Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 28 Agustus 2014

Seputar Kabar Proklamasi di Ranah Minang (1945)

Berita Proklamasi di koran Soeara Asia (Surabaya) 18 Agustus 1945

Bersempena bulan kemerdekaan yang ke 69 tahun ini, mari kita gali lagi tentang kapan Ranah Minang menerima berita tentang proklamasi kemerdekaan yang diproklamirkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. Yuk mari..:)

Sesuai dengan kondisi pada saat itu, berita penting dan sensitif seperti ini tentu tidak bisa dilakukan melalui jalur-jalur informasi resmi yang masih dikuasai oleh Jepang.  Namun demikian pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 18.30 WIB di Jakarta, wartawan kantor berita Yoshima/ Domei (sekarang: Kantor Berita Antara) Syahrudin berhasil menyampaikan salinan teks proklamasi kepada Daidan B.Palenewen. Oleh Daidan B.Palenewen, teks proklamasi tersebut diberikan kepada F.Wus seorang markonis (petugas telekomunikasi) di kantor berita tersebut, untuk segera diudarakan.

Kantor Berita Domei di Jakarta
Di Bukittinggi, seorang seorang pegawai PTT yang bernama Ahmad Basya yang bekerja di kantor Domei dapat menangkap berita Proklamasi yang disiarkan kantor Domei Jakarta itu. Lalu berita itu diketik oleh Asri Aidid gelar St. Rajo Nan Sati sebanyak 10 rangkap dan secara hati-hati dibawanya keluar gedung dan ditempelkan di tempat-tempat penting di Bukittinggi pada malam itu juga. Esoknya terbaca oleh beberapa orang lalu menyebar dari mulut ke mulut. 

Berita itu juga disampaikan kepada Adinegoro yang waktu itu menjabat sebagai sekretaris Chuo Shangiin (Badan Perwakilan). Tetapi Adinegoro masih ragu-ragu, sehingga sekelompok pemuda pada tanggal 18 Agustus meminta kembali surat kawat itu dan menyerahkan kepada Mhd. Sjafei selaku Ketua Chuo Shangiin pada 19 Agustus. Sorenya Mohd. Sjafei langsung mengadakan rapat di Padang Panjang di rumah dr. Rasyidin yang juga dihadiri oleh Khatib Sulaiman. Kemudian dibuat keputusan untuk memperbanyak berita itu dan disebarkan secara diam-diam ke berbagai instansi serta masyarakat.

Di Padang Panjang sendiri, bersamaan dengan di Bukittinggi,  pada tanggal 17 Agustus  K. Dt. Rajo Sikumbang dapat menangkap berita Proklamasi yang disiarkan dari Jakarta. Kemudian berita itu disampaikan kepada Ibrahim Gandi dan Muin Dt. Rajo Endah. Mereka lalu mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat lainnya dan para pemuda untuk mengibarkan Merah Putih di seluruh pelosok Padang Panjang, terutama di tempat-tempat umum dan rumah-rumah penduduk.

Sementara itu di Padang,  berita tentang Proklamasi diketahui oleh pegawai PTT yang bekerja di kantor radio di Jalan Belantung (sekarang Jalan Jenderal Sudirman). Yang mengetahui berita tersebut adalah Aladin Cs,  yang secara sembunyi-sembunyi menyampaikan kepada Arifin Alief, Sidi Bakaruddin, Isamel Lengah dan pemuda lainnya. 

Setelah menerima berita itu beberapa pemuda melakukan pertemuan secara berkelompok. Ada yang di Sawahan No. 5 dan ada juga di rumah Munir Latif.  Sementara kelompok Jahja Jalil melakukan konsultasi dengan  Abdullah dan Mr. St. Moh. Rasyid serta dr. Atos. Dari situ muncul dorongan untuk menyebarluaskan berita tersebut. 

Tanggal 19 Agustus diadakan pertemuan di Pasar Gadang dengan maksud untuk memperbanyak berita dan langkah selanjutnya untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Dalam pertemuan selanjutnya masih di tempat yang sama pada 25 Agustus para pemuda bersepakat mengangkat Mohd Sjafei sebagai Residen dan mengirim beberapa orang utusan untuk menemuinya yang kebetulan pada saat itu sedang berada di rumah A. Muluk di Jl. Alang Lawas No. 9. Selain itu juga disepakati terbentuknya Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI)  dengan markas beralamat di Pasar Gadang di depan masjid, yang diketuai oleh Ismail Lengah.

Di Solok pula,  kabar Proklamasi juga diperoleh dari siaran radio. Maka selanjutnya para pemimpin Solok tanggal 18 Agustus segera mengadakan rapat untuk menyusun rencana, tentunya yang paling utama adalah menyebar luaskan berita tersebut.

Rapat hari itu tertunda, karena  ada panggilan dari perwira Jepang yang menjelaskan bahwa Indonesia memang telah mengumumkan kemerdekaannya tetapi orang Solok tidak usah ikut-ikutan. Meski demikian, tokoh masyarakat Solok Marah Adin berinisiatif mengundang 20 orang bekas perwira Giyugun dan pemuda-pemuda untuk rapat dalam rangka menyambut Proklamasi. Hasil keputusan rapat tanggal 20 Agustus adalah : mengambil kekuasaan dari Jepang, mengibarkan bendera Merah Putih, dan mengambil sekalian perbekalan Jepang. Pengambilalihan kekuasaan itu baru terujud tanggal 25 Agustus 1945 bertempat di belakang stasiun Kereta Api Solok.

Sementara di Batusangkar berita proklamasi menyebar dari mulut ke mulut beberapa hari setelah 17 Agustus, berdasarkan teks yang didapat oleh Zainuddin St. Kerajaan dari Khatib Sulaiman. Sedangkan di Sawahlunto/Sijunjung justru petugas bagian transport bangsa Jepang yang menyebarkan berita proklamasi itu. Tentu saja disambut antusias oleh masyarakat.


