Sabtu, 16 Maret 2013

Mesjid Kontemporer - Surau Ngarai (1925)


Ada di antara pembaca yang bisa memberi informasi tentang  mesjid ini?

Ambo menemukannya secara tak sengaja dalam sebuah situs forum arsitektur yang membahas tentang bangunan kolonial Belanda di seluruh dunia. Namun tak ada informasi di situ karena yang dipentingkan forum itu hanyalah penampakan gedung. Yang ada hanya foto. Maklumlah, forum itu adalah forumnya peminat arsitektur.

Untunglah forum itu juga memberikan link-back ke sumber aslinya. Ternyata foto itu adalah koleksi Tropen Museum. Museum langganan kita :). Tapi setelah ambo telusuri ke sana, informasi yang tersedia hanyalah Moskee in Taloek bij Fort de Kock yang artinya Mesjid di Taluak dekat Fort de Kock. Tahun yang tertulis juga hanya 1900 - 1925. Pemotretnya juga tidak diketahui. That's all.

Hmmm. Taluak, ya? Sepengetahuan ambo Mesjid Taluak yang paling nge-top sejauh ini adalah mesjid nagari yang sudah pernah kita bahas sebelumnya.(Lihat disini). Tapi yang ini memang benar-benar baru bagi ambo.

Dari arsitekturnya, terlihat dominasi arsitektur kolonial dengan pola lengkung dan langit-langit tinggi. Terasnya juga senada. Pemilihan warna juga khas kolonial. Sampai disini bangunan ini bisa merupakan bangunan apa saja. Rumah pejabat Belanda, kantor gubernemen, bahkan sebuah gereja (!). Tapi lihatlah dibelakang bangunan itu. Mencogok 3 buah kubah. 1 besar dan 2 kecil mengapitnya. Menandakan bangunan ini berfungsi sebagai sebuah mesjid. Sepintas kubahnya mirip dengan kubah Mesjid Kutaraja di Banda Aceh sana. Sebuah kombinasi yang unik untuk sebuah bangunan mesjid.

Yang jelas adalah bahwa mesjid ini terletak di dalam kampuang. Lihatlah di sekelilingnya. Rimbunan bambu dan pohon-pohon besar yang menaungi jalan tanah persis di sebelah mesjid. Ada juga orang yang lagi duduk menjuntai kaki di teras mesjid. Tandanya mesjid ini memang benar-benar dipakai dan tidak hanya sekedar simbol atau monumen.

Entah mengapa, hati ambo berbisik bahwa bangunan ini adalah hasil karya seorang arsitek Belanda atau paling tidak anak nagari Taluak yang pernah mengenyam pendidikan Belanda. Ambo membayangkan perdebatan dan pergumulan pemikiran yang terjadi untuk membuat mesjid dengan bentuk seperti ini terwujud .

Perlu keberanian besar bagi si arsitek untuk mendesain sebuah mesjid dengan model Belanda yang notabene dicap sebagai urang kapia pada saat itu. Perlu keberanian besar juga bagi anak nagari untuk menerima mesjid dengan model demikian berada di nagarinya. Mengingat disain umum untuk mesjid di Ranah Minang pada waktu itu adalah limas bersusun tiga.

Bagaimana, pembaca?

Catatan : Kata-kata "Surau Ngarai" pada judul ambo tambahkan setelah membaca komen dari uda Sazli dan uni Murni di bawah. Hal ini dimaksudkan agar nama tersebut dapat ter-indeks oleh Google.

Jumat, 25 Januari 2013

Gunung Padang dan Taplau (1891)


Tergelitik oleh pertanyaan salah seorang pembaca blog ini beberapa waktu yang lalu tentang apakah Gunuang Padang dulunya segaris dengan pantai Padang, ambo mencoba browsing-browsing untuk mencari jawaban. Jawabannya: Tidak. Setidaknya sampai pada saat foto diatas diambil, tahun 1891. Entahlah kalau ribuan tahun yang lalu. Dalam foto diatas, Gunuang Padang masih mengambil posisi di depan dibandingkan garis pantai alias Taplau. Tapi Lauik - sebutan gaol anak muda Padang untuk menyebut pantai.

Namun demikian, perbedaan yang terlihat dengan kondisi sekarang adalah kelandaian garis pantai.  Melihat pantai Padang tahun 1891 ini, terbayang-bayang pantai di Bali yang nyaman untuk tidur-tiduran dan main pasir. Kondisi itu tidak ditemukan lagi sekarang. Pantainya curam, pasirnya sedikit dan berbahaya akibat abrasi. Malah di sepanjang pantai sekarang dipasang tumpukan batu-batu gunung sebesar truk untuk pemecah hempasan gelombang Samudera Indonesia yang memang terkenal ganas. Sejajar dan tegak lurus garis pantai. Jadi jauuuuuh lah bentuk pantai sekarang dari foto diatas.

Dalam browsing-browsing ambo, ada sebuah foto lain yang menarik. Ini dia.


Foto ini dikodak oleh Jean Demmeni tahin 1910. Apa menariknya? Ternyata pantai Padang yang di dekat muara sungai Batang Arau sudah di buat dinding pemecah gelombang dari beton oleh Ulando. Rapi seperti di lokasi Banda Bakali atau Banjir Kanal sekarang. Terlihat nyaman untuk tempat bersantai. Kalau di zoom akan terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk menghadap ke laut. Mungkin menikmati sunset :). Ternyata jaman itu pun sudah disadari bahwa garis pantai bisa habis dimakan gelombang. Makanya dibuat dinding beton.

Dinding ini sudah tidak ada sekarang. Bahkan cerita tentangnya tidak pernah terdengar. Setidaknya oleh ambo. Sebab itu foto ini jadi menarik. Mungkin dinding ini sudah terkubur di dasar samudera akibat hantaman ombak. Atau gempa gadang? Entah.

Di bagian kanan foto, di kaki Gunuang Padang terdapat warna keputihan. Kalau di zoom dari sumber aslinya akan kelihatan bahwa itu adalah sebuah bangunan bergaya kolonial dengan tangga yang diberi atap dari arah laut. Artinya disana ada dermaga kecil untuk aktivitas turun naik perahu. Bangunan apa dan milik siapa ambo belum menemukan informasinya. Tapi bagi yang suka memancing dengan perahu atau naik kapal kayu ke Mentawai dari dermaga Muaro akan melihat reruntuhan bangunan ini yang sudah tenggelam dalam semak belukar. Tangganya sudah tidak ada. Hanya sisa-sisa bangunannya. 

Mungkin ada pembaca yang tertarik mengunjunginya?

Sumber : geheugenvannederland.nl; kitlv.nl

Senin, 21 Januari 2013

Truk Jadul (1930)


Kalau sekarang angkutan barang menggunakan truk, maka jaman lamo menggunakan moda transportasi darat ini : Kabau Padati. Artinya pedati yang ditarik dengan kerbau.

Foto koleksi KITLV tahun 1930 diatas memberi gambaran tentang truk jadul itu. Terlihat iring-iringan pedati sedang berhenti. Mungkin sedang mengaso untuk mengambil napas. Karena sepertinya jalan yang sedang dilewati menanjak. Para "sopir" pedati alias kusir juga mengaso. Mungkin sambil menggulung rokok daun nipah. Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk di pinggir jalan.

Lihatlah pedatinya. Atapnya tidak melupakan arsitektur khas minangkabau. Bagonjong. Bahan penutupnya ijuk. Roda pedatinya jauh lebih besar daripada roda bendi. Hampir setinggi sang kusir yang sedang berdiri. Mungkin diameter roda berpengaruh terhadapkapasitas muatan atau meringankan daya tarik sang kerbau atau bagaimana, perlu masukan dari ahli fisika disini. Yang jelas ukuran roda ini pastilah sudah merupakan kesimpulan dari pengalaman empiris dari para pembuat pedati masa itu.

Kaki kerbau penarik pedati kelihatan lebih besar dari kaki kerbau biasa. Apakah mereka spesies tertentu? Oho, tidak. Mereka sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Tapi mereka mendapat "kehormatan" untuk memakai sepatu. Namanya Sipatu Kabau alias Sepatu Kerbau. Nama yang jujur...:). Bahannya biasanya yang empuk seperti karet bekas dengan pengikat yang dililitkan ke sekeliling kaki. Makanya si kaki kelihatan lebih besar. Gunanya pasti untuk membuat kaki kerbau merasa nyaman dalam perjalanan. Maklumlah kondisi jalan pada waktu itu penuh dengan onak dan duri...(ala sastrawan..).

Bercerita tentang sipatu kabau ini, ibu saya almarhumah dulu  tertawa terkekeh-kekeh melihat saya pertama kali pulang dengan memakai sendal gunung. Padahal sepatu model begitu lagi tren di kalangan mahasiswa waktu itu. Saya jadi bingung. Lalu beliau berkomentar sambil terus tergelak,"Jaman dulu hanya kabau yang pakai sepatu model kayak gini..." Walah. Rupanya alas karet dengan tali-tali menyilang itu mengingatkan ibu saya dengan sipatu kabau...! No offense untuk pembuat sandal gunung :) Piss.

Kembali ke pedati. Waktu saya kecil tahun 80an awal, masih bertemu dengan iring-iringan pedati seperti di foto. Dari kejauhan kita sudah bisa mendengar bunyi ganto (genta) yang dikalungkan di leher kerbau. Terbuat dari kuningan, ganto berdentang-dentang seiring langkah sang kerbau. Tapi lama-kelamaan dengan kehadiran truk, jasa pedati terpinggirkan. Tentu karena faktor kecepatan dan kapasitas angkut yang tidak sepadan.

Pedati kalau berjalan memang selalu beriringan begitu. Istilah sekarangnya konvoi. Dulunya tentu demi keamanan di dalam perjalanan. Sebab mengangkut barang jaman itu, apalagi di malam hari,  rawan terhadap perampokan di jalan. Karena itu biasanya kusir pedati juga memiliki kemampuan beladiri. Atau paling tidak di dalam konvoi tersebut ada yang ahli beladiri. Sehingga jika terjadi pembegalan, mereka tidak mati konyol.

Uniknya, tidak seperti truk, kabau padati tetap berjalan meskipun sang kusir tertidur dimalam hari. Terutama pada waktu pulang. Sepertinya si kerbau sudah punya koordinat rumah di kepalanya sehingga tidak perlu diarahkan lagi. Jadi di tengah malam yang sunyi hanya terdengar derap langkah kerbau, derak roda pedati, bunyi ganto dan karuah (dengkur) si kusir....

Rabu, 16 Januari 2013

Sembat Sungai Tanang (1915)


Sungai Tanang. Mungkin sebagian dari kita mengenalnya dari suara Cik Uniang Elly Kasim. Babendi-bendi ka Sungai Tanang....aduhai sayang....singgahlah mamatiak bungo lambayuang....Tapi dimanakah tepatnya nagari yang dijadikan lagu itu?

Clue-nya ada di lagu ini : Janiah aianyo Sungai Tanang, minuman urang Bukiktinggi....Nah, ketahuan. Kalau airnya diminum orang Bukittinggi, artinya Sungai Tanang ada di Bukittinggi atau dekat-dekat situlah.

Seratus! Sungai Tanang berada di hinterland Bukittinggi, tepatnya di kecamatan (dahulu Kelarasan)  Banuhampu, Agam. Kalau kita dari arah Padang menuju Bukittinggi, sampai di Simpang Padang Luar kita berbelok ke kiri -arah Maninjau- kira-kira 1 km. Sampailah sudah di nagari Sungai Tanang. Tepat di kaki Gunung Singgalang.

Untuk mengetahui betapa tanang dan janiah-nya air di Sungai Tanang, lihatlah foto koleksi KITLV bertahun 1915 diatas. Pepohonan sampai membayang di permukaan air yang tenang dan tidak beriak. Terbayang betapa beningnya. Dan sejuknya (baca: dingin). Brrrr.....

Perkara kata-kata minuman urang Bukiktinggi, sampai sekarang air dari Sungai Tanang memang masih menjadi sumber utama PDAM Kota Bukittinggi. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Bukittinggi, maka kebutuhan air bersih makin meningkat. Artinya pasokan air dari Sungai Tanang juga mesti ditingkatkan. Maka muncul istilah di masyarakat sekitar Sungai Tanang bahwa lah kariang banda sajak aia dibaok ka Bukiktinggi. Perkara kebenarannya tidak pernah ada penjelasan resmi dari pihak yang berkompeten tentang hal ini.

Oke. Itu soal Sungai Tanang. Terus di judul ada kata Sembat. Apa itu? Sembat adalah ucapan orang-orang dulu untuk menyebut bahasa Belanda zweembad. Artinya kolam renang. Bahasa lokalnya adalah pemandian.

