Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 05 Januari 2012

Jaringan Jalan Kereta Api (1925)


Masih seputar peta jaman baheula. Kali ini datang dari sebuah buku yang berjudul Staatsspoor- en tramwegen in Nederlandsch-Indië 1875-6 April 1925 (Jalan Kereta Api Negara Hindia Belanda 1875 - 6 April 1925) yang ditulis oleh Ir. R.A. Reitsma, Kepala Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda pada waktu itu. Buku ini diterbitkan dalam rangka 50 tahun hadirnya perusahaan kereta api tersebut di Hindia Belanda.

Didalam buku ini di gambarkan perkembangan perkeretaapian di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Baik yang sudah berjalan, dalam pembangunan maupun sedang dalam penelitian atau studi. Singkatnya buku ini memuat Master Plan Perkeretaapian Hindia Belanda.

Dalam posting ini kita tampilkan wilayah Sumatera. Yang terlihat garis hitam tebal adalah jalan kereta api yang sudah digunakan. Terlihat ada 3 kelompok. Di utara : Tanjung Balai (Asahan) - Pematang Siantar - Medan - Belawan terus ke Kutaraja (Banda Aceh). Di selatan : Lahat - Palembang - Muara Enim - Baturaja - Kotabumi terus ke Panjang sebagai pelabuhan ke pulau Jawa masa itu. Di tengah : Inilah dia Teluk Bayur - Padang - Padang Panjang - Solok - Sawahlunto dan Muaro (Sijunjung). Dari Padang ada lagi yang bercabang ke Pariaman dan berakhir di Sungai Limau. Dari Padang Panjang berlanjut ke Bukittinggi - Payakumbuh - berakhir di Limbanang (50 Kota).

Dari kelompok jaringan jalan kereta api ini terlihat bahwa untuk pulau Sumatera Ranah Minang merupakan salah satu kawasan yang dianggap strategis pada masa itu sehingga pemerintah kolonial memerlukan untuk membangun jaringan jalan kereta api milik pemerintah. Kenapa ada kata-kata 'milik pemerintah'? Karena dari peta diatas terlihat bahwa jaringan jalan keretaapi di  Medan dan sekitarnya adalah jaringan jalan swasta (partikelir). Rel ini dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan perkebunan tembakau yang mendapat konsesi di sana sejak 1883 melalui maskapai Kereta Api Deli. Sedangkan rel yang ke Aceh (lebar rel 0,75 m) berkemungkinan dibangun karena pengaruh operasi militer Belanda di sana yang memakan waktu sangat lama. Sementara di Selatan, jaringan rel antara Palembang dan Lampung masih terputus antara Martapura dan Kotabumi yang pada saat peta ini dibuat masih dalam tahap pembangunan. Jaringan ini pada akhirnya dapat menyambung pada tahun 1927 atau 2 tahun setelah peta ini dipublikasikan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa batubara adalah salah satu faktor percepatan pembangunan jaringan  rel di Ranah Minang. Hanya berselang 12 tahun sejak jaringan rel pertama di Jawa antara Surabaya dan Malang dibangun oleh Perusahaan Kereta Api  Negara Hindia Belanda,  tahun 1887 jaringan rel kereta api dari Ombilin ke Padang sudah dibangun. Cukup cepat untuk daerah yang jauh dari Batavia.

Yang paling menarik dari peta ini sebenarnya adalah garis putus-putus berwarna putih. Itu adalah jalur rel yang sedang dalam studi. Kalau kita amati rencana jalur rel itu akan membuat pulau Sumatera menjadi tersambung dari Aceh sampai ke Lampung, dari pantai Barat ke pantai Timur.

Jalur rel dari Pariaman misalnya, akan diteruskan ke Rao. Dari Rao akan bercabang ke ke Padang Sidempuan terus ke Sibolga di Pantai Barat. Cabang lain akan menyambung dengan rel yang sudah ada di Tanjung Balai Asahan di Pantai Timur dengan melewati Kota Pinang.

