Minggu, 07 April 2013

Tambang Emas Salido (1669 - 1928)


Saat ini sedang heboh-hebohnya soal illegal mining emas di Solok Selatan, yang konon menghasilkan 60 kg emas perhari (!). Dikabarkan bahwa ada  sekitar 300 eksavator yang mengeruk sepanjang Sungai Batang Hari yang melalui kabupaten tersebut. Konon lagi, penggantian Kapolda Sumbar beberapa waktu lalu juga terkait dengan soal emas ini. Tapi bagi ambo agak lucu juga kalau eksavator yang berjumlah ratusan itu disebut illegal. Karena yang illegal itu biasanya kan sembunyi-sembunyi. Nah, sekarang bagaimana caranya eksavator bekerja secara sembunyi-sembunyi? Mau datang lewat mana dia? Diantar pakai helikopter? BBM-nya beli dimana? Naik helikopter juga? welehweleh...

Ya, kita hentikan saja pembicaraan soal Solok Selatan. Pihak yang berwenang sedang mengurusnya.  Yang jelas kasus ini mengingatkan ambo kepada tambang emas yang konon tertua di Indonesia, yaitu tambang emas Salido di dekat Painan.

Sebenarnya kemasyhuran pulau Sumatera sebagai Swarna Dwipa atau Pulau Emas sudah lama terdengar oleh bangsa Eropa melalui cerita-cerita para pelaut dari Timur. Konon para raja yang berkuasa di Swarna Dwipa menggunakan emas selain untuk alat tukar juga untuk menghias istana. Bahkan untuk melempari ikan di kolam di kerajaan Dharmasraya sang raja menggunakan batangan-batangan emas. Begitulah saking kayanya dengan emas. Sementara daerah yang dianggap sebagai biang emas adalah daerah di sepanjang aliran sungai ke Samudra  Hindia yang berhulu di Bukit Barisan.

Salah satu negeri yang tercatat dalam catatan bangsa Eropa memiliki tambang emas itu adalah Salido.  Dalam catatan kolonial disebut Salida. Berasal dari bahasa Portugis yang berarti Jalan Keluar. Memang Salida adalah pintu gerbang (atau jalan keluar) bagi bangsa Eropa untuk keluar dan masuk ke pulau Sumatera dari  Loji/Benteng mereka yang berlokasi di Pulau Cingkuak. Pulau Cingkuak sendiri posisinya tepat berada di depan Salido. Nama Salida mulai populer ketika VOC mendapat konsesi untuk berdagang di pantai barat Sumatera melalui Perjanjian Painan pada Mei 1662.

Tambang emas Salido sebenarnya sudah ditambang secara tradisional oleh masyarakat. VOC baru mengeksplorasinya pada tahun 1669 dengan mendatangkan 2 ahli pertambangan yaitu Nicolaas Frederich Fisher dan Johan de Graf. Hasil penelitian keduanya melaporkan bahwa tambang itu layak untuk dieksploitasi. Karena itu didatangkanlah budak-budak dari Madagaskar serta tawanan perang untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang disana.

Pada bulan Juli tahun 1679 sampailah di Salido seorang insinyur baru yang bernama Johann Wilhelm Vogel asal Jerman. Rupanya ia seorang yang rajin mencatat. Beberapa tahun kemudian ia membuat buku tentang pengalamannya bekerja di tambang Salido. Sketsa dibawah dibuat berdasarkan catatannya pada tahun 1685.(click untuk memperbesar)


Dari sketsa terlihat bahwa tambang emas Salido berbeda dengan tambang emas illegal mining-nya Solok Selatan. Kalau di Solok Selatan emasnya berada di dalam batang air sehingga perlu dikeruk dengan eksavator, maka di Salido emasnya berada di perut bukit. Sehingga perlu dibuat lubang seperti tikus untuk menambangnya. Ke dalam lubang tikus itulah para pekerja bekerja. Bisa dibayangkan menyuruk ke dalam tanah dengan teknologi abad ke-17, tentulah sangat beresiko tinggi. Tak ayal tingkat kematian buruh tambang disini juga tergolong tinggi.