Mhd. Sjafei - Residen Pertama
Di Pariaman, setelah mendengar berita Proklamasi maka pemimpin-pemimpin pemuda seperti St. Saaluddin, Udin, dan Abu Rahim Rasyid mulai melakukan kegiatan untuk mengibarkan Merah Putih di bekas asrama Giyugun dan di tempat-tempat umum.

Di Payakumbuh, berita Proklamasi bersumber dari tokoh masyarakat yang datang dari Bukittinggi dan Padang sehingga meluas ke seluruh masyarakat dari mulut ke mulut.

Setelah melihat penyambutan oleh rakyat di Sumatera Barat dengan tersiarnya Proklamsi tersebut, maka  Mohd. Sjafei mengeluarkan Maklumat Kemerdekaan Indonesia di Bukittinggi tanggal 29 Agustus 1945 dalam bentuk tertulis dan disebar luaskan ke seluruh rakyat Sumatera Barat. 

Isi lengkap maklumat tersebut adalah sbb:

PERMAKLOEMAN
KEMERDEKAAN INDONESIA

Mengikuti dan mengoeatkan pernyataan Kemerdekaatn Indonesia oleh Bangsa Indonesia seperti PROKLAMASI pemimpin2 besar kita SOEKARNO-HATTA, atas nama Bangsa indonesia

Seperti berikoet :

                                                         P  R  O  K  L  A  M  A  S  I

Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan
KEMERDEKAAN INDONESIA
Hal hal yang mengenai pemindahan kekoeasaan
dan lain lain diselenggarakan dengan tjara
saksama dan dalam tempo yang se singkat2nya

Djakarta
Hari 17 boelan 8 tahoen 1945

Atas nama Bangsa Indonesia

SOEKARNO-HATTA

Maka kami Bangsa Indonesia di Soematera dengan ini mengakoei Kemerdekaan Indonesia seperti di maksoed dalam Proklamasi di atas dan mendjoenjoeng keagoengan kedoea pemimpin Indonesia itoe.

Boekittinggi

Hari 29 bl 8 th 1945
Atas nama Bangsa Indonesia
Di Soematera


 MOEHAMMAD SJAFEI      

Selanjutnya M. Sjafei, yang juga merupakan pendiri sekolah INS Kayu Tanam itu,  dipilih sebagai Ketua Komite Nasional Daerah (KNID) Sumatera Barat.

Dengan demikian resmilah Sumatera Barat menjadi bagian dari bayi Negara Republik Indonesia yang baru lahir....


(Sumber: sejarahsumaterabarat.blogspot.com; FB Saiful Guci; belajar.dindikptk.net; geocities.jp; wikipedia)

Kamis, 21 Agustus 2014

Benteng van der Capellen (1824)


Baron van der Capellen
Kalau di Bukittinggi ada benteng peninggalan Belanda, Fort de Kock, mungkin hampir setiap orang tahu. Apalagi benteng Fort de Kock dengan strategi pariwisata yang cerdas disatukan dengan Kebun Binatang Taman Marga Satwa Bundo Kanduang melalui sebuah jembatan gantung yang bernama Jembatan Limpapeh. Akibatnya pengunjung seperti beli satu dapat dua. Efeknya kedua objek wisata itu menjadi semakin populer.

Berbeda dengan benteng kolonial yang ada di Batusangkar, Fort van der Capellen. Mungkin generasi sekarang (kecuali yang tinggal di Batusangkar) merasa asing dengan nama ini. Padahal kedua benteng dibangun pada masa yang hampir bersamaan dan dengan tujuan yang sama pula, yaitu sebagai pusat komando serdadu Belanda dalam Perang Paderi.

Hal ini dapat dimaklumi karena tidak seperti "saudaranya" di Bukittinggi, benteng van der Capellen selama puluhan tahun digunakan sebagai kantor aparat militer dan kepolisian yang terkesan "garang". Hal ini bisa jadi menjadi salah satu faktor yang mengaburkan memori kolektif masyarakat tentang sejarah dan keberadaan benteng ini.

Sejarahnya bermula dari konflik terbuka berupa peperangan fisik antara Kaum Adat dan Kaum Agama (Paderi) yang membuat Kaum Adat meminta bantuan Belanda yang pada waktu itu sudah berkedudukan di Padang. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Kolonel Raff masuk ke Tanah Datar untuk melakukan penyerangan kepada Kaum Paderi.

Sesampai di Batusangkar, pasukan Belanda dipusatkan di suatu tempat yang paling tinggi, lebih kurang 500 meter dari pusat kota. Pada tempat ketinggian inilah pasukan Belanda kemudian membangun sebuah benteng yang permanen. Bangunan benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1824 ini berupa bangunan yang memiliki ketebalan dinding 75 cm dan ± 4 meter dari dinding bangunan dibuat parit dan tanggul pertahanan yang melingkar mengelilingi bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van der Capellen, sesuai dengan nama Gubernur Jendral Belanda pada waktu itu yaitu Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen.

Dengan adanya benteng pertahanan yang permanen dan strategis, maka secara militer dan politis memudahkan Belanda untuk menguasai wilayah sekitar Batusangkar. Hal ini menandakan beratnya perjuangan kolonial Belanda di Tanah Datar sehingga harus membuat benteng. Kesempatan demikian akhirnya bukan hanya bertujuan untuk memadamkan gerakan Kaum Agama, tetapi sekaligus untuk menguasai secara politis kawasan Tanah Datar dan sekitarnya. Konflik ini akhirnya berkembang menjadi Operasi Militer Belanda. Kenyataan demikian menyadarkan Kaum adat yang semula mengizinkan Belanda untuk masuk ke Tanah Datar. Tapi semua sudah terlambat. Belanda sudah bercokol.

Benteng van der Capellen (1826)
Sebuah lukisan sketsa yang dibuat oleh Louis Henri Wilhelmus Merckes de Stuers yang diyakini dibuat antara tahun 1845 dan 1869 memperlihatkan sebuah benteng di atas bukit dengan latar belakang pegunungan. Di bagian bawah sketsa tertulis Fort van der Capellen Menangerbau Pagaroeyoeng Padangsche Bovenlanden Soematra. Bendera triwarna berkibar pada sebuah tiang tinggi hingga menyentuh awan yang bergelayut rendah. Pada jalan setapak menuju benteng terlihat seorang serdadu dengan seragam biru memacu kudanya menuju ke arah benteng. Sementara di latar depan terlihat seorang bersurban dan berompi merah sedang menunjuk ke satu arah. Mungkin ini untuk menggambarkan kaum Paderi, tetapi di mata ambo lebih terlihat seperti gambaran orang Arab dalam film Aladin atau sinetron Jin dan Jun ketimbang image kaum Paderi yang selama ini kita kenal. Entah bagaimana ceritanya.

Benteng van der Capellen (1895)
Gambaran dalam sketsa tersebut hampir persis dengan foto yang diambil pada tahun 1895. Kecuali pada bagian latar belakang gunungnya, sepertinya sengaja dibuat untuk efek dramatis saja. Gunungnya tidaklah setinggi itu. Demikian juga kita tidak melihat tembok benteng lagi, mungkin karena perang sudah usai. Tiang bendera di majukan ke depan, tepatnya pada jalan menuju benteng, di dekat gerbang dan pos jaga. Kira-kira hampir sama dengan posisi serdadu berkuda dalam sketsa. Dengan penampakan sekilas seperti ini, rasanya lebih terlihat sebagai sebuah villa peristirahatan daripada sebuah benteng.

Pada zaman jepang, benteng van der Capellen kemudian dikuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari tahun 1943-1945. Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari pendudukan Jepang, benteng Van der Capellen kemudian dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu Agresi Belanda II, benteng Van der Capellen kembali dikuasai Belanda selama dua tahun, yaitu tahun 1948-1950.


Benteng Van der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Padang untuk proses belajar mengajar sampai tahun 1955 saat PTPG dipindahkan ke Bukit Gombak. Benteng Van der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia.

Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Batalyon 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada POLRI pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh POLRI kemudian ditetapkan sebagai Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan baru yang berada di Pagaruyung. 

Selama menjadi markas Polres inilah beberapa perubahan bangunan dilakukan. Antara lain atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk serse dan dibangun pula TK Bhayangkari. Parit yang masih ada disebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin dan bangunan untuk gudang.

Saat ini benteng van der Capellen menjadi kantor Dinas Kebudayaan Kab. Tanah Datar dan telah direnovasi sebagian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Namun sepertinya hal itu tetap belum dapat  mengembalikan ingatan masyarakat bahwa sejarah perkembangan kota Batusangkar berawal dari benteng di atas bukit ini.

(Sumber: Tropen Museum, wikipedia, wikimedia)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Muaro Batang Arau (1895)


Pfff....betapa cepat waktu berlalu. Tidak terasa sudah 7 bulan sejak postingan terakhir. APPAHH?? T-U-J-U-H B-U-L-A-N?? 

Wow....udah tewas nih blog, mungkin ada yang berkomentar begitu. Tapi mudah-mudahan belum. Kalo sekarat mungkin (hehe..becanda). Karena itu sekarang kita munculkan cerita baru di blog ini. Biar sehat lagi. Ayoo...., yang jauh mendekat, yang dekat merapat *tukang jual obat keliling mode -ON* Tuing!

Karena baru habis vakum sekian lama, kita kasih cerita yang ringan-ringan saja. (emang berhubungan,ya? cuek lah.. ). Cerita kali ini tidak jauh-jauh dari apa yang diistilahkan bangsa Belanda dengan "Mooi Indie" alias "Indonesia yang Indah". Istilah ini digunakan oleh Belanda perantauan di Hindia Belanda untuk memberi gambaran bagaimana wujud Hindia Belanda itu kepada rekan-rekannya Belanda totok yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri tropis ini. Mungkin istilah ini juga yang mengilhami Bu Tien memberi nama Taman Mini Indonesia Indah (OOT alias Out of Topic...)

Inilah Mooi Indie itu. Dilatarbelakangi oleh Gunung Padang yang kehijauan di kejauhan, muara sungai yang airnya jernih dan kebiru-biruan pelabuhannya ramai disandari oleh kapal layar yang bertiang tinggi. Saking jernih airnya, bayangan kapal dan gedung-gedung yang ada darat membayang di permukaan air yang sedikit beriak. Hmmm...terbayang semilir angin sepoi-sepoi membawa kesejukan di tengah iklim tropis. Sementara di darat, deretan gedung saling bergandengan dengan pohon-pohon besar, terutama pohon kelapa yang bagi bangsa Eropa merupakan tanaman eksotis.

Inilah keindahan yang sebenarnya itu. Muaro Batang Arau tahun 1895, yang sayangnya tidak mencantumkan kredit kepada pemotretnya.

Satu lagi potret dengan lokasi yang sama dan kebetulan bertahun sama, 1895. Namun kali ini memberi kredit kepada juru potret Christiaan Benjamin Nieuwenhuis yang memang terkenal dengan spesialisasinya di bidang Mooi Indie ini.


Potret kali ini mengambil angle di darat. Sebagai titik referensi, gedung yang berada di sebelah kanan adalah gedung bertingkat 2 beratap seng yang berada di tengah-tengah foto sebelumnya. Bahkan sampai sekarang  pun, gedung ini masih ada, tapi tentu dengan kondisi yang sudah ringkih akibat tak terurus.

Kembali ke foto pak Nieuwenuis, pada bagian sebelah kiri memperlihatkan detail tiang-tiang tinggi perahu layar yang juga terlihat pada foto pertama. Perahunya sendiri kelihatan memiliki atap pada bagian palkanya. Di bagian tengah foto terdapat rel ganda. Rel ini merupakan ujung dari stasiun Pulau Ayer (Pulau Air) yang terletak di belakang posisi berdiri pak Tukang Kodak. Rel ganda ini sekaligus sebagai tempat langsir kereta api. Sementara di sebelah rel, di depan deretan gedung, terdapat jalan raya yang cukup rata dan rapi. Dapat dimaklumi, karena kawasan muara Batang Arau adalah pusat pemerintahan dan perdagangan kota Padang pada masa itu.

Yang menarik bagi ambo adalah kombinasi antar moda transportasi yang bertemu di muaro Batang Arau dalam foto di atas. Air, Jalan Rel dan Jalan Raya. Bayangkan begini: ikan yang ditangkap para nelayan dapat langsung naik kereta api menuju Bukittinggi, Payakumbuh atau Sawahlunto. Begitupun barang-barang manufaktur yang masuk di pelabuhan Emmahaven dapat segera disimpan di gudang di sepanjang Batang Arau untuk selanjutnya dapat langsung didistribusikan baik via jalan darat, rel ataupun air untuk lokasi-lokasi yang tidak memiliki akses jalan maupun rel. Demikian juga galeh mudo alias sayur mayur dan hortikultura yang dikirim dari daerah Darek dapat segera dikirim via kabau pedati atau kapal ke lokasi-lokasi yang membutuhkan, begitu turun dari kereta api. Betapa efektifnya.

Terlepas dari apakah hal ini memang sudah didisain sejak awal ataukah tumbuh seiring kebutuhan, tentu ada pelajaran yang bisa kita petik dari foto-foto tua ini kan?

(Sumber: wikimedia)

Sabtu, 11 Januari 2014

Anak Taplau Si Komandan U-Boat NAZI (1917-1945)

Kapitänleutnant Fritz Schneewind
Penemuan 2 buah bangkai U-Boat di laut Jawa beberapa bulan yang lalu memunculkan cerita tersendiri tentang salah seorang kapten dari U-Boat yang tenggelam tersebut. U-Boat sendiri adalah sebutan bagi kapal selam militer Jerman selama Perang Dunia yang menjadi momok bagi Sekutu, terutama di Samudera Atlantik. Penemuan bangkai U-Boat di Laut Jawa tersebut juga menjadi salah satu bukti bahwa U-Boat juga beroperasi jauh sampai ke Timur, Samudera Pasifik dan Hindia.

Cerita datang dari bangkai U-Boat bernomor lambung U-183. Sang Kapten bernama Fritz Schneewind. Menurut catatan militer Jerman, ia lahir di Padang pada 10 April 1917. Banyak komentar dan pendapat di dunia maya tentang hal ini, tetapi tidak cukup menguak latar belakang kenapa sang kapten bisa sampai lahir di Padang. Juga apakah ia hanya sekedar 'numpang lahir' atau malah juga dibesarkan di Padang. Dari sinilah cerita bermula.

Dari situs pencinta U-Boat dapat dengan gampang diperoleh Curriculum Vitae dari Fritz Schneewind. Terlihat bahwa ia memang orang yang kompeten di bidangnya. Dituliskan bahwa ia bergabung dengan Kriegsmarine atau Angkatan Laut Jerman pada tahun 1936. Selanjutnya ia menjadi kadet Akademi Angkatan Laut di Flensburg dari Oktober 1939 sampai Agustus 1940.
Base U-Boat (Grup Monsun) di Penang.
U-511 di kejauhan, U-183 kiri belakang.
Keduanya pernah dikomandani Fritz Schneewind.


Oberleutnant Fritz Schneewind mengikuti training untuk mengawaki U-Boat pada Oktober 1940 sampai Maret 1941. Selanjutnya langsung bertugas di U-506 yang beroperasi di Atlantik Utara, Pantai Timur AS dan sesekali di Afrika Barat. 

November sampai Desember 1942 Schneewind mengikuti pelatihan untuk memimpin U-Boat. Selanjutnya langsung diangkat sebagai komandan U-511 yang beroperasi di Atlantik Tengah. Setelah itu ia bersama kapalnya ditugaskan ke Samudera Hindia untuk menyerahkan kapal tersebut ke Jepang yang menjadi sekutu Jerman di Timur Jauh saat itu. Misi itu dapat diselesaikan dengan merapat di Kure, Jepang pada 7 Agustus 1943. Dalam perjalanan itu  U-511 juga berhasil menenggelamkan 2 buah kapal milik Sekutu.
Fritz Schneewind di atas U-183

Sekembalinya dari Jepang, pada 20 November 1943 Kapit√§nleutnant Fritz Schneewind mengambil komando U-183 di Singapura. Kapal itu beroperasi di Samudera Hindia sebagai bagian dari Grup Monsun. Dalam 4 kali patroli U-183 berhasil menenggelamkan 3 buah kapal dengan bobot 18.000 ton. 

Pada patroli ke lima, 23 April 1945 pukul 13.00 WIB, U-183 yang dikomandani Schneewind karam akibat di torpedo kapal selam Amerika USS Besugo (SS-321) dari Kelas Balao (Balao-class) di Laut Jawa. Disaat tenggelam, U-183 hanya menyisakan satu orang awak yang selamat dari keseluruhan 55 orang awak buah kapal.  Dari 54 awak yang tewas itu, termasuk Kapten Fritz Schneewind yang tewas pada usia 28 tahun, di laut negara tempat kelahirannya, Nederland Indies.

Itu cerita yang kita dapat. Kembali ke awal, siapa si Fritz ini?

Flashback ke tahun 1928. Sekitar bulan Maret, merapat di pelabuhan Emmahaven Padang, sebuah kapal perang Jerman bernama Emden yang baru diluncurkan tiga tahun sebelumnya. Kapal ini sedang dalam misi perjalanan keliling dunia bersama kadet-kadet AL Jerman. Seorang bapak bernama Paul Schneewind, konsul Jerman untuk Padang,  membawa anak laki-laki tertuanya bernama Fritz, melihat-lihat ke dalam kapal tersebut. Pasangan bapak-anak ini sangat terkesan dengan apa yang mereka lihat. Sang konsul selanjutnya menjamu awak kapal di kediamannya.

Emden
Empat bulan kemudian, pada Juli 1928, Emil Helfferich, seorang saudagar top bangsa Jerman yang berdomisili di Hindia Belanda mengunjungi Padang. Sang Konsul mengundangnya ke kediamannya dan menghadiahinya dua kantong kopi Sumatra dan memperkenalkannya dengan istri dan keempat anaknya. Fritz yang berumur sebelas tahun maju ke depan dan bercerita secara komplit soal kapal Emden yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu bersama sang ayah. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk bersekolah di Jerman dan menjadi perwira Angkatan Laut.