Demikian juga dengan Muaro (Sijunjung). Ia akan menjadi hub bagi lanjutan rel ke Pantai Timur melewati Pekanbaru serta akan menyambung rel dari arah Lahat di Selatan melewati Sorolangun dan Rantauikir. Tidak dilupakan juga cabang rel yang ke arah Sungai Penuh (Kerinci) dan Bengkulu. Inilah backbone dari jaringan rel pulau Sumatera yang didisain oleh para insinyur dari Nederlandsch-Indische Staatsspoorwegen.

Dengan demikian apa yang sekarang digadang-gadang oleh beberapa kalangan dengan nama Trans Sumatera Railway -yang konon membutuhkan biaya 44 T- sebenarnya telah ada sejak 87 tahun yang lalu. Mungkin kita tinggal membongkar-bongkar arsip lama milik Jawatan Kereta Api Hindia Belanda itu, sebagaimana yang dilakukan tentara Jepang ketika mewujudkan sambungan rel antara Muaro dan Pekanbaru. Jalur ini belakangan dikenal dengan nama Death Railways alias Rel Maut karena banyaknya romusha dan tawanan perang yang tewas dalam proses pembuatannya.

Sekarang kita lihat sekilas disain yang sudah dibuat urang Ulando untuk jalur rel Muaro - Pekanbaru. Ceritanya kita lanjutkan nanti :)


Sumber : rendez-vous-batavia.nl; tjahjonorailway.blogspot.com

20 komentar:

  1. pertamax. nice info gan. kita lebh tahu tentang sejarah kereta api. kebetulan ane juga suka kereta, kapan2 mampir ya http://pirlyyyy-dot-com.blogspot.com/2012/01/sewa-ruang-kantor-jakarta-murah.html

    BalasHapus
  2. Bagaima nasib keretaapi di Sumatera Barat sekarang? Katanya udah nggak jalan lagi ya? Kereta api batubara juga nggak ada lagi ?

    BalasHapus
  3. Pirly-ae.dot.com : thanks ya boss...

    Rang Rantau :
    Betul. Awalnya semua sudah stop, termasuk batubara. Katanya kalah bersaing dengan cost jika pakai truk.
    Tapi sekarang jalur Padang - Pariaman dihidupkan lagi 2 x sehari untuk penumpang. Jalur Padang Panjang - Sawahlunto 1 x seminggu, hanya untuk wisata.
    Rencana untuk menghidupkan lagi KA di Sumbar sudah lama terdengar, tapi belum ada nampak gerakannya...:(

    BalasHapus
  4. Rudy, St.Louis MO9 Januari 2012 08.35

    @kang blog dari peta tahun 1925 diatas mana yg terealisasi sampai akhir masa pendudukan belanda ? Dan mana yg masih aktif (regular) sampai saat ini ?

    Terus terang saya jarang mendengar tentang masalah perkeretaapian di Sumatera, yang sering diekspos yang di Jawa, meskipun eksposnya tidak selalu positif :-D

    BalasHapus
  5. bung Rudy di St. Louis, (what a beautiful Arch you have there..),

    Sampai Jepang masuk belum ada yang terealisasi, karena katanya masih berkutat dengan disain di Sumatera Tengah agar bisa terkoneksi dengan yang di utara dan selatan. Justru Jepang yang coba merealisasikan salah satu rute berdasarkan disain itu, sebagaimana di akhir tulisan --tapi dengan kerja paksa.

    Yang masih aktif di Sumatera Barat sama seperti jawaban untuk bang Rang Rantau diatas. Kalau untuk Sumatera, berdasarkan data Kemenhub, jalur yang ada masih sama dengan peta 1925 itu. Hanya yang dari Pangkalansusu (Sumut) ke Aceh tidak aktif lagi. Yang lain (katanya) masih aktif.

    Jadi kondisinya sama aja di Jawa maupun Sumatera. Rel yang ada tidak nambah, malah berkurang...:)

    BalasHapus
  6. Death Railways yg saya pernah nonton di Birma apa Thai gitu, ternyata ada juga versi lokalnya.........