Barak pekerja terlihat berada di pintu masuk lubang tambang, baik di kaki bukit maupun di atas bukit. Yang di atas bukit dihiasi dengan bendera triwarna. Sedangkan di pinggang bukit terdapat sebuah bangunan yang ditulis sebagai "Laboratorium". Tidak dijelaskan apa kegunaan laboratorium itu.

Tambang ini sempat buka-tutup beberapa kali karena merugi. Manajemennya pun bergantiganti. Namun menurut studi yang dilakukan oleh R.J. Verbeek yang pernah menulis beberapa buku tentang Tambang Salido, antara 1669-1735 sudah 800 ton bijih emas yang dihasilkan Tambang Salido, dengan nilai f 1 200 000 atau rata-rata f 1 500 per ton.

Akhirnya pada tahun 1928, tambang ini resmi ditutup (kembali) karena bangkrut. Meskipun di dalam perut bukitnya masih terkandung emas. Namun biaya eksploitasinya tidak sebanding dengan hasilnya. Sisa-sisa emas inilah yang ditambang oleh masyarakat sampai sekarang. Tapi hasilnya sungguh berbeda jauh dengan yang di Solok Selatan...

Sebagai kenang-kenangan, dua orang "Toean" berpose di depan lubang tambang Salido yang diberi nama lubang Prinse (Pangeran) pada 14 Agustus 1914. Kalau di dalam sketsa-nya Vogel diatas, lubang ini adalah lubang yang berada di kaki bukit. Saat foto ini diambil, manajemen tambang sedang giat-giatnya melakukan upaya penyelamatan tambang dari kebangkrutan. Walaupun akhirnya gagal juga.

Dengan teknologi modern sekarang, mungkinkan Swarna Dwipa dihidupkan kembali?



(Sumber: http://niadilova.blogdetik.com; adlenaline.wordpress.com; kitlv)

Jumat, 22 Maret 2013

Sekolah Pastor di Taluak? (1910)


Beberapa hari setelah ambo memosting tentang sebuah surau yang berbentuk agak "ganjia" di nagari Taluak -pinggiran kota Bukittinggi- (lihat disini), salah seorang kakak laki-laki ambo menginformasikan bahwa dirinya juga menemukan bangunan yang juga "ganjia" saat browsing-browsing. Lokasinya? Masih di Taluak.

Bangunan di atas jika dilihat dengan perspektif sekarang tidaklah aneh. Semenjak pak Harun Zain jadi gubernur dengan slogan mengembalikan harga diri urang awak setelah peristiwa PRRI saisuak, atap berbentuk gonjong wajib menjadi penutup bagian atas bagi semua bangunan pemerintah di Ranah Minang. Menurut beliau untuk menunjukkan identitas ke-Minang-an. Jadi apapun mode bangunannya, atapnya harus bagonjong.

Tapi lain halnya dengan perspektif masa itu. Rumah bagonjong adalah rumah tradisional. Dindingnya kalau tidak terbuat dari tadia (anyaman bambu) ya dari papan berukir. Tidaklah lazim bangunan "modern" beratapkan gonjong. Modern disini maksudnya adalah rumah batu atau berbahan baku adukan semen.

Tapi lihatlah foto diatas. Sebuah rumah batu berwarna putih beratap gonjong berdiri kokoh tinggi menjulang diantara jejeran rumah berbahan "tradisional". Arsitekturnya juga ke-belanda-belandaan. Terlihat juga bahwa rumah ini berada di tengah kampung, tidak terpencil. Banyak tetangganya. Apalagi di sebelahnya ada kolam yang cukup luas. Bisa jadi berisi ikan gurami, mujair atau paweh.