"Itu adalah hal yang ingin kulakukan juga pada saat aku seusiamu," kata Helffrerich. "Tapi penglihatanku tidak begitu baik sehingga aku hanya bisa bergabung dengan Angkatan Darat," sambungnya sambil mengetuk-ngetuk bingkai kacamata tebalnya. "Mudah-mudahan kamu lebih beruntung daripadaku, Nak."

Ternyata lidah sang saudagar memang asin. Ucapannya terbukti. Fritz Schneewind berhasil masuk AL dan malah memimpin sebuah U-Boat. Pertemuannya dengan Emden dan Helfferich sepertinya begitu memotivasinya.

Fritz Schneewind di Padang (1937)
Ada satu foto lagi yang akan ambo tampilkan. Foto ini bertahun 1937 dan tertulis "Padang, Sumatra". Kalau melihat CV diatas, foto ini diambil pada saat awal-awal Fritz Schneewind bergabung dengan AL Jerman. Bisa jadi sebagai kenang-kenangan sebelum meninggalkan Padang, tempat ia lahir dan besar, tempat orangtua dan saudara-saudaranya ia tinggalkan. Dapat dimaklumi karena dari catatan diketahui bahwa sang bapak, Paul Schneewind bertugas sebagai konsul Jerman di Padang sampai saat didudukinya Belanda oleh Jerman. Itu terjadi pada tahun 1940. Pada Juli 1941 barulah keluarga ini diizinkan untuk meninggalkan Hindia Belanda menuju Jepang.

Lho, lantas hubungannya dengan Taplau apa, bro? Oiya lupa. Kompleks Konsul Jerman di Padang itu berada di pinggir pantai Padang. Tepatnya di Gedung Juang 45 sekarang. Karena itulah ambo lantas membayangkan seorang anak bule yang melompat dari teras rumahnya untuk mandi-mandi tiap sore di pantai Padang sambil bermimpi menaklukkan lautan luas yang terbentang di hadapan rumah keluarganya.

Ia berhasil mewujudkan mimpinya.

(Sumber: deutsches-u-boot-museum.com; taucher.net; myheritage.de; uboat.net; googlebooks: The Pepper Trader: True Tales of the German East Asia Squadron and the Man (Geoff Bennett); foia.cia.gov; wikipedia)

Jumat, 27 Desember 2013

Diler Truk Jadul? (1900-1940)


Ambo tidak begitu yakin dengan judul foto koleksi Tropen Museum ini yang menyebutkan bahwa foto tersebut adalah "Pasar Ternak dan Pedati di Lubuk Basung". Di dalam foto memang terlihat deretan rapi berjajar gerobak pedati yang sangat banyak dengan latar depan beberapa ekor kerbau sedang leyeh-leyeh dibawah pohon kelapa. Bahkan disamping kiri foto, di kejauhan, juga terlihat dua ekor kerbau sedang merumput. Gemuk-gemuk dan sehat-sehat.

Yang membuat ambo tidak yakin dengan judulnya adalah karena tidak ada satu manusia pun yang tampak dalam foto ini. Padahal judulnya "Pasar". Atau mungkin karena sudut pengambilan gambar yang sangat pas, sehingga tidak terlihat aktivitas seperti pasar yang biasa kita lihat? Atau... ini memang bukan pasar ternak?

Ambo cenderung kepada pendapat terakhir. Menurut penglihatan ambo, aktivitas di atas lebih kepada "pangkalan pedati" daripada "pasar ternak dan pedati". Para kerbau yang terlihat adalah kerbau yang melepas penat sehabis menghela pedati. Para sais juga mungkin sedang ngopi-ngopi di lapau atau pulang ke rumahnya. Makanya tidak nampak di foto. Kalau sekarang, mungkin persamaannya adalah "terminal truk".

Alternatif lain yang mirip dengan pasar adalah "dealer". Dealer truk, kalau zaman sekarang. Karena ini zaman dulu, maka sang diler menyediakan pedati lengkap dengan kerbaunya. One stop shopping. Soalnya kalau kita perhatikan, bentuk konstruksi pedatinya persis sama. Seolah-olah berasal dari pabrik yang sama.

Kalau yang punya "terminal" atau "diler" itu hanya satu orang, bisa dibayangkan kedudukan orang tersebut dalam masyarakat. Kalau jaman sekarang tentu beliau itu adalah seorang konglomerat transportasi. The Real Transporter. :)

Lepas dari itu semua, foto ini adalah foto pertama yang ambo peroleh sejauh ini yang bersumber dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam sekarang. Dalam foto diatas Lubuk Basung terlihat "modern" dengan adanya bangunan beton bertingkat dua dan beratap seng.

Oya, satu lagi. Lubuk Basung sampai sekarang masih terkenal dengan usaha pembuatan bak kayu untuk truk. Mungkin sejarahnya bisa diurut sampai ke deretan pedati diatas. Keahlian itu sepertinya turun temurun.

(Sumber: Tropen Museum)

Kamis, 19 Desember 2013

Awal Misi Zending di Padang (1820 - 1901)


Heboh pro-kontra terhadap investasi yang diduga bermuatan kristenisasi di Ranah Minang beberapa bulan  terakhir membuat ambo berpikir untuk menoleh kebelakang.

Kelompok  yang kontra-investasi berpegangan kepada adagium "mancari sabalun hilang, maminteh sabalun hanyuik, alun takilek lah takalam, takileh ikan dalam aia alah tantu jantan jo batinonyo" (mencari sebelum hilang, mengejar sebelum hanyut, sebelum kilat tapi sudah gelap, berkelebat ikan dalam air sudah ketauan jantan atau betina). Kata lainnya adalah "mencegah lebih baik daripada mengobati".

Sementara kelompok yang pro-investasi menjawab dengan ucapan, "Manga cameh jo kristenisasi? Urang awak urang nan kuat agamonyo. Salamo ko awak dijajah Balando, alah bara baru urang awak nan murtad?" (Kenapa cemas dengan kristenisasi? Orang kita orang kuat beragama. Selama ini kita dijajah Belanda, sudah berapa sih orang kita yang murtad?).

Pikiran ambo berputar: bisakah sejarah menjawab hal ini? Ternyata ada beberapa hal yang ambo temukan.
 
Niniak kita dahulu menyebut istilah "Misi Zending" untuk menyebut para penginjil kulit putih yang datang ke negeri kita. Istilah ini sebenarnya kurang tepat karena "Misi" dan "Zending" merujuk kepada dua hal yang berlainan. "Misi" mengacu kepada penyebar agama Katolik Roma sedangkan "Zending" mengacu kepada penyebar agama Protestan. Untuk diingat bahwa Belanda umumnya beragama Protestan. Karena itu dari catatan sejarah terlihat bahwa aktivitas zending lebih mengemuka pada zaman kolonial dibanding misi. Hal ini tentu dapat dipahami. 

Padang sebagai sebuah kota metropolitan di Sumatera pada masa itu tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi misi zending, meskipun sebenarnya umat kristiani sudah ada di Padang sejak 1679 yaitu orang-orang VOC dan pedagang bangsa asing  yang bertugas di Padang. Namun mereka tidak menyebarkan agamanya, baik karena larangan dari pemimpin lokal setempat maupun karena larangan dari pemerintah kolonial. 

Alasannya berbeda. Kalau pemimpin lokal alasannya tentu terkait dengan fakta bahwa orang Minang sudah memeluk islam sejak abad ke-16 Masehi. Sedangkan pemerintah kolonial melarang dengan alasan agar tidak terjadi konflik di tengah masyarakat. Sebab kalau ada konflik, mereka sendiri yang bakalan repot. Hal ini sejalan dengan salah satu motto pemerintah kolonial  yaitu menjaga algemene rust en orde (ketentraman dan ketertiban umum).

Baru pada saat pemerintahan Inggris (interragnum) antara 1811 sampai 1825, Raffles memberikan izin yang memungkinkan beberapa pekabar Injil bekerja di pantai barat Sumatera.

Pada tahun 1820 tiga pekabar Injil dari aliran Baptis di Inggris memasuki daerah ini. Mereka adalah Ward yang pergi ke Bengkulu, Evans ke Padang dan Burton ke Sibolga. Misi ini dikabarkan gagal dengan pulangnya ketiga orang tersebut dari daerah tugas masing-masing. Namun Nathaniel Ward tetap bertahan di Padang dan menghabiskan waktunya dengan menerjemahkan injil. Meskipun demikian tidak ada catatan soal jemaat yang berhasil dihimpunnya.
.
Setelah Belanda berkuasa kembali, aturan soal rust en orde kembali diberlakukan. Diantara yang tidak diberi izin adalah misionaris katolik P. Candall di Padang tahun 1830 dari serikat MEP Perancis. Meskipun demikian pada tahun 1837 telah terdapat pastor pertama yang bermukim di Padang bersama dengan orang Katolik yang terdiri atas tentara Belanda, pegawai sipil dan peranakan indo serta beberapa orang Tionghoa. Tidak ada catatan soal jemaat yang berasal dari pribumi.

Terkait dengan pemberian izin itu, belakangan pemerintah kolonial melegalkannya didalam Regerings Reglement (Peraturan Pemerintah) Tahun 1854 pasal 123,  yang kemudian ditegaskan kembali dalam Indische Staatsregeling tahun 1925 pasal 177 yang berbunyi : (1) Guru-guru agama Kristen, pendeta dan zendeling harus ada ijin masuk yang diberikan oleh atau atas nama Gubernur Jenderal untuk mengerjakan tugasnya dalam suatu daerah tertentu di Hindia Belanda. (2) Jika ijin masuk itu dianggap berbahaya atau perjanjian-perjanjiannya tidak ditaati, ijin itu dapat ditarik kembali oleh Gubernur Jenderal.

Salah satu maksud dari  RR 1854 ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi konflik akibat dubbele zending (adanya dua badan zending yang bekerja pada satu kawasan). Selanjutnya lagi, seiring dengan terbitnya RR 1854 ini, Sumatera Barat, Banten, Bali dan (belakangan) Aceh, dinyatakan tertutup untuk misi zending. Tak lain tak bukan tentu dalam kaitannya menjaga rust en orde tadi. Sumatera Barat, Banten dan Aceh dianggap sebagai daerah muslim, sedangkan Bali dianggap sebagai daerah Hindu. Menjalankan misi zending di daerah-daerah tersebut bisa memancing konflik antar pemeluk agama. Bisa rusak rust en orde.

Akibatnya jelas. Misi zending tidak bisa berjalan di Sumatera Barat karena izin untuk itu tidak pernah diberikan oleh pemerintah kolonial. Padang sebagai kota besar pada waktu itu hanyalah menjadi tempat mengambil ancang-ancang bagi para misi zending sebelum bergerak ke utara. Tanah Batak (kecuali bagian selatan yang telah diislamkan oleh Tuanku Rao), dianggap sebagai ladang yang subur untuk misi zending karena penduduknya masih memeluk agama nenek moyang yang menyembah batang kayu dan sejenisnya. Untuk yang satu ini pemerintah kolonial memberikan izin, bahkan menyokongnya.

Diantara nama-nama beken yang memulai langkahnya dari Padang antara lain  G. van Asselt dari jemaat Ermelo dari Belanda yang mendarat di Padang pada Desember 1856 dan akhirnya menetap di Sipirok. Selanjutnya Lidwig Ernst Denninger yang mendarat di Padang pada 21 Nopember 1861,  yang semula ditugaskan ke Barus tapi akhirnya memutuskan ke Nias karena berkenalan dengan orang Nias sewaktu ia menetap sementara di kawasan Kampung Cina Padang karena istrinya sakit. Selain itu ada Ludwig Ingwer Nommensen yang  tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang,  yang pada akhir hayatnya mendapat julukan sebagai Rasul Orang Batak karena berhasil membaptis 180.000 orang dan mendirikan cikal bakal gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Ada lagi August Lett yang menjalankan misi zending ke Mentawai pada 1901, namun akhirnya tewas terbunuh disana pada 1909.

