'Adrian Barend Christian Diederick Evert Francis Gerret Hendrik Isaac Johan Knrel Lenz .' 

Sampai saat ini teman saya itu selalu kesulitan dalam menuliskan nama lengkapnya dalam dokumen-dokumen resmi dan  masalah-masalah penting lainnya , termasuk  surat nikahnya ."

Itulah sekelumit kisah pedagang dari Padang yang berbisnis sampai ke New York pada awal 1900-an. Kalau sekarang sampai kemana orang Padang manggaleh, ya?

(Sumber: trove.nla.gov.au; KITLV)

Selasa, 05 November 2013

Kelok Sembilan dan Matahari Bagi Sumbar (2013)

Catatan Si Ntonk : 
Kali ini MinangLamo menampilkan tulisan dari sejarawan betulan yaitu Prof. Gusti Asnan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Tulisan ini ditulis sekaitan dengan peresmian Jalan Layang Kelok 9 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 31 Oktober 2013. Pembangunan itu sendiri berlangsung selama 10 tahun (2003-2013) dengan menghabiskan biaya 602,55 Milyar. Terdiri atas 6 jembatan dengan panjang total 943 meter dan jalan penghubung sepanjang 2.089 meter. Infrastruktur ini murni hasil karya anak bangsa sejak dari disain sampai pengerjaannya.
Tulisannya berjudul "Kelok Sembilan dan Matahari Bagi Sumbar". Bercerita tentang pergeseran peran kota Padang (dan Sumatera Barat) bagi pulau Sumatera sejak zaman kolonial sampai sekarang serta relevansinya dengan Kelok 9. Selamat membaca!

Gusti Asnan
Sepanjang abad ke-19 Padang adalah kota yang terbesar dan terpenting di Sumatera. Tidak itu saja, sejumlah kota bandar lain di kawasan barat Su­matera juga tumbuh menjadi pusat kegiatan sosial, politik dan ekonomi yang penting.

Kondisi itu menyebabkan daerah pedalaman Sumatera bagian tengah, yang identik dengan daerah administratif Gouvernement Sumatra’s Westkust (Pantai Barat Sumatera), menjadi sangat tergantung pada kota Padang dan kota-kota bandar lain di ka­­wasan pada umumnya. Kota Padang dan kota-kota di kawasan barat saat itu bagaikan matahari bagi dae­rah pedalaman. Kota Padang dan kota-kota di kawa­­san barat saat itu menerangi dan memberi energi bagi daerah pedalaman.

Sehubungan dengan itu, penduduk daerah pedalaman banyak yang bermigrasi ke pantai barat, berbagai komoditas daerah pedalaman dibawa ke kawasan pantai barat, dan berbagai barang yang didatangkan dari Negeri Seberang dikirim ke daerah pedalaman melalui pantai barat.

Untuk mengefektifkan pergerakan orang dan barang tersebut, pemerintah kolonial membangun berbagai jaringan jalan raya antara daerah pantai barat dengan kawasan pedalaman. Beberapa ruas jalan tersebut adalah: Air Bangis via Simpang Empat, Talu, dan Rao; Sasak/Katiagan dengan Ladang Panjang ke Bonjol; Tiku via Lubukbasung, Maninjau, Matua, ke Bukittinggi; Pariaman via Kayutanam, Padangpanjang ke Bukittinggi; Padang via Saningbakar, Singkarak ke Tanahdatar; Padang via Limau Manis, Gantung Ciri, Selayo, ke Tanahdatar; dan Bandar Sepuluh ke Solok Selatan.

Signifikansi kawasan pantai barat dalam dengan daerah pedalaman semakin terlihat ketika dibangunnya jaringan jalan kereta api yang menghubungkan kota Padang dengan Sawahlunto. Batubara yang dihasilkan Sawahlunto dibawa ke Padang terlebih dahulu sebelum dikapalkan dan diekspor ke mancanegara.

Kota Padang menjadi begitu penting sepanjang abad ke-19 karena kota itu adalah pusat kegiatan politik dan ekonomi terpenting, tidak hanya di pantai barat Sumatera, tetapi juga di Sumatera. Pelabuhan kota itu menjadi satu-satunya pelabuhan laut dengan tipe A (sebuah pelabuhan yang melayani kegiatan ekspor-impor dengan luar negeri) di Sumatera. Pelabuhan kota Padang disinggahi oleh kapal-kapal samudera yang melayani rute Batavia-Belanda atau Australia-Eropa atau sebaliknya. Di kota ada banyak konsulat perdagangan negara-negara terkemuka.

Di kota Padang ada banyak handelhuizen (rumah dagang) yang bergerak dalam sektor ekspor-impor, dan kota Padang adalah pusat kegiatan politik (ibukota) Gouvernement Sumatra’s Wetskust.