Arsitektur yang cukup berani pada masanya. Akan lebih berani lagi jika kita baca caption foto yang dipajang oleh Tropen Museum: Priesterschool Taloeg bij Fort de Kock. Sekolah pastor Taluak dekat Fort de Kock. Tahunnya antara 1910-1930,  tanpa tambahan keterangan lain.

Pertanyaan langsung mengawang dalam pikiran. Benarkah di Taluak pernah ada sekolah pastor? Kalau benar ada, kok bisa? Karena takut dengan Belanda atau karena ada alasan lain? Atau ada Taluak lain di dekat kota Bukittinggi? Atau....

Sekelebat imajinasi liar mengisi kepala kakak laki-laki ambo tadi. Jangan-jangan bangunan Surau Ngarai yang unik itu dihadiahkan oleh Belanda sebagai imbalan kepada penduduk nagari Taluak karena telah bersedia "menerima" pendirian lokasi sekolah pastor ini di nagari mereka........

Jika ditelisik lebih dalam bisa saja hal itu terjadi. Pertama, kedua bangunan itu -baik surau maupun sekolah pastor- bercorak arsitektur yang tidak umum terdapat di dalam sebuah kampung di Ranah Minang pada masanya. Kedua, masa foto ini diambil hampir bersamaan. Seolah ada hubungan antara mereka. Foto Surau Ngarai bertahun 1900-1925 sedangkan foto Sekolah Pastor bertahun 1910-1930.

Mungkinkah? Entahlah. Tapi yang jelas sebenarnya masih ada satu bangunan "ganjia" lagi di dalam foto ini. Lihatlah kesebelah kanan foto. Ada bangunan bulat berwarna putih, beratap gelap meruncing keatas dengan jendela atau motif lengkung-lengkung. Apa itu? Sekali lagi, entahlah. Mudah-mudahan saja masih ada foto berikutnya dari Taluak.....

(Sumber : Tropen Museum)

Senin, 18 Maret 2013

"Bintang-bintang" Greveplein (1931)


Foto di atas berasal dari koleksi Tropen Museum bertahun 1931. Dalam foto terlihat 2 buah bangunan yang merupakan icon dari suatu kawasan yang bernama Greveplein di kota Padang. Namun perjalanan waktu yang membuat nasib kedua "bintang" itu menjadi berbeda.

Begini ceritanya.

Greveplein. Artinya Lapangan Greve. Lokasinya ada di daerah Muaro - Padang sekarang. Di pinggiran Batang Arau.

Di kawasan Greveplein terdapat sebuah monumen berwarna putih yang berbentuk lengkung diatasnya, sepintas seperti jam antik. Adapun tulisan yang tertera di atasnya serta ukurannya belum dapat ambo peroleh sampai saat ini. Namun jika dibandingkan dengan postur orang yang berjalan di dalam foto, monumen ini kelihatan besar. Tetapi itu bisa juga disebabkan oleh efek sudut pengambilan foto dan jarak antara Mat Kodak dengan objek. Namun demikian dengan mengamati foto diatas ambo meyakini bahwa monumen ini cukup besar. 

Monumen ini bernama Monumen De Greve. Didirikan untuk mengenang Ir. W. H. De Greve, seorang insinyur tambang yang hasil penelitiannya pada 1867-1868 meyakinkan pemerintah kolonial bahwa tambang batubara di Ombilin sangat-sangat-sangat feasible untuk dieksploitasi. Dan hal itu memang terbukti sampai sekarang. Sayang, sang insinyur muda meninggal karena kecelakaan terseret arus Batang Kuantan pada saat ia melakukan penelitian lanjutan. Untuk mengenang jasa-jasanya, monumen dan taman atau lapangan ini didedikasikan seturut namanya. Monumen De Greve dan Greveplein.

Sekarang bangunan di depannya. Itu adalah kantor De Javasche Bank. Kantor ini dibangun sejak 31 Maret 1921 dan ditempati pada tahun 1925. Meskipun sebenarnya diskusi tentang pembangunan kantor ini sudah berlangsung sejak tahun 1912, sebagai rencana pengganti kantor lama di kawasan Nipaaland (Jalan Nipah sekarang) yang sudah ditempati sejak tahun 1864. Konon, berlarut-larutnya rencana pembangunan ini karena pemerintah kota enggan untuk menngeluarkan izin karena kawasan Greveplein sejatinya ditujukan untuk kawasan pelabuhan sungai dan laut, bukan perkantoran. Wah, jaman itu Masterplan kota dijaga begitu ketat rupanya.

Apapun itu, bangunan yang dirancang oleh Biro Arsitek  Hulswitt - Fermont - Cuypers Architechten & Engineeren akhirnya terwujud juga. Berkantorlah De Javasche Bank Padang di sana sejak itu. Pada 1 Juli 1953, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia, sehingga gedung ini menjadi kantor Bank Indonesia Padang sampai tahun 1977. Setelah Bank Indonesia Padang menempati kantor barunya di Jalan Sudirman, gedung ini sempat dimanfaatkan oleh Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat atau yang dikenal sekarang sebagai Bank Nagari selama beberapa tahun.  Sempat tak berpenghuni selama beberapa lama, pada saat ini gedung ini dijadikan museum oleh Bank Indonesia dan terawat dengan baik.

Akhirul kalam, itulah kisah 2 bintang Greveplein dengan nasib yang bertolak belakang. Monumen De Greve dan Greveplein hilang dalam gelora revolusi. Bahkan Greveplein sekarang sebagiannya terletak di tapak sebuah jembatan yang melintas Batang Arau, yaitu jembatan Siti Nurbaya. Sebagian lain berada di kolong jembatan itu.  Sementara di sisi lain, Gedung De Javasche Bank tetap terjaga karena kepedulian sekelompok anak bangsa, dalam hal ini adalah Bank Indonesia.

Sumber : Tropen Museum; redseahawk.blogspot.com; wikipedia


Sabtu, 16 Maret 2013

Mesjid Kontemporer - Surau Ngarai (1925)


Ada di antara pembaca yang bisa memberi informasi tentang  mesjid ini?

Ambo menemukannya secara tak sengaja dalam sebuah situs forum arsitektur yang membahas tentang bangunan kolonial Belanda di seluruh dunia. Namun tak ada informasi di situ karena yang dipentingkan forum itu hanyalah penampakan gedung. Yang ada hanya foto. Maklumlah, forum itu adalah forumnya peminat arsitektur.

Untunglah forum itu juga memberikan link-back ke sumber aslinya. Ternyata foto itu adalah koleksi Tropen Museum. Museum langganan kita :). Tapi setelah ambo telusuri ke sana, informasi yang tersedia hanyalah Moskee in Taloek bij Fort de Kock yang artinya Mesjid di Taluak dekat Fort de Kock. Tahun yang tertulis juga hanya 1900 - 1925. Pemotretnya juga tidak diketahui. That's all.

Hmmm. Taluak, ya? Sepengetahuan ambo Mesjid Taluak yang paling nge-top sejauh ini adalah mesjid nagari yang sudah pernah kita bahas sebelumnya.(Lihat disini). Tapi yang ini memang benar-benar baru bagi ambo.

Dari arsitekturnya, terlihat dominasi arsitektur kolonial dengan pola lengkung dan langit-langit tinggi. Terasnya juga senada. Pemilihan warna juga khas kolonial. Sampai disini bangunan ini bisa merupakan bangunan apa saja. Rumah pejabat Belanda, kantor gubernemen, bahkan sebuah gereja (!). Tapi lihatlah dibelakang bangunan itu. Mencogok 3 buah kubah. 1 besar dan 2 kecil mengapitnya. Menandakan bangunan ini berfungsi sebagai sebuah mesjid. Sepintas kubahnya mirip dengan kubah Mesjid Kutaraja di Banda Aceh sana. Sebuah kombinasi yang unik untuk sebuah bangunan mesjid.

Yang jelas adalah bahwa mesjid ini terletak di dalam kampuang. Lihatlah di sekelilingnya. Rimbunan bambu dan pohon-pohon besar yang menaungi jalan tanah persis di sebelah mesjid. Ada juga orang yang lagi duduk menjuntai kaki di teras mesjid. Tandanya mesjid ini memang benar-benar dipakai dan tidak hanya sekedar simbol atau monumen.

Entah mengapa, hati ambo berbisik bahwa bangunan ini adalah hasil karya seorang arsitek Belanda atau paling tidak anak nagari Taluak yang pernah mengenyam pendidikan Belanda. Ambo membayangkan perdebatan dan pergumulan pemikiran yang terjadi untuk membuat mesjid dengan bentuk seperti ini terwujud .

Perlu keberanian besar bagi si arsitek untuk mendesain sebuah mesjid dengan model Belanda yang notabene dicap sebagai urang kapia pada saat itu. Perlu keberanian besar juga bagi anak nagari untuk menerima mesjid dengan model demikian berada di nagarinya. Mengingat disain umum untuk mesjid di Ranah Minang pada waktu itu adalah limas bersusun tiga.

Bagaimana, pembaca?

Catatan : Kata-kata "Surau Ngarai" pada judul ambo tambahkan setelah membaca komen dari uda Sazli dan uni Murni di bawah. Hal ini dimaksudkan agar nama tersebut dapat ter-indeks oleh Google.

Jumat, 25 Januari 2013

Gunung Padang dan Taplau (1891)


Tergelitik oleh pertanyaan salah seorang pembaca blog ini beberapa waktu yang lalu tentang apakah Gunuang Padang dulunya segaris dengan pantai Padang, ambo mencoba browsing-browsing untuk mencari jawaban. Jawabannya: Tidak. Setidaknya sampai pada saat foto diatas diambil, tahun 1891. Entahlah kalau ribuan tahun yang lalu. Dalam foto diatas, Gunuang Padang masih mengambil posisi di depan dibandingkan garis pantai alias Taplau. Tapi Lauik - sebutan gaol anak muda Padang untuk menyebut pantai.

Namun demikian, perbedaan yang terlihat dengan kondisi sekarang adalah kelandaian garis pantai.  Melihat pantai Padang tahun 1891 ini, terbayang-bayang pantai di Bali yang nyaman untuk tidur-tiduran dan main pasir. Kondisi itu tidak ditemukan lagi sekarang. Pantainya curam, pasirnya sedikit dan berbahaya akibat abrasi. Malah di sepanjang pantai sekarang dipasang tumpukan batu-batu gunung sebesar truk untuk pemecah hempasan gelombang Samudera Indonesia yang memang terkenal ganas. Sejajar dan tegak lurus garis pantai. Jadi jauuuuuh lah bentuk pantai sekarang dari foto diatas.

Dalam browsing-browsing ambo, ada sebuah foto lain yang menarik. Ini dia.


Foto ini dikodak oleh Jean Demmeni tahin 1910. Apa menariknya? Ternyata pantai Padang yang di dekat muara sungai Batang Arau sudah di buat dinding pemecah gelombang dari beton oleh Ulando. Rapi seperti di lokasi Banda Bakali atau Banjir Kanal sekarang. Terlihat nyaman untuk tempat bersantai. Kalau di zoom akan terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk menghadap ke laut. Mungkin menikmati sunset :). Ternyata jaman itu pun sudah disadari bahwa garis pantai bisa habis dimakan gelombang. Makanya dibuat dinding beton.

Dinding ini sudah tidak ada sekarang. Bahkan cerita tentangnya tidak pernah terdengar. Setidaknya oleh ambo. Sebab itu foto ini jadi menarik. Mungkin dinding ini sudah terkubur di dasar samudera akibat hantaman ombak. Atau gempa gadang? Entah.

