Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 21 Juni 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian V (HABIS)

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Terakhir dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Keempat silakan
klik disini)
Kami tinggal di Fort de Kock sampai tanggal 26 April dan selanjutnya menuju ke Pajacombo lewat Padang Pandjang dan Fort van der Capellen, sehingga mundur dari arah selatan Gunung Merapi. Perjalanan kami tanpa insiden, dan jalan sangat baik, sehingga kereta kuda kami berjalan lancar, meskipun kemiringan jalan sangat tinggi. Kebun kopi sangat luas di lereng pegunungan, sawah dan desa-desa, sejauh mata dapat melihat, tersebar di dataran, dan selalu terlihat situasi monoton yang sama di Pajacombo, tetapi pemandangan selalu terlihat indah di depan mata kami.
Kami berencana berangkat dari Pajacombo pada hari pertama bulan Mei, tetapi kami terpaksa tinggal satu hari lagi. Perjalanan yang ingin kami lakukan orang-orang mengatakannya sulit dan meskipun dengan sedikit kesulitan kami akhirnya mendapat izin untuk memulainya. Kami akan melalui daerah yang belum sepenuhnya tunduk. Daerah-daerah di pantai timur hampir semua independen, dan Belanda tidak ingin memaksakan otoritas mereka dengan kekuatan untuk hasil yang tidak seimbang.
Kami tidak melewati lembah Jambi, ataupun Indragiri berdasarkan penolakan formal atas permintaan kami untuk maju. Kampar dianggap terlalu berbahaya, dan Batavia telah jujur,dengan tidak memberi izin untuk kunjungan ke sebuah wilayah yang kondisi damai-nya hanya berumur beberapa minggu. Akibatnya kami harus memutuskan, langsung ke Taboeg di Batu Gajah Kampar Kiri dan kemudian setelah itu dilanjutkan perjalanan ke Siak. Tetapi Asisten-Residen Pajacombo memberi kami pesan meyakinkan tentang kondisi di Limo Koto sehingga kami memutuskan untuk sekali lagi mengubah jadwal kami.
Pajacombo berada di pinggir Sinamar, anak sungai Ombilien. Jalan yang akan ditempuh akan membawa kami ke pasar Kota Baru, 45 km utara Pajacombo dan terus ke tepi Soengai Mahe, anak sungai Kampars. Dari sana kami naik sampan di Soengai Mahe, dan kemudian berlayar ke Bengkinang Teratak Boeloe dan kemudian pergi lewat darat ke tepi Sungai Siak Pakan Baru dan terakhir sampai Beng Kalis.
Untuk mencapai perjalanan ini tanpa hambatan, kami jelas membutuhkan pemimpin-pemimpin pribumi untuk memperingatkan kedatangan kami, dan juga memberitahukan ke komandan pos Bengkinang. Sayangnya, dan ini cukup sering terjadi, garis telegraf yang menghubungkan Pajacombo dengan Bengkinang rusak sehingga kami dipaksa untuk menunda keberangkatan kami satu hari.
Pajacombo adalah sebuah desa yang sangat besar, terletak di dataran yang cukup lebar, di mana pohon kelapa tumbuh, dan di mana sawah telah dibuat. Meskipun hampir di ketinggian 500 M., iklimnya menyenangkan. Disekitarnya pegunungan yang tinggi dan di lereng Gunung Sago setinggi 2240 M, di tengah-tengah perkebunan kopi, terdapat pasangrahan yang dibangun oleh penduduk desa, dimana udara segar dapat menjadi pengobatan. Perawatan dan pengaturan dilakukan dan dikelola oleh pasangrahan, termasuk di dalamnya kelompok bungalow atau rumah peristirahatan.
Orang Eropa tidak terlalu banyak. Di luar Asisten-Residen ada letnan komandan garnisun kecil, dokter dan dokter hewan. Pemerintah memiliki peternakan pejantan dengan perangkat yang sangat sederhana, di mana tidak ada bangunan mahal didirikan seperti di tempat lain. Seluruhnya hanya membutuhkan biaya 3000 gulden, dengan bangunan dari kayu dan jerami. Ada dua puluh dua kuda-kuda ras yang berbeda, dari pulau Sumba, yang terbesar dan paling terkenal dari Makassar dan kemudian Batak, dipilih dari hewan-hewan terbaik, namun harga rata-rata mereka lebih dari £ 300. Kuda jantan didistribusikan ke distrik yang berbatasan dengan Pajacombo, dan lokasi dipilih sedemikian rupa sehingga pemeriksaan dengan mudah bisa berakhir dalam beberapa hari. Para pemilik kuda menerima suatu keuntungan, yaitu anak kuda muda yang bagus dan terawat dengan baik.
Hanya ada satu orang Eropa, dokter hewan, yang ada di peternakan. Operasional dan staf yang telah ditunjuk, menghabiskan biaya tidak lebih dari £ 800 per bulan. Prasarana ini memiliki hasil yang sangat baik, hanya dalam dua tahun sudah ada sekitar 270 anak kuda yang sangat baik lahir di Pajacombo.
Pasar Pajacombo merupakan salah satu yang tersibuk seluruh Dataran tinggi Padang. Kami membeli beberapa perlengkapan untuk perjalanan. Ini terlihat seperti kerumunan padat orang, kota yang ramai dan riuh. Pajacombo adalah salah satu pos paling diminati di Sumatera. Iklimnya nyaman, sama seperti kecantikan dan kelembutan para wanitanya.
Tanggal 2 Mei pada pukul enam pagi, kami berangkat dari Pajacombo. Di utara dataran ini tertutup oleh sebuah tebing setinggi 1500 M. Beberapa lembah menembus pegunungan dan melalui ke atas pegunungan. Kami telah melewati Lembah Harrau, sebuah celah di antara gunung dinding tegak yang tinggi, di mana air terjun berbusa turun. Hari ini kami pergi menuju lembah Ayer Poetih.
(Gambar : Lembah Harau)
Kami sampai di Loeboek Bengkoeang yang berjarak 12 batu dari Pajacombo (satu batu adalah 1500 M), di mana kami naik di atas punggung kuda dan mulai mendaki jalan curam, sepanjang sisi angin lembah bertiup. Tanah terdiri dari batuan konglomerat tinggi kasar dan curam naik di atas sungai.

