Ada di antara pembaca yang bisa memberi informasi tentang mesjid ini?
Ambo menemukannya secara tak sengaja dalam sebuah situs forum arsitektur yang membahas tentang bangunan kolonial Belanda di seluruh dunia. Namun tak ada informasi di situ karena yang dipentingkan forum itu hanyalah penampakan gedung. Yang ada hanya foto. Maklumlah, forum itu adalah forumnya peminat arsitektur.
Untunglah forum itu juga memberikan link-back ke sumber aslinya. Ternyata foto itu adalah koleksi Tropen Museum. Museum langganan kita :). Tapi setelah ambo telusuri ke sana, informasi yang tersedia hanyalah Moskee in Taloek bij Fort de Kock yang artinya Mesjid di Taluak dekat Fort de Kock. Tahun yang tertulis juga hanya 1900 - 1925. Pemotretnya juga tidak diketahui. That's all.
Hmmm. Taluak, ya? Sepengetahuan ambo Mesjid Taluak yang paling nge-top sejauh ini adalah mesjid nagari yang sudah pernah kita bahas sebelumnya.(Lihat disini). Tapi yang ini memang benar-benar baru bagi ambo.
Dari arsitekturnya, terlihat dominasi arsitektur kolonial dengan pola lengkung dan langit-langit tinggi. Terasnya juga senada. Pemilihan warna juga khas kolonial. Sampai disini bangunan ini bisa merupakan bangunan apa saja. Rumah pejabat Belanda, kantor gubernemen, bahkan sebuah gereja (!). Tapi lihatlah dibelakang bangunan itu. Mencogok 3 buah kubah. 1 besar dan 2 kecil mengapitnya. Menandakan bangunan ini berfungsi sebagai sebuah mesjid. Sepintas kubahnya mirip dengan kubah Mesjid Kutaraja di Banda Aceh sana. Sebuah kombinasi yang unik untuk sebuah bangunan mesjid.
Yang jelas adalah bahwa mesjid ini terletak di dalam kampuang. Lihatlah di sekelilingnya. Rimbunan bambu dan pohon-pohon besar yang menaungi jalan tanah persis di sebelah mesjid. Ada juga orang yang lagi duduk menjuntai kaki di teras mesjid. Tandanya mesjid ini memang benar-benar dipakai dan tidak hanya sekedar simbol atau monumen.
Entah mengapa, hati ambo berbisik bahwa bangunan ini adalah hasil karya seorang arsitek Belanda atau paling tidak anak nagari Taluak yang pernah mengenyam pendidikan Belanda. Ambo membayangkan perdebatan dan pergumulan pemikiran yang terjadi untuk membuat mesjid dengan bentuk seperti ini terwujud .
Perlu keberanian besar bagi si arsitek untuk mendesain sebuah mesjid dengan model Belanda yang notabene dicap sebagai urang kapia pada saat itu. Perlu keberanian besar juga bagi anak nagari untuk menerima mesjid dengan model demikian berada di nagarinya. Mengingat disain umum untuk mesjid di Ranah Minang pada waktu itu adalah limas bersusun tiga.
Perlu keberanian besar bagi si arsitek untuk mendesain sebuah mesjid dengan model Belanda yang notabene dicap sebagai urang kapia pada saat itu. Perlu keberanian besar juga bagi anak nagari untuk menerima mesjid dengan model demikian berada di nagarinya. Mengingat disain umum untuk mesjid di Ranah Minang pada waktu itu adalah limas bersusun tiga.
Bagaimana, pembaca?
Catatan : Kata-kata "Surau Ngarai" pada judul ambo tambahkan setelah membaca komen dari uda Sazli dan uni Murni di bawah. Hal ini dimaksudkan agar nama tersebut dapat ter-indeks oleh Google.
Catatan : Kata-kata "Surau Ngarai" pada judul ambo tambahkan setelah membaca komen dari uda Sazli dan uni Murni di bawah. Hal ini dimaksudkan agar nama tersebut dapat ter-indeks oleh Google.