Di bagian kanan foto, di kaki Gunuang Padang terdapat warna keputihan. Kalau di zoom dari sumber aslinya akan kelihatan bahwa itu adalah sebuah bangunan bergaya kolonial dengan tangga yang diberi atap dari arah laut. Artinya disana ada dermaga kecil untuk aktivitas turun naik perahu. Bangunan apa dan milik siapa ambo belum menemukan informasinya. Tapi bagi yang suka memancing dengan perahu atau naik kapal kayu ke Mentawai dari dermaga Muaro akan melihat reruntuhan bangunan ini yang sudah tenggelam dalam semak belukar. Tangganya sudah tidak ada. Hanya sisa-sisa bangunannya. 

Mungkin ada pembaca yang tertarik mengunjunginya?

Sumber : geheugenvannederland.nl; kitlv.nl

Senin, 21 Januari 2013

Truk Jadul (1930)


Kalau sekarang angkutan barang menggunakan truk, maka jaman lamo menggunakan moda transportasi darat ini : Kabau Padati. Artinya pedati yang ditarik dengan kerbau.

Foto koleksi KITLV tahun 1930 diatas memberi gambaran tentang truk jadul itu. Terlihat iring-iringan pedati sedang berhenti. Mungkin sedang mengaso untuk mengambil napas. Karena sepertinya jalan yang sedang dilewati menanjak. Para "sopir" pedati alias kusir juga mengaso. Mungkin sambil menggulung rokok daun nipah. Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk di pinggir jalan.

Lihatlah pedatinya. Atapnya tidak melupakan arsitektur khas minangkabau. Bagonjong. Bahan penutupnya ijuk. Roda pedatinya jauh lebih besar daripada roda bendi. Hampir setinggi sang kusir yang sedang berdiri. Mungkin diameter roda berpengaruh terhadapkapasitas muatan atau meringankan daya tarik sang kerbau atau bagaimana, perlu masukan dari ahli fisika disini. Yang jelas ukuran roda ini pastilah sudah merupakan kesimpulan dari pengalaman empiris dari para pembuat pedati masa itu.

Kaki kerbau penarik pedati kelihatan lebih besar dari kaki kerbau biasa. Apakah mereka spesies tertentu? Oho, tidak. Mereka sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Tapi mereka mendapat "kehormatan" untuk memakai sepatu. Namanya Sipatu Kabau alias Sepatu Kerbau. Nama yang jujur...:). Bahannya biasanya yang empuk seperti karet bekas dengan pengikat yang dililitkan ke sekeliling kaki. Makanya si kaki kelihatan lebih besar. Gunanya pasti untuk membuat kaki kerbau merasa nyaman dalam perjalanan. Maklumlah kondisi jalan pada waktu itu penuh dengan onak dan duri...(ala sastrawan..).

Bercerita tentang sipatu kabau ini, ibu saya almarhumah dulu  tertawa terkekeh-kekeh melihat saya pertama kali pulang dengan memakai sendal gunung. Padahal sepatu model begitu lagi tren di kalangan mahasiswa waktu itu. Saya jadi bingung. Lalu beliau berkomentar sambil terus tergelak,"Jaman dulu hanya kabau yang pakai sepatu model kayak gini..." Walah. Rupanya alas karet dengan tali-tali menyilang itu mengingatkan ibu saya dengan sipatu kabau...! No offense untuk pembuat sandal gunung :) Piss.

Kembali ke pedati. Waktu saya kecil tahun 80an awal, masih bertemu dengan iring-iringan pedati seperti di foto. Dari kejauhan kita sudah bisa mendengar bunyi ganto (genta) yang dikalungkan di leher kerbau. Terbuat dari kuningan, ganto berdentang-dentang seiring langkah sang kerbau. Tapi lama-kelamaan dengan kehadiran truk, jasa pedati terpinggirkan. Tentu karena faktor kecepatan dan kapasitas angkut yang tidak sepadan.

Pedati kalau berjalan memang selalu beriringan begitu. Istilah sekarangnya konvoi. Dulunya tentu demi keamanan di dalam perjalanan. Sebab mengangkut barang jaman itu, apalagi di malam hari,  rawan terhadap perampokan di jalan. Karena itu biasanya kusir pedati juga memiliki kemampuan beladiri. Atau paling tidak di dalam konvoi tersebut ada yang ahli beladiri. Sehingga jika terjadi pembegalan, mereka tidak mati konyol.

Uniknya, tidak seperti truk, kabau padati tetap berjalan meskipun sang kusir tertidur dimalam hari. Terutama pada waktu pulang. Sepertinya si kerbau sudah punya koordinat rumah di kepalanya sehingga tidak perlu diarahkan lagi. Jadi di tengah malam yang sunyi hanya terdengar derap langkah kerbau, derak roda pedati, bunyi ganto dan karuah (dengkur) si kusir....

Rabu, 16 Januari 2013

Sembat Sungai Tanang (1915)


Sungai Tanang. Mungkin sebagian dari kita mengenalnya dari suara Cik Uniang Elly Kasim. Babendi-bendi ka Sungai Tanang....aduhai sayang....singgahlah mamatiak bungo lambayuang....Tapi dimanakah tepatnya nagari yang dijadikan lagu itu?

Clue-nya ada di lagu ini : Janiah aianyo Sungai Tanang, minuman urang Bukiktinggi....Nah, ketahuan. Kalau airnya diminum orang Bukittinggi, artinya Sungai Tanang ada di Bukittinggi atau dekat-dekat situlah.

Seratus! Sungai Tanang berada di hinterland Bukittinggi, tepatnya di kecamatan (dahulu Kelarasan)  Banuhampu, Agam. Kalau kita dari arah Padang menuju Bukittinggi, sampai di Simpang Padang Luar kita berbelok ke kiri -arah Maninjau- kira-kira 1 km. Sampailah sudah di nagari Sungai Tanang. Tepat di kaki Gunung Singgalang.

Untuk mengetahui betapa tanang dan janiah-nya air di Sungai Tanang, lihatlah foto koleksi KITLV bertahun 1915 diatas. Pepohonan sampai membayang di permukaan air yang tenang dan tidak beriak. Terbayang betapa beningnya. Dan sejuknya (baca: dingin). Brrrr.....

Perkara kata-kata minuman urang Bukiktinggi, sampai sekarang air dari Sungai Tanang memang masih menjadi sumber utama PDAM Kota Bukittinggi. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Bukittinggi, maka kebutuhan air bersih makin meningkat. Artinya pasokan air dari Sungai Tanang juga mesti ditingkatkan. Maka muncul istilah di masyarakat sekitar Sungai Tanang bahwa lah kariang banda sajak aia dibaok ka Bukiktinggi. Perkara kebenarannya tidak pernah ada penjelasan resmi dari pihak yang berkompeten tentang hal ini.

Oke. Itu soal Sungai Tanang. Terus di judul ada kata Sembat. Apa itu? Sembat adalah ucapan orang-orang dulu untuk menyebut bahasa Belanda zweembad. Artinya kolam renang. Bahasa lokalnya adalah pemandian.

Foto diatas adalah foto pemandian Sungai Tanang yang sangat terkenal dari jaman Belanda sampai kira-kira awal 80-an. Waktu itu sangatlah ramai pemandian ini, terutama di akhir pekan. Sayang sekarang tidak terdengar kabarnya lagi. Ambo terakhir kesana pada tahun 90-an sudah tidak terawat. Sayang sungguh sayang.....:(

Kronik PRRI (Bagian 9: Menyerah dan Kalah) - HABIS

Sebelumnya di Bagian 8: Perselisihan Internal dan Kontak Eksternal  14 April 1961: Kawilarang Menyerah  Sebuah kabar datang dari Sulawesi: ...