Sebuah karpet tanaman yang cukup lebat menutupi lereng dari permukaan sungai ke atas ketinggian. Kami secara perlahan maju di jalan yang telah banyak mendapat curah hujan. Setelah satu jam kami mencapai puncak gunung. Kami melihat ke bawah ke lembah di mana sungai memperoleh air dari lembah Ayer Poetih. Aku telah melakukan kebodohan dimana kudaku tergelincir dan jatuh di lantai jembatan kayu. Kakiku terhimpit di bawah hewan, topiku jatuh bergulung ke kedalaman ngarai, dan aku mendapat memar parah dan sayatan panjang di lengan dan kaki.

Kami berhenti beberapa saat di sebuah gubuk di sisi jalan. Daerah ini disebut Ulu Ayer. Kami berada di ketinggian 950 M., Celah yang akan kami tempuh beberapa ratus meter lagi, dan kami akan segera turun ke Kota Baru di 20 KM dari sini. Dari celah kami lihat bukit yang berurutan, yang secara bertahap menurun, di kejauhan lautan dedaunan, lautan hijau, hijau tua, gelombang luas menyebar lebih jauh dan lebih jauh di cakrawala.

Ini adalah hutan raksasa yang menutupi dataran, di mana kami akan lewat. Kemiringan pegunungan menuju 250 km dari sini, ke Selat Malaka. Kami tetap sejenak di atas. Lanskap ini, kasar dan gelap membuat kesan yang mendalam pada kami. Tidak ada jejak kehadiran atau aktivitas manusia. Tidak ada sepotong tanah yang telah diolah, tidak ada terlihat asap membumbung ke udara. Pepohonan sangat rapat, dengan tanah yang tidak digarap dan tidak diragukan lagi akan berada dalam bayang-bayang bahaya dan ancaman hewan buas. Rasa haus akan petualangan, keinginan dan keinginan untuk pengalaman baru, keinginan untuk hal-hal yang belum diketahui, sebagaimana perasaan semua orang , kenangan cerita masa lalu, mimpi-mimpi, mimpi masa kanak-kanak, semuanya ada di dalam diri dan menantang kami...

(***HABIS***)

(Fakta menarik :
1. Sangat disayangkan tidak ada ulasan tentang Fort van der Cappelen alias Batusangkar. Padahal kota ini dilewati dalam perjalanan Fort de Kock - Padang Panjang - Fort van der Cappelen - Payakumbuh. Kira-kira kenapa ya? Padahal di Batusangkar banyak yang bisa dibahas, terutama sebagai pusat kerajaan Minangkabau di Pagarayung.
2. Daerah-daerah di pantai timur Sumatera belum sepenuhnya ditundukkan Belanda karena dianggap hasilnya tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Belum tau rupanya kalau di sana banyak minyak...:)
3. Sangat sulit untuk mendapat izin perjalanan ke daerah-daerah tersebut. Izin pun harus diperoleh dari Batavia. Rute pun harus berubah-ubah sesuai informasi kondisi keamanan jalan yang akan dilalui.
4. Rencana rute perjalanan selanjutnya adalah Payakumbuh - Koto Baru - Berperahu di Sungai Mahat - Teratak Buluh - Bangkinang - Pekanbaru - Bengkalis
5. Sudah ada jaringan telegraf antara Payakumbuh dan Bangkinang saat itu. Tapi sering putus.
6. Di lereng Gunung Sago terdapat perkebunan kopi dengan bungalow-bungalow peristirahatan di tengahnya, yang disebut pasangrahan.
7. Orang Belanda di Payakumbuh tidak banyak. Hanya ada Asisten Residen, Letnan Komandan Garnisun, Dokter dan Dokter Hewan. Mungkin juga ada beberapa yang lain tapi tidak disebutkan.
8. Payakumbuh sudah menjadi sentra pembibitan kuda. Tercatat ada 22 ras yang dikembangkan dengan pengawasan seorang dokter hewan Belanda! Bayangkan. Dokter orang saja jarang pada saat itu, lahhh ini dokter kuda disediakan. Artinya, kuda sangat berharga...
9. Pembibitan itu berlangsung sukses. Terbukti telah lahir 270 anak kuda ras dalam dua tahun. Well done, tuan dokter kuda!
10. Payakumbuh termasuk pos yang diminati orang Belanda, terutama karena iklim dan kecantikan wanitanya...
11. Hitungan satu batu berarti berjarak 1,5 kilometer.
12. Rimba antara Payakumbuh dan Bangkinang masih perawan, belum terjamah, lebat dan menyeramkan. Berkemungkinan rombongan ini berhenti di lokasi puncak panorama Selat Malaka sekarang, dan memandang sekeliling, hanya ada hamparan pucuk-pucuk pohon hijau pekat bergelombang naik turun sejauh-jauh mata memandang......
13. Sampai disini habis bagian perjalanan di Ranah Minang. Terjemahan ini mestinya diteruskan oleh blogger dari Riau....hehe)

(sumber : gutenberg.org)

Selasa, 14 Juni 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian IV

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Keempat dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Ketiga silakan
klik disini)


Kami membalik untuk menyaksikan untuk terakhir kali pemandangan yang indah ini, angin bertiup kuat, dan kami segera kembali ke Matoea terus ke Fort de Kock. Badai mengancam, dan jalan terjal yang menanjak ke atas Si Anoq. Kami memacu kuda-kuda kami melarikan diri agar terhindar dari hujan.
Pada saat kedatangan kami di Fort de Kock, di hotel kami berjumpa dengan kepala Laras Soengai Poear, atas permintaan salah satu teman kami untuk mempersiapkan dan menyewa pemandu dan porter bagi perjalanan kami ke Merapi .
Keesokan harinya di siang hari kami pergi ke Soengai Poear. Angku Laras mengajak kami makan, masakan harum dibuat dari daging rusa kering dan dibumbui dengan selera yang sesuai.
Salah satu rekan saya dari Fort de Kock tidak jadi berangkat. Ia mendapat luka di kaki, dan tampaknya cukup serius, ia memutuskan untuk tinggal. Jadi kami hanya berdua, dan kami melakukan pendakian selama tiga jam di sore hari itu. Kami berada di ketinggian 1100 M., dan harus menghabiskan malam di sebuah pondok di ketinggian sekitar 2000 M. Awalnya jalan cukup bagus, tetapi segera kami mencapai akhir itu, dan segera menjadi sulit, jalan berbatu, curam, semakin tinggi. Pada jam setengah enam kami akhirnya mencapai tujuan dan kami merasa lelah. Kabut telah menyebar, dan kami melihat di kejauhan, lereng gundul dan lebih rendah, perkebunan kopi, Soengai Poear dan Fort de Kock.
Malam yang dingin berlalu dengan tenang. Untuk waktu yang lama tidak ada yang melewati hutan ini, penuh dengan pakis, tanaman merambat dan berbahaya, penuh juga rumput, yang bermata, dan semak belukar, yang sangat berduri. Di sana-sini jalan setapak menghilang, dan pemandu akan melihat ke belakang, menyelinap, bertiarap di bawah semak-semak dengan parang dan lorong sempit. Alang-alang menyembunyikan lubang tak terduga yang berbahaya, dan setiap kali kaki tenggelam di 'jalan kosong ‘, maka itu akan membuat jungkir balik di rumput basah. Hari belum terang, dan beberapa bintang bersinar. Jika melihat ke belakang, terlihat di belakang kami awan putih polos menggantung.
Akhirnya, setelah setengah jam, kami meninggalkan hutan dan semak belukar. Tidak ada di depan kami selain kemiringan setinggi 200 M, sungai lava hitam yang mengalir, bergerak di bawah kaki kami. Pendakian masih berlanjut, dan kami mencapai dataran tinggi, dikelilingi oleh dinding lagi. Sebuah tingkat kedua naik sedikit lebih jauh, dan ketika kami lihat, sebuah mangkuk dangkal di tengah kawah yang terbuka.

(Gambar : Kawah Gunung Merapi)
Ini adalah lubang hitam dengan diameter 200 sampai 300 M., dengan asap tebal yang tak bersuara. Aku berjalan di sekitarnya. Pinggiran kawah sebelah selatan sedikit lebih tinggi dan lebih tipis, dan meruncing di atas kedalaman yang menganga. Ada tangga sempit, diukir di batu, sangat sempit sehingga tangan seseorang akan basah waktu menaikinya. Pada kedua sisi menguap jurang; asap belerang membuat seseorang tersedak. Aku mundur beberapa langkah, ke tempat yang cukup lebar untuk menempatkan kaki, dan tanah basah lengket. Aku kembali beberapa meter ke bawah dan beristirahat di atas sebuah dataran tinggi yang sempit, dari mana aku bisa melihat panorama yang indah.
Segera hari menjadi pagi. Sebuah secercah pucat muncul seperti surga. Angin membawa awan pergi, dan dataran muncul dari kegelapan. Puncak tinggi, titik tertinggi dari Merapi, di sebelah timur menyembunyikan bagian dari cakrawala dimana matahari bersinar merah. Tampak berwarna ungu bagian atas gunung Singgalang.
Semakin terang, sementara lembah di bawah kami bayangan gelap besar masih melingkupi hutan. Di kejauhan kami melihat laut, gulungan ombak yang tenang. Kami melihat lengkungan pantai, dan garis pasir putih yang indah jelas terlihat sebelum massa hijau tua.
Lembah Anei terbuka, dan sungainya terlihat seperti garis besar busa. Rumah-rumah di Padang Pandjang di tengah-tengah. Danau Sing Kara menunjukkan dirinya di Selatan, dan tebing di tepi kanan disinari oleh matahari cerah, sedangkan yang ke kiri tetap dalam bayang-bayang pegunungan yang curam. Dataran Fort de Kock, dihiasi dengan desa, tersebar di depan kami, dengan sawah dan dihiasi dengan tebing putihnya. Air terjun memantulkan cahaya seperti cermin logam dan aliran lampu terang sekilas. Sebuah rangkaian gunung terlihat, Tandikat, Singgalang yang tipis, pohon-pohon kecil berdiri sekitar kolam kecil, sehingga tampaknya seperti cangkang berbingkai yang memegang danau Manindjoe. Kemudian gunung Ophirberg dan batu kapur dan formasi batuan aneh Pajacombo, dan di Selatan di kejauhan, Indrapoera yang gilang-gemilang dan, lembah besar Korintji.
Adegan ini bukan hal baru bagiku. Aku ingat perjalanan ke Bromo dan kabut putih naik dari kawah raksasa.

(Gambar : Merapi mengingatkanku akan Gunung Bromo)
Tapi kami harus pergi, membenamkan diri lagi dalam kabut. Penurunan bahkan lebih sulit daripada pendakian. Pada tanah yang licin, ditutupi dengan daun basah, terbenam hampir ke lutut. Kami muncul dengan tertutup lumpur di pondok tempat rekanku menunggu. Kami melanjutkan perjalanan ke bawah dengan langkah tidak pasti, kadang-kadang cepat, karena ditarik berat badan sendiri. Akhirnya tiba Soengai Boeloe dimana kereta api akan membawa kami kembali ke Fort de Kock.

(Sumber : gutenberg.org)
(Fakta menarik :
1. Pada waktu itu masih banyak rusa. Buktinya Angku Lareh Sungai Pua menyuguhkan dendeng rusa kepada tamunya. Mungkin juga rendang rusa? Hmmmm.....jadi terbayang harumnya rendang yang sedang dimasak....:)
2. Mereka mulai mendaki Gunung Merapi selepas tengah hari. Selanjutnya menginap di ketinggian 2000 M. Sebelum fajar sudah jalan lagi sehingga sampai di puncak sebelum terang. Berbeda dengan sekarang, para pendaki gunung Merapi naik malam hari dan non-stop sampai di puncak juga menjelang terang.
3. Satu hal lagi yang berbeda dengan pendaki sekarang adalah rute. Mereka naik dan turun dari sisi Sungai Pua, sebuah rute tradisional yang sekarang tidak umum. Rute sekarang adalah dari Koto Baru, di pinggir jalan Padang-Bukittinggi.
4. Jaman itu belum banyak orang yang naik gunung. Terlihat dari jalan yang harus dirintis dulu oleh pemandu lokal. Semak dan rumput tebal setinggi lutut. Belukar yang sudah membentuk lorong. Bahkan ada juga jalan yang 'hilang' dan membuat kaki kejeblos. Untung bukan kejeblos jurang, meneer!
5. Kawah merapi waktu itu berdiameter 200 - 300 m. Sekarang berapa ya?
6. Di sisi kawah ada tangga batu! Buatan siapakah? Penduduk lokal, Belanda, atau ..... alien...???!! *pikiranliar dot com*
7. Dari puncak merapi kelihatan samudera Hindia, lembah Anai, Danau Singkarak, Bukittinggi, Danau Maninjau, Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, Gunung Pasaman (Ophirberg), Payakumbuh, Indrapura dan Kerinci. Luar biasa!
8. Gambar terakhir sepertinya tidak sinkron dengan gunung Merapi. Terlihat seseorang (mungkin penulis) berjongkok sambil merokok dengan latar belakang sebuah gunung yang berasap. Keanehannya adalah jika si penulis memanjat gunung Merapi, maka gunung yang berasap di belakangnya itu gunung apa? Karena di Sumatera Barat gunung yang sering mengeluarkan asap hanya gunung Merapi. Perhatikan juga pakaian dan sepatunya. Kira-kira mungkin tidak orang naik gunung Merapi yang jalannya harus dirintis dulu sampai tiarap-tiarap dengan jas dan sepatu kulit? Rasanya tidak. Melihat lapisan pegunungan di belakangnya, berkemungkinan gambar ini adalah memang di Gunung Bromo Jawa Timur dan ditampilkan hanya sebagai ilustrasi. Karena ke Gunung Bromo orang bisa berkuda sehingga wajar berpakaian begitu.... )
---Untuk meneruskan ke bagian kelima klik disini

Senin, 06 Juni 2011

Anai Mengamuk (1892)

Dunsanak semua,
Karena jadwal yang padat maka minggu ini kegiatan penterjemahan buku Van Batavia Naar Atjeh terpaksa tertunda dulu. Namun untuk menggantinya, ambo akan menampilkan sesuatu yang tidak kalah menariknya.
Sebagaimana dimuat dalam buku tersebut diceritakan bahwa setahun setelah dibuka, rel dan jembatan kereta api yang berada di kawasan lembah Anai rusak dihantam banjir. Foto-fotonya dikatakan begitu "menakutkan bagi tiap insinyur Eropa" (untuk membacanya klik disini). Namun disebutkan juga bahwa perbaikan segera dilakukan dengan biaya 600 ribu gulden.
Nah, ambo coba membongkar arsip Tropen Museum dan menemukan foto-foto ini, yang merupakan foto kerusakan akibat banjir tersebut, dan bertanggal tahun 1892. Silakan dinilai, semenakutkan apa kejadian itu. Bahkan banjir besar di lokasi yang sama tahun lalu mungkin tidaklah sedahsyat ini, karena tidak sampai menghanyutkan jembatan Kereta Api.


(Gambar : Jalan Kereta Api terputus akibat tertimbun tanah longsor)

(Gambar : Jembatan Kereta Api terputus dan "terduduk" di dalam Sungai Batang Anai)

(Gambar : Jembatan Kereta Api bengkok dan lepas akibat dorongan banjir)

(Gambar : Tanah dan bantalan rel Kereta Api hanyut, tinggallah rel besi menggantung)


(Gambar : Rel Kereta Api terdorong dan tergeletak ke dalam sungai)

(Gambar : Pandangan dari sisi lain)


(Gambar : Rel Kereta Api dan tembok penahan tebing setelah diperbaiki. Di dalam sungai masih terlihat sisa-sisa beton dan besi lama)


(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)


(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)
(Sumber : Tropen Museum)