    Gimana ceritanya tuch......... ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bung Anonim : Ya, benar. Antara Thailand dan Birma. Untuk versi Sumatra nya ada di posting selanjutnya. Selamat membaca!

      Hapus
  7. Death Railways yang terkenal itu antara Birma dan Thailand, ada film jadul berjudul The Bridge over the River Kwai tentang jalan maut tersebut.

    Death railways di Thai sekarang jadi objek wisata sejarah yg sangat terkenal, yg disumbar riau ini bagus juga dibuat begitu untuk mengenang sejarah pahit dan menghormati puluhan ribu romusha yg tewas, mereka pahlawan juga kan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks bung Semboyan35 atas tambahan penjelasannya.

      Dari namanya bung ini pasti dari komunitas KA ya? Coba deh sejarah ini diingatkan lagi ke pada para pejabat PT.KAI. Karena biasanya kan komunitas punya akses. Biar pengorbanan para pekerja tidak sia-sia dan selalu diingat.

      Hapus
    2. bung Semboyan35 : Seharusnya memanglah demikian, karena peristiwa ini terlalu penting untuk dilupakan begitu saja.

      Tapi ada sedikit masalah, sebagian besar rel, bantalan dan perlengkapan perkeretaapian jalur Muaro-Pekanbaru ini sudah tidak ada lagi. Ada yg sudah dimakan zaman, ada yang sudah 'dimakan' orang, dan yang paling mengenaskan : saya pernah membaca bahwa pada tahun 1973, PJKA pusat mengadakan proyek "pembersihan" rel kereta api jalur maut ini, alasannya mungkin daripada tidak ada gunanya lebih bagus dijual. Dan kalau saya tidak salah ingat sekitar 2.000 - 3.000 ton besi rel dan bantalan kereta jalur maut ini "dibersihkan" oleh perusahaan pemenang tender, diangkut ke Jakarta...

      Kelihatannya dinegara kita ini peninggalan sejarah sepenting apapun kalau tidak menghasilkan uang tidak ada gunanya...

      Hapus
  8. info : Jalur kereta api Sawahlunto padang panjang masih aktif untuk kebutuhan wisata setiap hari minggu, berangkat pukul 7.00 dari padang panjang sampai stgh 12 di sawahlunto dan berangkat kembali pukul stgh 3 sore.
    Lokomotif uap atau di sebut "Mak Itam" juga aktif di sawahlunto dengan tujuan muaro kalaban, setiap hari minggu.
    di tunggu kedatangannya rekan rekan di Sawahlunto.
    wasalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin promo pemko Sawahlunto perlu lebih digencarkan lagi bung PB ya...?
      Buat yang mau menikmati jalur yang katanya salah satu tercantik di Indonesia, silakan ke Padang Panjang hari Minggu jam 07.00.

      Hapus
  9. @Palanta Budaya : Seingat saya di Sawahlunto ada Museum Kereta Api yg diresmikan tahun 2005 oleh Wapres waktu itu pak JK. Apakah dalam museum ini juga tidak ada benda atau dokumen bersejarah tentang Jalur maut ini ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti nya yang ini belum, tapi kalau boleh sama uda ntonk, kita publis ini.

      Hapus
    2. Bung Palanta Budaya : Silahkan. Tapi saran saya untuk lebih detil bisa menghubungi pak Henk Hovinga sebagai orang yang telah meneliti permasalahan ini lebih dalam via KITLV Jakarta.

      Hapus
  10. mau ikutan baca buku ini, bisa discan ga ya?
    ane penasaran ama jalur rancaekek-tanjungsari di bandung apa sudah ada di buku ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bu

      Googling aja judul bukunya. Tinggal sedot kok. Gratis..tis..tis..:)

      Hapus
  11. Izin saya posting di grup facebook kami Gan. karena Limbanang adalah kampung kami. trims infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan uda. Jangan lupa cantumkan sumbernya ya.

      Hapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus