Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 11 Januari 2012

Rel Kematian Muaro - Pekanbaru (1943 - 1945)

Sewaktu  kecil, ambo pernah melihat satu seri foto-foto almarhum Bapak bersama teman-temannya di suatu lokasi. Beliau berbaju hijau, bercelana pendek, bersepatu bot dengan pistol di pinggang. Teman-teman beliau juga berbaju hijau. Maklumlah, mereka semua tentara.

Backgroundnya bermacam-macam. Ada yang di sungai, ada yang di atas rel, ada yang seperti terowongan atau gua. Ketika ambo tanya fotonya diambil dimana, jawaban yang ambo terima adalah "Logas". Berikutnya justru kakak-kakak ambo yang menambahi bahwa Logas itu adalah tambang emas Jepang dan banyak orang Indonesia dikirim ke sana oleh Jepang untuk kerja paksa menambang emas dan membangun jalan kereta api dan akhirnya tewas disana. Ditutup dengan kabar pertakut, "karena itu di sana angker - banyak hantunya..."

Gambaran itulah yang melekat di benak ambo sejak kecil tentang daerah yang bernama Logas. Karena ambo sendiri sampai sekarang tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Tapi cerita sebenarnya menjadi jelas bagi ambo ketika menemukan sketsa berikut di dunia maya.


Sketsa itu adalah sketsa rencana rel kereta api yang menghubungkan antara ujung rel yang telah ada di Muaro (Sijunjung) ke Pekanbaru. Nantinya akan menghubungkan pantai barat dengan pantai timur Sumatera, sebagai bagian dari jaringan kereta api pulau Sumatera oleh Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. (lihat disini). Jalur ini melewati Muaro - Logas - Muara Lembu - Lipat Kain - Taratak Buluh - Tangkerang dan berujung di Pekanbaru.

Rencana itu telah mendekati detail, dengan memuat dimana kamp harus dibuat dalam proses pembangunan rel. Total ada 16 kamp (kamp 4 dan 7 dobel), dengan kamp 1 berada di tepi sungai Siak di Pekanbaru. Logas sendiri berada di kamp 9 --142 Km dari Pekanbaru. Total panjang rel itu sendiri sekitar 220 Km. Kendala utama dalam mewujudkan rel ini adalah kontur daerah yang sangat sulit serta hutan belantara yang masih belum terjamah dengan binatang buas di dalamnya.

Ketika Jepang masuk, rencana ini jatuh ke tangan mereka. Mereka melihat rel ini akan memudahkan mereka untuk bergerak menghindari ancaman sekutu di Samudera Hindia dengan mempercepat akses ke Selat Malaka. Demikian juga akan mempercepat akses bantuan logistik dan balatentara dari semenanjung Malaya ke Sumatera. 

Apa yang sulit bagi Belanda, gampang di mata Jepang. Medan yang sulit diatasi dengan mendatangkan tenaga kerja dari Jawa sejak September 1943. Pada awalnya dengan iming-iming gaji, tapi akhirnya dengan paksaan. Romusha. Masih dianggap belum cukup dengan itu, sejak Mei 1944 didatangkan tawanan perang bangsa Eropa untuk bekerja.

Secara total diperkirakan lebih dari 100.000 orang romusha dan 5000 orang tawanan perang dipekerjakan di jalur rel ini. Dari angka itu 80.000 orang romusha dan 700 orang tawanan perang tewas dan berkubur di sepanjang rel. Itu belum terhitung 1.800 orang tawanan perang yang tenggelam bersama kapal Van Waerwijck and the Junyo Maru yang ditorpedo sekutu sebelum sampai ke Pekanbaru. Dari angka-angka itu lah jalur rel ini mendapatkan namanya "Death Railways" atau "Rel Kematian", sama seperti Rel Kematian lain yang ada di perbatasan Birma - Thailand dan Saketi - Bayah di Banten Selatan.

Buku yang paling detil mengungkap tentang tragedi ini adalah karangan Henk Hovinga yang berjudul  Eindstation Pekan Baru 1944-1945-Dodenspoorweg door het Oerwoud terbitan KITLV Leiden. Di dalam bukunya Hovinga menulis bahwa para pekerja itu telah dipaksa bekerja “dalam suatu neraka hijau, penuh ular, lintah darat dan harimau., lebih buruk lagi miliaran nyamuk malaria, di bawah pengawasan kejam orang-orang Jepang dan pembantu mereka orang Korea”.

Ditambah lagi dengan cara orang Jepang yang menghindari pembuatan terowongan sebagaimana rancangan aslinya dengan cara mendinamit perbukitan. Seringkali tanpa pemberitahuan, sehingga pekerja yang bekerja dibawahnya ikut tertimbun. Rombongan berikutnya bertugas membersihkan reruntuhan hasil dinamit, sekaligus mengumpulkan mayat teman-temannya.

Semuanya dikerjakan dengan otot. Tidak ada peralatan yang memadai. Mulai dari menebang pohon, memotong tebing sampai memasang rel dan membuat jembatan semua dikerjakan dengan tenaga manusia. Ditambah gizi yang buruk, obat-obatan yang kurang serta perlakuan diluar batas kemanusiaan menyebabkan tingginya angka kematian.

Jalur rel ini selesai pada 15 Agustus 1945, tepat ketika Jepang takluk kepada sekutu. Tapi di tengah rimba raya Sumatera, Jepang belum kalah. Para serdadu Jepang masih meneriakkan banzai pada saat merayakan pematokan paku emas tanda selesainya jalur rel Muaro - Pekanbaru. Sementara para romusha dan tawanan hanya boleh menyaksikan upacara dan perayaan itu dari jauh.

Ironisnya, dengan puluhan ribu korban jiwa, rel ini berumur sangat singkat. Kereta api terakhir yang melewatinya adalah pada September 1945 yang membawa tawanan perang dari kamp-kamp kerja di dalam rimba menuju ke Pekanbaru. Jembatan-jembatan yang terbuat dari kayu dengan cepat lapuk dan hanyut oleh amukan sungai. Rel-rel yang tertinggal dengan cepat merimba dan sebagiannya lagi dibuat menjadi pagar oleh masyarakat dan jawatan Kereta Api sendiri untuk jalur Sawahlunto - Padang. 

Ingatan ambo kembali ke masa kecil. Foto almarhum Bapak yang ada di awal tulisan tadi dijepret pada awal tahun 60-an. Disadari atau tidak disadari oleh Bapak, kira-kira 20 tahun sebelumnya, tempat Bapak berdiri itu mungkin saja merupakan lokasi penyiksaan tentara Jepang terhadap seorang Romusha. Atau mungkin di tempat itu seorang romusha mati kelaparan dan dikuburkan. Mengingat puluhan ribu mayat bertebaran sepanjang 220 km rel. Inilah sebenarnya "hantu" Logas yang dibicarakan oleh kakak-kakak ambo dulu ketika kami masih kecil....

Dan hari ini, generasi sekarang di Sumatera Barat dan Riau hanya terheran-heran ketika menemukan sisa-sisa lokomotif di dalam hutan belantara atau ladang penduduk, tanpa tahu dari mana asalnya.....

(kita berkewajiban memberitahu mereka tragedi ini.....)

Sumber : kitlv.nl; pakanbaroe.webs.com; kadaikopi.com; bertuah.org

20 komentar:

  1. Wah, saya yang penggemar kereta dan juga sejarah masih belum tahu tentang hal ini. Tengkyu pencerahannya gan...

    BalasHapus
  2. baca judulnya aja sudah ngeri banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Asaz : itu dia. mbaca aja udah ngeri. apalagi ngalaminnya. Makanya harus selalu kita ingat pengorbanan mereka.

      Hapus
  3. semoga jadi contaoh yang baik bagi generasi mendatang..!!!

    BalasHapus
  4. bang kalau ga keberatan bisa nggak foto foto alm bapaknya dipajang disini, jadi bisa dapat gambaran nyata tentang rel maut ini.
    sehabis baca ini aku cari cari informasi tentang rel maut ini di internet jangankan foto, beritanya aja cuma seiprit. kesal bang, negara macam apa ini ? sejarah kok dilupakan ! bung karno bilang JASMERAH, jangan sekali kali melupakan sejarah !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Putra Riau,
      Kebetulan foto-foto itu adanya di rumah orangtua saya. Kapan ada kesempatan akan saya cari dan upload di sini.

      Hapus
  5. pernah dengar, tapi baru tau ini ceritanya.
    kemaren waktu bang shandi dari kompas tv khusus dokumenter sejarah pernah menyinggung cerita ini sedikit.
    trims uda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Bang Palanta Budaya

      Hapus
  6. boleh coment dikit, saya pernah kerja di tambang batubara di desapetai, logas. dan saya beserta teman2 membongkar lapisan batubara yang ada terowongan dan menemukan banyak peralatan (linggis, cangkul) yang tersisa. ada bangkai mobil jeep wylis dan rel kereta api. apa yang ditulis penulis diatas adalah benar dan sejarah lupa bahwa maksud jepang membuat ini semua karena potensi RIAU yang luar biasa maka tak heran seandainya jepang tak kalah dari sekutu maka Tokyo letaknya di Pekanbaru. dan KEPRI adalah pangkalan militernya. tapi nasib berkata lain...
    Suatu ketika pernah datang 2 orang turis dari kanada, setelah mendapat info dari australia mereka menuju tambang dan melihat sendiri sembari berkomentar bahwa hampir sepuluh tahan perang asal kanada meninggal disini. luar biasa ................

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bung kindy atas ceritanya. Luar biasa, anda pernah bekerja tepat diatas benang merah cerita ini : Desa Petai, Logas...

      Hapus
  7. Sekarang kondisi disini:
    1. Stasiun muaro, masih ada bangunannya tetapi sudah berubah fungsi jadi pabrik hollow brick. Didekat stasiun ada sebuah gerbong tua dan menjadi gudang kayu bakar oleh penduduk sekitar. Tidak jauh dari stasiun ada konstruksi untuk mengisi air untuk kereta (orang tua tua menyebutnya " tempat minum kereta"), keran masih ada (kalau g salah)plus menara air (dalam lingkungan sekolah dasar)
    2. Jembatan yang menyebrangi batang ombilin sudah tidak ada sisanya (waktu saya kecil dulu sudah tidak ada)
    3. Rel kereta dari muaro sampai durian gadang sudah tidak ada lagi, sudah diganti dengan jalan aspal oleh pemda sijunjung, karena dulunya silokek dan durian gadang adalah daerah terisolir, yang untuk ke kota kabupaten sijunjung harus menerjang ganasnya riam batang kuantan. Keberhasilan pembangunan tapi menghilangkan bukti sejarah.
    4. Sebuah lokomotif tua terletak di durian gadang, dan alhamdulillah sudah dimasukkan kategori benda cagar budaya oleh pemda sijunjung.
    5. Saya pernah menyusuri jalur ini dari durian gadang sampai pintu batu (tahun 2007), dan semuanya masih asli (lereng bukit yang digali seperti parit untuk rel kereta, dinding tebingnya masih rapi asli cangkulan romusha (sebagian hancur di terjang babi hutan), sisa sisa rel, jembatan kecil-kecil, dan jembatan beton yang tiangnya masih ada. Keaslian ini terjaga karena belum ada masyarakat yang membuka kebun dan ladang di lereng ini, karena langsung mengarah ke sisi batang kuantan. Tapi sekarang saya tidak tahu lagi kondisi terbaru, karena maraknya penambangan emas di sepanjang batang kuantan.
    6. Mungkin keterangan saya sedikit memberi informasi mengenai death railway ini, saya sangat tertarik dengan sejarah ini karena asli sijunjung.

    Salam kepada admin, dan trimakasih atas infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bung TOP_1,

      Ternyata anda sudah pernah menyusuri rel tersebut, dengan pengamatan yang luar biasa. Selamat.

      Terus terang saya juga mengkhawatirkan kondisi terkini sudah jauh berbeda dengan waktu anda menyusurinya tahun 2007. Ya karena maraknya penambangan (liar) tadi. Hal-hal seperti ini bukan menjadi prioritas bagi para penambang.

      Karena anda asli Sijunjung, mungkin punya akses ke Pemda-nya sehingga hal ini bisa mendapat perhatian lebih. Sepertinya pemda sudah mulai aware, terbukti dengan lokomotif yang sudah dijadikan cagar budaya. Mungkin selanjutnya keseluruhan kisah ini dan benda-benda (seperti stasiun dll.) serta jaringan relnya bisa menjadi aset pemda juga.

      Hapus
  8. saya cuma berharap stasiun dan kelengkapannya kembali dikuasai pt. kai dan pemda sehingga jadi benda cagar budaya. saat ini saya berdomisili di jepara, kalaupun pulang cuma pai barayo. akses ke pemda pun tidak ada, dan tidak tahu program pemda melindungi benda bersejarah.

    (TOP_1)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha...salah sasaran kironyo yo.

      Paling tidak dengan keterbukaan informasi sekarang ini siapa tahu suara kita di dengar oleh yang berwenang. Ya kan bung TOP-1?

      Hapus
  9. saya punya kok pak foto lokomotif uap jepang yang ada di daerah silokek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa diposting disini da? Diemail saja saya. Tks.

      Hapus
  10. Uda ntonk, kami kirim ka ma foto2 pendukung?

    BalasHapus
  11. Di post dong pak foto-foto alm bapaknya. Penasaran pingin melihat :)

    BalasHapus