Ada baiknya juga kita lihat biografi seorang misi zending dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang juga memulai langkahnya dari Padang yang dicuplik dari buku karangan George Munson berjudul More Than Conquerors, terbitan Teach Services, New York tahun 2007 

.............

Ralph W. Munson dan istrinya, Carrie
Pada akhir 1899, Ralph Waldo Munson bersama istri dan kelima anaknya tiba di pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur sekarang), menumpang kapal Prins Hendriks, dari pelabuhan New York 11 November 1899, untuk memulai misi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia. Mereka dikirim oleh Kantor Konferens Michigan atas biaya sendiri untuk bekerja ke tengah-tengah orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda.

Memilih kota Padang sebagai sasaran pekerjaannya mengingat seorang muridnya waktu ia masih seorang pendeta Methodist di Singapura, bernama Tay Hong Siang, berasal dari Sumatera Barat yang tinggal di Bukit Tinggi. Alasan lain ia memilih kota Padang adalah sehubungan larangan pemerintah Hindia Belanda kepada orang-orang asing memasuki wilayah jajahan kecuali atas izin khusus, dan daerah yang telah dimasuki zending tidak boleh dimasuki zending baru. Dan kota Padang sebagai salah satu ibukota pemerintahan Belanda waktu itu belum dimasuki zending Eropa, sekalipun sudah ada orang Kristen di sana sejak zaman VOC.

Kemudian sewaktu menjadi seorang misionari Gereja Methodist di Singapura, ia mendengar orang-orang Batak telah  membunuh salah seorang dari keluarganya, yaitu Samuel Munson yang mengadakan ekspedisi ke Tapanuli beberapa puluh tahun yang lalu.  Semangat missionarinya yang menyala telah mendorong dia sekali waktu untuk datang ke tengah-tengah suku Batak itu dan mempertobatkan mereka, dan kota Padang sebagai sasaran pertamanya merupakan langkah awal sebelum memasuki Tapanuli kemudian hari.

Keluarga Munson di depan rumahnya di Padang
Setelah tiba di Padang,  ia membeli sebidang tanah yang di atasnya telah berdiri dua rumah tua dan satu bangunan sekolah. Uang membeli tanah dan bangunan itu ia bawa dari Amerika sebagai persembahan khusus pada waktu perkemahan yang diselenggarakan Konferens Michigan sebelum keberangkatan keluarga Munson ke Indonesia. Mereka tinggal di rumah itu, dan di sanalah ia membuka sekolah bahasa Inggris buat anak-anak Tionghoa, dan membuka kelas-kelas bahasa Inggris privat kepada pedagang-pedagang Belanda.

Beberapa hari kemudian Munson bertemu dengan Tay Hong Siang. Ia pun dibaptiskan. Dengan perantaraan Tay Hong Siang, Munson diperkenalkan kepada seorang Tionghoa yang lain yang amat berpengaruh di kota Padang, dan orang itu adalah paman Tay Hong Siang yang kemudian meninggalkan penyembahan berhala-berhalanya setelah dibaptiskan oleh Pdt. Munson sebagai buah sulung kota itu.

Tanggal 1 Maret 1900, dengan resmi Munson telah memperoleh izin dari pemerintah Belanda untuk pengoperasian sekolah bahasa Inggris itu, dan 53 orang murid telah terdaftar untuk kelas siang dan 15 orang belajar malam, dan 3 murid tinggal bersama keluarga Munson yang belajar malam harinya. Sekolah ini telah menjadi sumber pendapatan keluarga Munson sekaligus untuk menunjang biaya penginjilan.

Di dalam suratnya kepada kantor Adventist Review and Sabbath Herald (yang dimuat dalam volume 77, tanggal 22 Oktober 1900, hlm 685),  Ralph Munson menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya antara lain izin kerja yang tidak dapat diperoleh dari pemerintah Hindia Belanda untuk mengembangkan agama, agama mayoritas yang amat berpengaruh, dan dana yang amat terbatas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan melayani masyarakat.

Selanjutnya beberapa orang Tionghoa didekati, diadakan kebaktian di rumah Munson pada hari Sabtu dan Minggu. Setahun kemudian Munson telah membaptiskan dua orang kepala keluarga Tionghoa, dan 20 orang lagi sedang belajar.

Di dalam laporannya tanggal 6 Juli 1901 ke Australia, tempat pusat pengawasan gereja untuk wilayah Hindia Belanda, Munson melaporkan 8 orang dewasa telah dibaptiskan dan 3 orang lagi sedang mengikuti kebaktian. Di dalam suratnya kepada E.H. Gates, Ketua Uni Konferens (Union Conference) Australia, ia menceritakan tenang kemajuan pekerjaan di Padang dan ia memohon bantuan dana untuk mencetak risalah dan juga tenaga pendeta dari Australia.

Menyambut surat Munson itu, E.H Gates menyampaikan kabar melalui surat yang menyatakan bahwa 60 poundsterling telah dikirim untuk mencetak risalah dalam bahasa Melayu. Dengan dana itulah Munson mencetak risalah keagamaan.

Dari Padanglah kemudian Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh meluas ke Medan, dan ke pulau Jawa.

............

Nah, kembali ke kaji awal, dari catatan sejarah tadi terlihat bahwa  tidak berjalannya misi zending di Sumatera Barat bukan semata karena penolakan oleh masyarakat setempat saja, tetapi juga karena tidak diberi ruang gerak oleh pemerintah kolonial, terutama dalam hal perizinan. Ini terbukti dengan isi surat dari Pdt. Munson yang menyatakan bahwa ia tidak mendapat izin untuk  mengembangkan agama di Padang. Meskipun demikian, dari biografi Munson juga kita bisa membaca bahwa misi zending tetap berjalan (meski hanya untuk warga Tionghoa) melalui metode pembelajaran di sekolah. Terbaca juga bahwa misi zending tetap saling terhubung satu sama lain, termasuk soal pendanaan.