Foto diatas adalah foto pemandian Sungai Tanang yang sangat terkenal dari jaman Belanda sampai kira-kira awal 80-an. Waktu itu sangatlah ramai pemandian ini, terutama di akhir pekan. Sayang sekarang tidak terdengar kabarnya lagi. Ambo terakhir kesana pada tahun 90-an sudah tidak terawat. Sayang sungguh sayang.....:(

Kamis, 06 September 2012

Pelaminan (1913)


Masih berkaitan dengan posting terdahulu (baca : Baralek), sekarang coba kita intip ke dalam rumah orang baralek. Meskipun bukan berasal dari rangkaian foto yang sama, tapi setidaknya kita bisa mendapat gambaran bagaimana cara orang Minang 100 tahun yang lalu menghias interior rumahnya waktu baralek.

Foto ini berasal dari kota Bukittinggi pada tahun 1913. Memperlihatkan pelaminan penganten. Berbeda dengan sekarang yang memakai kursi, jaman itu pelaminan berupa kasur empuk. Tentunya bukan untuk ditiduri penganten, karena untuk tidur sudah disediakan kamar yang berada tepat di belakang pelaminan ini.

Sekarang kita cermati satu-satu. Diatas pelaminan terdapat 2 buah bantal persegi. Mungkin berfungsi sebagai alas duduk atau bersandar bagi penganten. Di sebelah kanan pelaminan terdapat sebuah ornamen yang dikenal dengan nama Banta Gadang (Bantal Besar). Tidak jelas apakah banta gadang saat itu memang betul-betul dibuat dari bantal yang berukuran gadang atau hanya sekedar nama. Yang jelas pada pelaminan terkini, banta gadang berada di sebelah kanan dan kiri mengapit kursi penganten serta terbuat dari rangka besi yang diselimuti kain bersulam.

Diatas kasur juga tertumpuk 2 baris benda yang sekilas mirip bantal guling kecil. Tapi tidak bulat, melainkan persegi seperti roti. Terus terang ambo tidak bisa mengira-ngira apa itu dan apa kegunaannya.

Beralih kita ke dinding. Sama seperti sekarang, dinding juga dilapis dengan kain bersulam supaya terlihat cantik. Lantai rumah juga dilapis dengan lapiak permadani. Ornamen yang tergantung juga mirip dengan yang ada di pelaminan sekarang, tapi terlihat lebih banyak dan lebih meriah. Satu lagi, lebih rendah. Sehingga ambo bayangkan, jika sang penganten berdiri, maka kepalanya langsung menanduk salah satu ornamen tersebut.

Dibelakang pelaminan, mengintip tempat peraduan sang penganten baru. Terlihat kasur dan 2 buah bantal yang kelihatannya nyaman. Yang patut diperhatikan adalah ukuran pintu kamar yang terlihat kecil dibanding pintu jaman sekarang. Juga ukuran kamarnya yang mini. Begitu masuk kamar langsung sampai di pinggir tempat tidur. Artinya kamar tidur ya untuk tidur. Tidak seperti sekarang. Ada TV, ada lemari besar 3 pintu, ada kamar mandi, washtafel dan lain-lain sehingga kamarnya seluas rumah tipe 54....

(Sumber : Tropen Museum)


Rabu, 05 September 2012

Baralek (1925)


Baralek artinya keramaian. Meskipun dalam pembicaraan sehari-hari kata 'baralek' juga digunakan untuk menunjuk kegiatan keramaian lain, tapi konotasi dominan kata baralek adalah pesta pernikahan. Baralek berarti bersukaria. Baju bagus, kaum keluarga berkumpul, bergembiraria. Haha hihi lah pokoknya.

Seperti di atas, foto orang baralek. Di depan rumah terlihat anak daro dan marapulai serta pengiring penganten. Semua berpakaian bagus. Sebagian tersenyum lebar. Sepertinya cuma anak daro yang berwajah tegang. Mungkin stres memikirkan hari depan. Maklumlah, seperti kecenderungan pada jaman itu, tidak ada istilah pacaran. Pernikahan umumnya adalah karena perjodohan. Jadi maklum saja jika pengantennya agak tegang karena belum kenal betul sama calon suami atau istrinya. Kalau dapat pasangan yang baik alhamdulillah. Tapi kalau tidak? Bisa marasai awak.

Melihat dari model rumahnya, foto bertahun 1925 ini mungkin berasal dari daerah pesisir. Sebab biasanya di daerah Darek, rumah pada saat itu masih berupa rumah gadang. Penampakan rumah di foto ini tidak seperti itu.

Keluarga ini kelihatannya cukup berada. Terlihat dari pakaian mereka yang rapi dan bagus. Apalagi kalau melihat 2 anak perempuan yang berada di latar depan. Seperti anak belanda saja tampaknya. Berbaju putih selutut. Malah yang seorang berkaus kaki dan bersepatu.

Coba perhatikan penganten laki-laki. Bercelana tanggung dan memakai kaos kaki putih panjang seperti pemain bola. Ini tentu diilhami pakaian Eropa pada abad lalu, seperti di film Pirates of The Caribbean. Cuma tidak begitu jelas apakah sepatu yang digunakan memakai hiasan seperti pita, seperti di Eropa.

Pembaca ada yang tahu ini pakaian dari daerah mana?

(Sumber : Tropen Museum)

Selasa, 04 September 2012

Kecelakaan Mobil di Muaro Labuah (1929)



Sejalan dengan pesatnya pertumbuhan jalan di Ranah Minang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 (baca: Perjalanan Berliku Jalan Berkelok), maka kendaraan roda 2 dan roda 4 mulai berseliweran ke seluruh pelosok nagari. Arus barang dan orang semakin lancar. 

Namun demikian, karena teknologi yang masih dominan dengan konstruksi kayu, cuaca tropis yang lembab menyebabkan kayu cepat menjadi lapuk. Akibatnya ya kejeblos.

Ini contohnya. Terjadi pada tanggal 1 Oktober 1929, sebuah mobil tagurajai karena melewati jembatan lapuk di Muaro Labuah, Solok Selatan. Roda depannya masih nyangkut diatas jembatan sementara bagian belakangnya sudah terduduk di dalam sungai. Tepatnya Sungai Rambutan, sebagaimana tertulis dengan tulisan tangan di pojok kiri bawah foto.

Di atas jembatan, berdiri 3 orang. 2 diantaranya berpakaian seragam. Itu pastilah polisi yang mengamankan lokasi tersebut dan datang dengan sebuah motorpit gandeng persis film Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Motorpit-nya parkir dekat orang ketiga yang berbaju putih dan berkopiah. Mungkin penduduk lokal atau pemuka masyarakat.

Mobil ini sepertinya mobil penumpang. Karoseri atau rumah-rumah-nya terbuat dari kayu. Kalau di zoom di dindingnya terbaca "SINARLAJANG P.ARO L.B.G.D". Karena belum ada EYD saat itu, maka tulisan dan singkatan yang ditulis di dinding itu tidak konsisten dalam penempatan tanda baca, khususnya spasi dan titik. Kalau dibaca sekarang tentu menjadi "Sinar Layang P. Aro Lb. Gd". Maksudnya Padang Aro Lubuak Gadang, nama daerah di Solok Selatan. Sinar Layang mungkin nama perusahaan oto-nya.

Selanjutnya di bawah tulisan itu tertulis "CYLINDER". Entah apa maksudnya ini. Merk mobil atau apa. Sementara di pintunya tertera "18 PERS EGW 1427 KG". Kita bisa mengira-ngira maksudnya mungkin berat kendaraan itu adalah 1427 Kg. Tapi apa iya seperti itu. Mungkin ada pembaca yang bisa memberi pencerahan :).

Disebelahnya ada lambang bulan bintang. Apakah ini bisa diartikan bahwa mobil ini milik orang Minang yang notabene beragama Islam? Bisa jadi. Apalagi kalau melihat namanya yang melayu banget. Sinar Layang.

Yang unik adalah apa yang tertulis di kaca depan. Dibagian kiri dan kanan atas kaca depan tertulis "HUUR AUTO". Artinya adalah "mobil". Kenapa sudah jelas mobil masih ditulis lagi "mobil" di kaca depannya? Mungkin saat itu belum banyak yang tahu nama makhluk beroda ini adalah "mobil"...

Sumber :KITLV

Kronik PRRI (Bagian 9: Menyerah dan Kalah) - HABIS

Sebelumnya di Bagian 8: Perselisihan Internal dan Kontak Eksternal  14 April 1961: Kawilarang Menyerah  Sebuah kabar datang dari Sulawesi: ...