Peranan sebagai kota terpenting ini, tetap disandang Padang hingga dua dekade permulaan abad ke-20. Pada saat itu, Padang juga tumbuh menjadi pusat aktivitas sosial (pendidikan), dan juga pusat penerbitan surat kabar dan majalah, serta publikasi sejumlah buku. Di samping itu, berbagai organisasi sosial-kemasyarakatan juga ada di kota ini.

Memasuki dasawarsa ke-3 abad ke-20, kota Padang khususnya dan kota-kota pantai di kawasan barat umumnya mulai kehilangan pamornya. Peran politik, sosial, ekonomi, dan budayanya mulai memudar dan diambilalih oleh beberapa kota di bagian timur Sumatera. Pada saat itu, Medan telah tumbuh menjadi kota terbesar dan terpenting di Sumatera. Medan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang terkemuka, disebabkan oleh pembukaan berbagai ordernemingen (perkebunan besar) di kawasan itu. Pelabuhan Belawan mengambil alih peran pelabuhan Padang, dan kapal-kapal samudera yang dahulu menyinggahi Padang mengalihkan rutenya ke pelabuhan Belawan. Perkembangan ini menyebabkan hampir semua konsulat perdagangan yang ada di Padang memindahkan kegiatan mereka ke Medan. Sejumlah besar handelhuizen yang ada di kota Padang juga hijrah ke kota itu.

Perkembangan tersebut juga menyebabkan Medan menjadi tujuan migrasi orang/penduduk daerah pedalaman, termasuk juga pedalaman Sumatera Barat. Merantau ke Deli (Medan berada di kawasan Deli) menjadi sebuah gerakan saat itu. Mudahnya gerakan ini juga didukung oleh tersedianya jaringan jalan raya, serta adanya perusahaan otobis yang melayani rute Sumatera Barat (Padang dan Bukittinggi) dengan Medan.

Tidak hanya Medan atau kawasan Deli, Pekanbaru (Riau), Jambi dan Palembang juga tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru pada daswarsa ke-3 abad ke-20. Pekanbaru menjadi begitu penting bagi penduduk dan daerah pedalaman Sumatera Barat. Pekanbaru menjadi penting dalam hubungannya perdagangan dengan “negeri tetangga” (Semenanjung Malaysia). Berbagai komoditas impor dari Malaysia dan Singapura untuk Sumatera Barat didatangkan melalui Pekanbaru (Riau), dan bagi penduduk pedalaman Sumatera Barat, Pekanbaru (Riau) berperan besar sebagai “kota/daerah transit” bila mereka hendak pergi ke Malaysia atau Singapura.

Site Plan Jalan Layang Kelok 9. Yang berkelok-kelok di sebelah atas adalah Kelok 9 yang asli
Dalam kaitannya dengan pekembangan itulah pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan jalan raya yang menghubungkan daerah pedalaman Sumatera Barat dengan Pekanbaru (Riau). Ada dua ruas jalan raya yang mereka bangun saat itu: pertama, antara Bukittinggi via Payakumbuh dan Bangkinang ke Pekanbaru, dan kedua dari Kiliran Jao via Taluk Kuantan ke Rengat. Tanpa mengabaikan siginifikansi bagian jalan yang lainnya, Kelok Sembilan dapat dikatakan sebagai bagian jalan yang paling menyita energi dan biaya pemerintah kolonial. Tidak itu saja, perintah Hindia Belanda melalui Departemen Pekerjaan Umumnya (PU) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Padang mengatakan bahwa Kelok Sembilan adalah bagian jalan yang paling perlu dijaga dan diperhatikan.

Dikatakan, Kelok Sembilan adalah sebuah ruas jalan yang bisa menentukan hidup atau matinya hubungan antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pekanbaru (Riau). Pernyataan lembaga yang berurusan dengan jalan raya ini tentu tidak sekadar pernyataan semata. Tentu ada sejumlah pertimbangan yang mendasari pernyataan tersebut. Salah satu di antaranya adalah bila terjadi masalah dengan ruas jalan Kelok Sembilan itu, misalnya tebing atau lembah yang ada di ruas jalan itu longsor, maka akan putuslah hubungan antar kedua daerah. Putusnya hubungan tersebut akan membuat tersendat atau terhentinya pergerakan orang dan barang dari kedua daerah. Terhentinya pergerakan orang dan barang akan menimbulkan kerugian (finansial) yang besar bagi kedua belah pihak.

Dengan alasan inilah, Departemen PU masa itu, dan juga pada masa pasca-proklamasi kemerdekaan, senantiasa berusaha menjaga agar kondisi jalan ini senantiasa berada dalam keadaan baik. Selalu ada pengawas (opzichter) yang ditugaskan mengawasi keadaan ruas jalan itu. Alhasil dalam waktu yang cukup lama, ruas jalan Kelok Sembilan terjaga dengan baik dan hubungan antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pekanbaru (Riau) bisa terjalin dengan baik.

Bahkan, dalam kenyataannya, bila ada gangguan perjalanan antara Sumatera Barat dengan Riau, seperti tanah atau jalan yang longsor,  maka tanah atau jalan yang longsor itu umumnya terjadi di luar ruas jalan Kelok Sembilan.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan seiring pula dengan perkembangan teknologi transportasi, serta tingginya mobilitas angkutan darat antara Sumatera Barat dengan Riau, ruas jalan Kelok Sembilan ternyata tidak lagi mampu mengimbangi alat angkutan yang melintasinya. Ruas jalan tersebut dirasa sudah terlalu sempit. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa pemerintah, terutama pemerintah daerah Sumatera Barat untuk meningkatkan mutu dan kualitas, serta keadaan jalan di kawasan Kelok Sembilan. Peningkatan mutu jalan itu dilakukan dengan membangun jembatan yang megah, kokoh, dan lapang.

Kemegahan jembatan tersebut akan sangat terasa bila dilihat dari berbagai foto yang diambil oleh juru potret profesional. Kokohnya jembatan itu juga terlihat dari kekarnya struktur jembatan yang dibangun. Lapangnya jembatan itu sangat terasa bila kita melaluinya. Apatah lagi bila dibandingan dengan “sempitnya” ruas jalan yang dilalui sebelum kita memasuki jembatan ini. Bisa dikatakan, pembangun jembatan Kelok Sembilan ini adalah salah satu mahakarya anak bangsa dalam lapangan transporatsi darat di Samatera Barat pada awal millennium ke tiga ini.

Jalan Layang Kelok 9 dilihat dari arah Payakumbuh.
Pembangunan jembatan Kelok Sembilan jelas sangat menguntungkan Sumatera Barat. Pembanguan jembatan ini sangat membantu para pengguna jalan melewati salah satu satu ruas yang tersempit dan paling
berbahaya antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pakanbaru (Riau). Pembangunan jembatan ini akan lebih menggairahkan mobilitas orang dan barang antara Sumatera Barat dengan Riau. Pembangunan jembatan ini akan lebih membuat mudahnya mobilitas orang dan barang dari Samatera Barat ke Riau.

Mobilitas orang dan barang dari Sumatera Barat ke Riau memang perlu mendapat tekanan, karena sejak awal tahun 2000-an, bisa dikatakan bahwa orang dan daerah Sumatera Barat lah yang paling berkepentingan dengan ruas jalan raya ini. Orang dan daerah Sumatera Barat lah yang paling banyak mendapat keuntungan dari adanya, dan lancarnya jalan raya ini. Keuntungan itu tentu saja bisa terjadi karena Riau dewasa ini adalah sebuah daerah yang membutuhkan banyak banyak dan komoditas dari Sumatera Barat sehingga bisa menjadi pasar potensial bagi daerah Sumatera Barat. Riau adalah matahari baru bagi Sumatera Barat dewasa ini. Dan Jembatan Kelok Sembilan adalah wahana yang bisa mengantarkan orang dan daerah Sumatera Barat ke matahari tersebut. 

(Sumber : padangekspres.co.id; indhietdaily.blogspot.com; twicsy.com)

Sabtu, 31 Agustus 2013

[STOP PRESS] Klik ke 100.000: Diaspora Rang Minang

Pagi ini begitu membuka laman blog ini, ambo dapati deretan angka pada counter pengunjung sudah melewati angka 100.000 klik. Hhhhh, ambo menghela nafas. Tidak menyangka bahwa perjalanan blog ini menjadi sedemikian jauh. Untuk sebuah blog yang hanya dibuat secara iseng-iseng dengan topik yang sangat spesifik pula, bagi ambo angka seratus ribu klik adalah sebuah prestasi yang sangat-sangat-sangat luarrrr biasa. Terimakasih tentunya buat dunsanak pembaca semua. 

Selain itu,  dari flag counter yang ambo pasang di blog ini dapat juga kita melihat sampai dimana sebenarnya rantau urang awak itu. Kalau bahasa yang sedang nge-trend sekarang ini: diaspora. Artinya kurang lebih penyebaran. Ya, merantau itu.

Sepertinya setiap putra Minang memang memahami penuh makna pantun Karatau madang dihulu/Babuah babungo balun/Marantau bujang dahulu/Dirumah paguno alun. Lihatlah jembrengan diaspora para putra Bundo yang meng-klik blog kita ini. Seluruh dunia.



Tapi tunggu dulu. Apa bisa dijamin bahwa semua yang meng-klik blog ini orang Minang? Ambo pastikan: ya. Argumennya sederhana saja. Siapa lagi yang tertarik membaca sejarah usang suatu bangsa kalau tidak bangsa itu sendiri. Kecuali sejarawan, ya. Dan sejarawan juga tidak banyak jumlahnya. 

Secara persentase seperti dibawah ini.



Masih kurang yakin? Okelah kalau begitu. Kita diskon saja. Untuk klik yang di bawah 5...atau..10-lah kita anggap orang nyasar.  Hasilnya adalah dari 82 negara yang sudah mengunjungi blog ini, 56 negara mempunyai klik diatas 10. Artinya kunjungan dari negara itu berulang lebih dari 10 kali. Artinya lagi: pembaca tetap.

Di posisi puncak tentu Indonesia (34,2%). Selanjutnya diikuti Amerika (12,3%), Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris. Ada juga Kanada (no. 10) dan Italia (no. 14). Ini tidak mengherankan, karena negara-negara ini adalah negara-negara tujuan utama para mahasiswa asal Indonesia dalam menuntut ilmu, baik S1, S2, S3 maupun post-doc. Dan diantara mereka pasti banyak yang merupakan keturunan minang.

Yang menakjubkan bagi ambo adalah negara-negara Eropa Timur. Ceko, Rusia, Bulgaria dan Rumania adalah jawaranya. Persentase kunjungan mereka sangat tinggi, termasuk negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Latvia, Estonia, Lithuania dan Belarusia. Apakah mungkin para pengunjung dari Eropa Timur ini bagian dari mahasiswa yang tidak pulang akibat peristiwa G.30.S dulu? Ataukah mereka bagian dari para pekerja migas yang memang produktif di Eropa Timur? Yang jelas, terlihat bahwa Eropa Barat dan Eropa Timur sudah lanyah oleh anak-anak Minang. Termasuk Eropa Utara yang membeku. Bahkan Islandia yang sudah dekat kutub pun tak luput didatangi.

Hal lain yang juga menakjubkan bagi ambo adalah kehadiran pengunjung (baca:orang Minang) di pelosok dunia yang tidak ambo sangka-sangka. Contohnya dari British Virgin Island, Amerika Selatan (Bolivia dan Brasil) serta Libanon dan......Israel (!). Kunjungan mereka cukup sering. Israel, ya? Hmm...

Khusus untuk Amerika Serikat yang jumlah kunjungannya nomor dua setelah Indonesia, dari 51 negara bagian tercatat hanya 11 negara bagian yang tidak muncul di catatan blog ini. Tapi ambo yakin itu bukan berarti di 11 negara bagian itu tidak ada anak minang. Hal itu karena masih ada kunjungan yang tidak teridentifikasi oleh sistem karena sesuatu dan lain hal. Jumlahnya juga cukup signifikan. Bisa jadi salah satu atau salah duanya dari antara yang 11 itu.

Begitulah kisah diaspora anak-anak Minang yang dapat terbaca lewat pengunjung blog ini. Mereka (baca: kita) ada dimana-mana. Tinggal bagaimana mengelola potensi yang begitu besar menjadi sebuah kekuatan. Tidak hanya kekuatan ketika mudik. Tapi juga untuk peningkatan ekonomi urang kampuang.

(Sumber: Flagcounter.com)








Kamis, 29 Agustus 2013

Penginjil dari Ranah Minang (1927-2012)


Suatu hari di awal Ramadhan lalu, ambo tercenung di depan tumpukan buku di toko buku Gramedia Palembang. Di tangan ambo ada sebuah buku berjudul "Dari Subuh hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran" karangan Abdul Wadud Karim Amrullah. Penerbitnya adalah BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Nama si pengarang mengingatkan ambo kepada trah keluarga besar Haji Rasul atau Inyiak De-Er (DR, maksudnya Doktor) alias Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, yang tak lain adalah bapak dari Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Tapi terasa ganjia karena setau ambo BPK itu adalah penerbit buku-buku kristen. Dan memang, setelah membaca sepintas barulah ambo tercenung dan sedikit shock karena bukunya berisi tentang testimoni si pengarang tentang kisah hidupnya dalam memperoleh iman kristen dan menjadi penginjil di Amerika (!).

Hal yang pertama terlintas dalam benak ambo adalah: Apa benar pengarang buku ini adik Buya HAMKA? Jangan-jangan hanya mencatut nama biar terkenal. Di dunia ini apa saja dikerjakan orang. Batin ambo seolah tak rela jika darah para ulama besar tercemar dengan terbitnya buku ini.

Jawabannya datang secara tak sengaja di akhir Ramadhan dari sebuah buku yang ambo beli di Bukittinggi ketika pulang mudik. Bukunya dikarang oleh salah seorang putra Buya HAMKA, Irfan, dan berjudul "Ayah....Kisah Buya Hamka" terbitan RepublikaPenerbit tahun 2013. Didalam buku itu dicantumkan ranji silsilah keluarga besar Haji Rasul. Dan guess what,  nama Abdul Wadud memang terdapat didalamnya! Bahkan di bagian meninggalnya Buya Hamka juga ditulis Pak Irfan bahwa "Pamanku, Abdul Wadud dan anak istrinya yang baru datang dari Amerika pun turut sibuk juga menyambut pelayat." Klop. Confirmed. Ternyata pendeta itu memang adik Buya Hamka. Rupanya memang benar apa kata orang bijak: tidak ada yang tidak mungkin dibawah matahari.

Pertanyaan lain muncul: Kok bisa? Pertanyaan selanjutnya: Apakah Buya Hamka tahu? Selanjutnya lagi: Terus kalau tahu apa tanggapan Buya?.

Jawaban pertanyaan pertama kita cari di dalam buku Pak Abdul Wadud. Ia lahir di Kampung Kubu, Sungai Batang, Maninjau, tgl. 7 Juni 1927 sebagai anak tunggal dari istri ketiga Haji Rasul yaitu Siti Hindun. Sedangkan Buya Hamka adalah anak pertama dari empat bersaudara hasil pernikahan Haji Rasul dengan istri keduanya Siti Shafiah. Artinya Abdul Wadud adalah adik tiri seayah dari Buya Hamka. Perlu juga dicatat bahwa pernikahan ayah mereka dengan ketiga istrinya itu tidak dalam masa yang sama. Artinya Haji Rasul tidak berpoligami. Jarak umur antara Buya Hamka dan Abdul Wadud adalah 19 tahun.

Abdul Wadud menghabiskan masa kecilnya di Maninjau. Sebagaimana anak-anak Minangkabau lainnya, waktu kecil ia pergi ke surau di kampungnya dan pergi sekolah agama di Padang Panjang yang dikelola oleh murid-murid ayahnya. Selanjutnya ia meninggalkan Minangkabau pada 8 Agustus 1941 bersama ayahnya menuju tempat pembuangan ayahnya di Sukabumi.

Abdul Wadud Karim Amrullah
Selepas kematian ayahnya pada 1945, Abdul Wadud berangkat ke Rotterdam dengan bekerja sebagai tukang binatu di kapal MS Willem Ruys yang berangkat dari Tanjung Priok pada Februari 1949. Selanjutnya ia meneruskan petualangan ke Amerika Serikat dan Amerika Selatan pada 1950 sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di San Francisco, California.

Di California Abdul Wadud mendirikan IMI (Ikatan Masyarakat Indonesia) tahun 1962. Kemudian ia menikah dengan Vera Ellen George, seorang gadis Indo, pada tgl. 6 Juni 1970 dan belakangan dikarunia 3 orang anak. Ia juga aktif dalam kegiatan Islamic Center yang dikelola oleh para imigran Islam dari Indonesia dan negara-negara Islam lainnya di Los Angeles.

Pada tahun 1977 keluarga ini kembali ke Indonesia dan bekerja di biro perjalanan milik Hasjim Ning di Bali. Pada saat bisnis mereka bermasalah, istrinya yang muallaf kembali diajak teman-temannya untuk pergi ke gereja. Tidak itu saja, sang istri juga mengajak si suami untuk turut serta. Akibatnya mereka sering bertengkar hebat.

Namun lambat laun pertahanan Abdul Wadud bobol juga. Tahun 1981 ia setuju mengikuti agama istrinya. Tahun 1983 ia dibaptis sebagai “anak Yesus” oleh Pendeta Gereja Baptis Gerard Pinkston di Kebayoran Baru. Selanjutnya ia kembali ke AS tahun itu juga, menyusul istri dan anak-anaknya yang sudah lebih dahulu meninggalkan Indonesia. Tidak lama kemudian Abdul Wadud ditasbihkan menjadi pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di California. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Pendeta Willy Amrull.

Untuk menjawab pertanyaan kedua dan ketiga, konon Buya Hamka tahu bahwa adik tirinya itu telah masuk Kristen dari laporan anaknya Rusydi Hamka yang baru pulang dari Amerika yang melihat bahwa Pak Eteknya itu membuat tanda salib sebelum makan. Setidaknya demikian yang disampaikan Irfan Hamka kepada seorang penanya. Selanjutnya Buya Hamka berpesan agar anak-anaknya jangan sampai mengikuti langkah yang sudah ditempuh si Pak Etek.

Namun demikian ada sedikit ganjalan bagi ambo dalam hal ini. Kalau dilihat dari time frame kejadian, Buya Hamka meninggal dunia pada tahun 1981. Sedangkan Abdul Wadud baru dibaptis -menurut bukunya- pada tahun 1983. Ada sesuatu yang tidak cocok dari segi waktu jika dianggap Buya Hamka telah tahu soal ini. Ditambah lagi sepertinya hubungan antara keluarga kakak-adik ini tetap berlangsung baik. Buktinya pada saat Buya Hamka meninggal, Abdul Wadud dan keluarganya datang dan bertindak selaku tuan rumah, sebagaimana dimuat dalam buku Pak Irfan. Sebab biasanya orang yang sudah bertukar agama, agama apapun itu, akan dikucilkan oleh keluarganya. Jadi menurut ambo kemungkinan ada data dan kejadian yang tidak sinkron dalam hal ini. Meskipun begitu,  kebenarannya  tentu hanya diketahui oleh pihak keluarga Buya Hamka sendiri.

Didalam bukunya ini Abdul Wadud alias Pendeta Willy juga mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan. Masih ingat kasus Wawah? Tahun 1998 Ranah Minang buncah ketika seorang siswi MAN 2 Padang diculik, dibuka jilbabnya, dibaptis dan (maaf) diperkosa. Selanjutnya setelah semuanya terbongkar, yang diadili hanyalah tuduhan perkosaan saja. Sedangkan penculikan dan pemaksaan pindah agama tidak ikut didakwakan. Pihak Gereja GPIB Padang yang berdasarkan pengakuan Wawah disangkakan terlibat dalam hal ini, menolak keterlibatannya. Pihak gereja juga membantah keberadaan seorang pendeta yang membaptis Wawah. Namanya Pendeta Willy.

Melalui buku ini,  sosok Pendeta Willy dalam kasus Wawah yang sebelumnya kabur menjadi terang benderang. Memang benar ada yang bernama pendeta Willy dalam kasus itu. Dituliskan bahwa pada tahun 1996 Pendeta Willy Amrull, dengan dukungan lembaga misionaris di Amerika, mulai aktif menyebarkan agama Kristen di Minangkabau. Ia dan para pengikutnya berbasis di Jalan Batang Lembang (daerah Padang Baru) dan di Parak Gadang, Padang. Pendeta Willy Amrull merekrut anak-anak muda Minang, khususnya dari golongan ekonomi lemah, untuk dialihimankan menjadi orang Kristen. Ia menyebutnya sebagai proses “pemuridan”. Diantara tangan kanannya yang terkemuka adalah Yanuardi dan Salmon yang belakangan juga ikut tersangkut kasus Wawah. Akibat kasus Wawah juga, dituliskan bahwa Pendeta Willy Amrul menjadi takut datang ke Ranah Minang lagi.

Pendeta Willy Amrull meninggal tgl. 25 Maret 2012 di Los Angeles, tak lama setelah bukunya ini terbit. Ia telah meninggalkan catatan tertulis tentang sesuatu hal yang dianggap aib besar bagi orang Minang: meninggalkan Islam. Buku ini juga memberi peringatan kepada kita bahwa soal kristenisasi di Ranah Minang bukanlah hantu di siang bolong. Bukan sekedar kabar pertakut. Bukan pula phobia. Tetapi memang nyata dan sistematis. Adik Buya Hamka ini adalah contohnya. Semoga kita, keluarga kita dan semua teman serta karib kerabat kita tidak ikut terjebak. 

(Sumber: lilinkecil.com; republikapenerbit.co.id; niadilova.blogdetik.com; rantaunet@googlegroups.com)

Kamis, 01 Agustus 2013

IJzerman dan Para Perintis (1891)


Foto koleksi Tropen Museum diatas mengingatkan ambo pada film-film gangster Wild West di Amrik sono. Gaya berpakaiannya, cara menatap kamera, kumis dan brewoknya serta gaya berdirinya. Tapi foto ini tidak berasal dari Texas, melainkan dari Hindia Belanda.

Para gentlemen yang berpose diatas adalah bagian dari ekspedisi yang dipimpin oleh adalah Dr. Jan Willem IJzerman, insinyur utama Jawatan Kereta Api Hindia Belanda pada 1891. Tujuannya adalah untuk mensurvey jalur kereta api lanjutan dari Padang Panjang sampai ke Siak di Riau. Dengan demikian pantai barat dan pantai timur Sumatra akan terhubung. Hal ini merupakan kelanjutan dari pekerjaannya sebelumnya yaitu jalur kereta api dari tambang batubara Ombilin ke pelabuhan Emmahaven. Dr. IJzerman sendiri kelak pada tahun 1920 dikenal sebagai pendiri Technische Hoogeschool te Bandoeng alias Institut Teknologi Bandung yang kita kenal sekarang.

Ijzerman bersama para penghulu
Sebuah buku karya Rudolf Mrazek, sejarawan asal Ceko, memuat cuplikan kisah perjalanan ekspedisi itu dalam bukunya Engineers of Happy Land (2002) terbitan Princeton University Press sebagaimana dibawah ini , dengan sedikit editan dari ambo.

.....
Pada tanggal 13 Februari 1891, sebuah ekspedisi dimulai dari Padang Panjang, sebuah kota kecil di Sumatera Barat dimana dari stasiun itu kereta api tidak dapat kemana-mana lagi. Diawali dengan tradisi setempat yaitu "lompat maju ala katak".

Tujuan ekspedisi itu adalah mensurvey wilayah diluarnya untuk sebuah rel baru menuju Siak, menuju pantai Timur Sumatra. Yang memimpin ekspedisi ini adalah Dr. Jan Willem IJzerman, insinyur utama Jawatan Kereta Api Hindia Belanda. Waktu itu usianya empat puluh tahun. Selain menjadi teknisi paling berpengaruh di balik pembangunan jalur-jalur kereta api baru di Hindia Belanda, ia dikenal juga sebagai arkeolog amatir di Jogjakarta. 

Pada pukul enam pagi itu, ekspedisi mulai bergerak. Rencananya ialah berjalan kaki “dari pukul enam hingga pukul empat” setiap hari. Selain IJzerman dan tiga orang Belanda lain, ada sekitar selusin hamba-hamba Jawa, dua puluh orang Jawa pekerja kereta api dan sekitar 120 orang pembantu yang direkrut dari warga setempat. Ekspedisi itu membawa “kopor-kopor, tempat-tempat tidur lapangan, kursi, lembaran kulit imitasi untuk berteduh, kasur, amunisi, kawat, tali, paku, paraffin, kamera foto dan makanan.”

Dr. IJzerman sepanjang perjalanan tidak pernah bisa lepas dari pistol revolvernya. Ia merasa bahagia, setidaknya begitu yang  nampak. Orang-orang yang ikut dalam ekspedisi itu berburu ikan untuk makan malam dengan menggunakan dinamit. Kemah mereka di hutan juga pernah diserang oleh “para bandit”. 

Dalam buku kenangan ekspedisi IJzerman menulis : “Sejak penemuan lahan batu bara Oembilin oleh insinyur pertambangan yang cerdas bernama W.H. de Greve di tahun 1868, banyak orangmulai membicarakan dan menulis keinginan mereka untuk menyusuri sungai besar yang mengalir jauh hingga Selat Malaka”. Foto besar kuburan de Greve yang berupa gundukan kecil dibawah pohon tjoebadak menghiasi buku itu.

Jembatan dari bambu sebagai rencana rute jembatan KA di Batang Ombilin
Dalam perjalanannya rombongan IJzerman berulangkali menemukan sporen baru, jejak kaki gajah, badak, tapir, harimau, babi hutan dan rusa. Jejak kaki itu “sangat tajam terlukis di tanah yang basah.” Namun binatangnya sendiri jarang terlihat. Dalam bahasa Belanda “sporen” berarti jejak-jejak itu maupun jalur kereta api yang akan mereka bangun.

Menurut kisah mereka sendiri, orang-orang Belanda dalam ekspedisi itu beranggapan bahwa alam liar yang mereka lewati tampaknya ramah terhadap mereka. Sebagaimana ditulis:

“Di hutan, jauh dari dunia yang berpenghuni, sebahagian besar waktu dikuasai oleh keheningan yang mendalam. Tak ada kelompok monyet yang membangkitkan gema dengan teriakan bahagia mereka. Tak ada kawanan burung penyanyi yang memulai melodi-melodi bening mereka. Semua binatang besar seolah-olah punah. Tak ada nyamuk mengganggu istirahat kami di malam hari. Tak ada ular berbisa. Tak ada kelabang dan tak ada kalajengking yang mengganggu tidur kami di tempat terbuka, dibawah pohon, dan di tumpukan daun-daun bercendawan. Tak ada tikus menggerogoti persediaan beras kami, kaleng-kaleng berisi makanan dapat kami biarkan terbuka. Pepohonannya tak ada daunnya yang membuat kulit kami bengkak, tak ada duri menginfeksi darah kami. Kami bahkan dapat minum air hutan dengan aman.”

J.W. IJzerman
 Mereka bergerak dengan meninggalkan jejak-jejak kaki di lumpur basah, persis seperti badak atau babi hutan. Untuk maju terus diperlukan cara gerak tertentu: “memanjat pohon-pohon tumbang, menjaga keseimbangan di atas dahan-dahannya, tergelincir ke bawah dan jatuh ke lubang-lubang berlumpur di antaranya.”

Sewaktu pekerjaan itu selesai, pada pagi pertama setelah ekspedisi mencapai Siak, calon stasiun kereta terakhir (sebelum mereka berangkat pulang dengan menumpang sebuah kapal Cina), van Bemmelen –anggota ekspedisi- bangun dan pikirannya melayang ke beberapa minggu terakhir. Ia menulis bahwa hari-hari itu adalah “hari-hari kebebasan, kehidupan berkemah tanpa batas” dan “petualangan”. Dan yang paling kuat tertinggal dalam ingatannya adalah “kelembaban di kedua sepatu lars saya yang setengah robek, dan para pejalan kaki yang hampir-hampir berubah menjadi coklat terkena api perkemahan dan lumpur”.
.....

Itulah sekelumit kisah para perintis di akhir abad lalu. Namun ternyata perjalanan dan rintisan mereka sia-sia karena kita tidak pernah menikmati rel tersebut. Sampai sekarang.

(Sumber : Tropen Museum, googlebooks, historici.nl)

Sabtu, 27 Juli 2013

Sejarah Perih Kawa Daun (1840 - 1908)



Inilah minuman yang sedang in di Ranah Minang saat ini: Kawa Daun. Dengan gampang dunsanak akan menemukan kafe-kafe di pinggir jalan raya -biasanya dari bambu, dilengkapi kursi dan balai-balai- tempat menyeruput minuman ini.


Apa itu kawa daun? Kawa artinya kopi. Dari bahasa arab qahwah. Daun ya daun. Jadi kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Seperti teh. Sekali lagi: dari D-A-U-N kopi yang diseduh dengan air panas, dan bukan dari bijinya. Cara menikmatinya juga tak biasa : memakai tempurung alias batok kelapa, dengan ditemani gorengan. Sambil bersila di atas balai-balai bambu seraya dihembus angin sepoi-sepoi dingin pegunungan, sungguh kenikmatan tak terkira bagi penggemarnya. Rasanya? Kelat.

Tapi ambo tidak yakin semua penikmat kawa daun mengetahui bahwa sejarah minuman ini sekelam warnanya. Utamanya bagi orang Minang.

Bermula dari keinginan Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk menerapkan tanam paksa kopi di Ranah Minang pada 1840 menyusul keberhasilan di Tanah Jawa 10 tahun sebelumnya. Kopi adalah komoditi bernilai tinggi di Eropa sehingga keuntungan yang membayang sungguh luar biasa. Bagi kompeni tentunya.

Akibat harganya yang tinggi itu, semua biji kopi harus diserahkan ke gudang kopi alias koffiepakhuis tanpa boleh tercecer sebijipun. Muncullah sebutan pakuih kopi bagi pegawai pribumi yang mengurus gudang kopi ini. Tak heran jika mereka umumnya ikut kecipratan kaya.

Tapi malang bagi masyarakat kebanyakan. Mereka hanya boleh menanam saja tanpa boleh mencicipi rasa minuman kopi yang diolah dari bijinya. Kopi adalah minuman para dewa yang tak terjangkau tangan. Tapi tak kayu janjang dikapiang, tak ameh bungka diasah, timbullah ide kreatif untuk membuat minuman dengan menyeduh daunnya. Demi dapat mencicipi rasa kopi yang harum itu. Dapat dipastikan bahwa ide ini muncul terinspirasi dari cara mengolah daun teh menjadi minuman. Sayangnya ide ini tidak tercatat dengan baik kapan munculnya, dimana dan oleh siapa.

Pastinya rasa daun kopi tidak sama dengan rasa biji kopi. Tapi setidaknya ada bau-bau kopinya juga. Kelat-kelat sedikit tak apalah, mungkin begitu pandangan masyarakat saat itu. Penderitaan ini baru berakhir pada tahun 1908 ketika tanam paksa kopi diganti dengan penerapan belasting atau pajak. Namun tradisi minum air daun kopi ternyata tidak ikut berhenti. Mungkin karena sudah berlangsung lebih dari 60 tahun.

Sebelum diseduh daun kopi diasapi dulu sampai kering. Setelah itu baru disiram dengan air panas didalam tabung bambu. Selanjutnya ditambahkan gulo saka sebagai pemanis. Taraaaa.....terciptalah kawa daun.


Proses pengasapan daun kopi ini yang terekam dalam sebuah potret koleksi Tropen Museum. Beberapa orang ibu sedang bakalumun asok mengasapi daun kopi. Di belakang mereka didirikan tikar sebagai penghalang angin. Tentu saja, karena tentu mereka tidak mengharapkan api menyala dan membakar daun-daun kopi itu. Yang diharapkan adalah baranya. Kalau daunnya sudah berbunyi gemerisik artinya proses pengasapan sudah selesai. Siap untuk diolah selanjutnya.

Satu lagi tentang istilah Melayu Kopi Daun. Konon ini sebutan bangsa Belanda kepada orang Minang karena mereka meminum minuman kawa daun ini. Tepatnya sebuah hinaan. Tapi dulu almarhumah ibu ambo pernah bercerita bahwa istilah melayu kopi daun bukan diberikan oleh penjajah Belanda, tetapi karena salah tangkap pendengaran si Minang terhadap makian khas Belanda, "Melayu G*dverdomme". Tapi intinya tetap sama: istilah itu muncul dari sebuah hinaan dan makian.

Tak ada salahnya bagi dunsanak penikmat kawa daun mengenang sejarah ini sambil mairuik kupi...slurrrppp....

(Sumber: Tropen Museum, wisnugresco.blogspot.com)

Kronik PRRI (Bagian 9: Menyerah dan Kalah) - HABIS

Sebelumnya di Bagian 8: Perselisihan Internal dan Kontak Eksternal  14 April 1961: Kawilarang Menyerah  Sebuah kabar datang dari Sulawesi: ...