Sejarah telah menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah kolonial dalam RR 1854 beserta turunannya -termasuk menjadikan daerah Sumatera Barat sebagai daerah tertutup bagi misi zending- sedikit banyaknya telah ikut berperan dalam 'mengamankan' Ranah Minang dari apa yang dikenal sekarang sebagai kristenisasi. Efek langsung dari kebijakan itu adalah lenyapnya potensi konflik yang bernuansa keagamaan.

Kini, disaat ranah berkecamuk didera soal isu kristenisasi -yang cenderung memecah belah masyarakat- perlukah kita belajar lagi ke masa lampau soal bagaimana membuat peraturan dan kebijakan yang tidak mengusik ketentraman dan ketertiban umum? Atau mesti kita agendakan dulu kunjungan kerja dan studi banding ke perpustakaan Leiden untuk membolak-balik kitab-kitab tua guna dapat memahami arti algemene rust en orde?

(Sumber: filadelfiaministry.wordpress.com; keuskupanpadang.org; sejarah.co; bnkpshalom.wordpress.com; googlebooks: Ragi Carita 1 dan 2 (Th. van den End), Sejarah perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jan S. Aritonang); zavage.nl; haluanriau.com; wikipedia)

Sabtu, 07 Desember 2013

"Penemu" Pucuak Parancih (1798-1880)

Catatan si Ntonk: Tulisan ini bersumber dari buku Pak Rusli Amran Plakat Panjang (1984). Salah satu dari beberapa karya beliau yang pernah kita singgung dalam postingan terdahulu. Yang susah adalah mencari foto/lukisan orang yang dimaksud Pak Rusli itu. Karena peristiwa paling populer yang menyangkut orang tersebut -yaitu peristiwa penangkapan Tuanku Imam Bonjol- mungkin tidak sepopuler peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Sehingga tidak ada dokumentasi visual tentang hal tersebut, termasuk orang-orang yang terlibat. Ditambah lagi Ranah Minang tidak punya pelukis sekaliber Raden Saleh Syarif Bustamam yang bisa menggambarkan peristiwa penangkapan Tuanku Imam Bonjol seperti lukisan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Halah. Jadi kemana-mana ceritanya. Singkatnya, foto yang dicari akhirnya ketemu juga dan bisa menghiasi laman ini. Oke, selamat menikmati tulisan Pak Rusli Amran dibawah!

Emanuel Francis dengan medali "Singa Belanda"-nya
Siapa yang tak kenal dengan sayur “pucuk parancih”. Sayuran tersebut merupakan salah satu jenis sayuran yang umum ditemukan pada masyarakat Minang. Sayuran tersebut berasal dari pucuk daun ketela pohon. Sungguh unik, jika masyarakat lain hanya mengambil umbinya untuk dimakan tapi bagi masyarakat Minang daunnya pun dapat dijadikan sayur. Mengenai penamaan pucuk parancih, berkenaan dengan nama Francis yang dieja dengan francis atau parancih dalam lidah orang Minang.

Siapakah Francis itu? Emanuel Francis, begitu nama lengkapnya, merupakan Residen (sekarang Gubernur) Sumatera Barat pada tahun 1834. Sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Asisten Residen (Wagub) Sumatera Barat dengan Residennya De Stuers.

Francis sebenarnya orang Inggris tulen yang lahir di India. Dia kemudian menikah dengan orang Belanda. Riwayat hidupnya cukup menarik. Pada usia yang masih muda dia  menjadi seorang pelaut. Kemudian menjadi juru tulis pada kantor dagang Inggris di Banten (1815). Dia pindah haluan dengan mengabdi pada pemerintah Hindia Belanda. Selama di pemerintahan dia sudah beberapa kali ditugaskan ke beberapa daerah seperti Banten, Kalimantan, Palembang, Makassar, Bengkulu, Timor,  Sumatera Barat, Rembang, Madiun dan Manado. Jabatan tertingginya adalah Inspektur Keuangan. Setelah pensiun dia masih diminta untuk menjadi Presiden De Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) selama 12 tahun. Prestasi cukup hebat untuk orang Inggris di pemerintahan Belanda.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch, mengangkat Francis sebagai Residen Sumatera Barat karena pengalamannya. Pada waktu itu Belada dalam kondisi terjepit akibat Perang Paderi dan Perang Diponegoro. Batavia memutuskan cara lunak untuk menaklukan Sumatera Barat dengan mengeluarkan Plakat Panjang. Plakat Panjang merupakan pernyataan Batavia yang mengakui keberadaan pemerintahan dan peradilan adat di Sumatera Barat. Belanda berjanji tidak akan memungut pajak dan memberi gaji kepada para penghulu. Plakat ini dikeluarkan  untuk mengantisipasi serangan kaum paderi yang telah bergabung bersama kaum adat.

Francis begitu percaya terhadap isi plakat Panjang tersebut tanpa mengetahui itu hanya akal-akalan Batavia semata. Selama di Padang, Francis aktif melakukan pendekatan terhadap pemberontak. Dia bahkan berhasil membujuk Tuanku Imam Bonjol untuk menyerah. Bahkan Francis sendiri memberi jaminan bahwa Tuanku Imam tidak akan dibuang dari kampungnya. Namun karena permainan pihak tentara, Tuanku Imam malah dijebak dan dibuang. Francis membujuk Batavia agar Tuanku Imam cukup dibuang ke Batavia saja. Namun oleh Batavia malah dibuang jauh sampai ke utara Sulawesi. Sikap Batavia yang demikian membuat Francis sangat malu. Dia melihat bagaimana Tuanku Imam diperdaya dengan cara yang sangat kotor.

Mengenai sayur pucuk “parancih” tadi, sewaktu menjadi Residen Francis berusaha mencari simpati masyarakat. Dia membawa ubi ketela pohon untuk dibudidayakan di Padang. Namun oleh masyarakat Minang daunnya juga dimanfaatkan sebagai sayuran. Untuk mengingat bahwa tanaman tersebut diusahakan oleh Francis maka masyarakat menyebutnya sayur “prancis” atau “parancih”.

(Sumber:  harmanza.wordpress.com; wikipedia.nl; camerama.demon.nl)