Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 29 November 2011

Datuk dari Jepang? (1942-1944)


Sepintas foto disamping memperlihatkan foto seorang Angku Datuak dengan pakaian kebesarannya : saluak, kain bugis, baju dan celana dengan sulaman benang emas, lengkap dengan terompah datuak-nya.
Tapi kalau diamati lebih detail ada sedikit yang berbeda dari angku datuak kita ini. Mata sipit, rambut agak gundul, berkumis, muka bulat, kacamata bulat dan perut juga bulat. Tongkrongannya kayak tentara jepang saja. Tunggu dulu, tentara jepang?


Ini ada foto dua serdadu jepang diapit oleh anak-anak gadis minang berpakaian adat.Meskipun pada saat itu belum ada festival uda-uni, kalaulah salah satu gadis-gadis ini mengikuti festival itu sekarang, dijamin minimal juara favorit dapat-lah. Laahh, jadi ngelantur...
Back to basic. Sepertinya tentara jepang yang ditengah mukanya mirip dengan foto datuak tadi ya? Ya kumisnya, ya kacamatanya, ya bulat-bulat tongkrongannya. Ternyata bukan hanya mirip, tapi memang itu foto orang yang sama. Namanya adalah Kenzo Yano. Tapi dia bukan tentara, meskipun pakaiannya kayak tentara --pakai samurai pula. Dia adalah Gubernur Sipil Sumatera Barat sewaktu penjajahan Jepang. Shu-Chokan, bahasa Jepangnya. Mantan Gubernur Prefektur Toyama di Jepang sana. Ia mendarat di Padang pada tanggal 9 Agustus 1942 bersama 68 orang pejabat sipil lainnya.

Gubernur sipil? Ya, waktu penjajahan Jepang di Sumatera Barat ada 2 penguasa. Penguasa militer dibawah pimpinan Jenderal Tanabe berkedudukan di Bukittinggi. Sedangkan Gubernur Sipil ya pak Yano tadi, berkedudukan di Padang. Untuk memperlihatkan betapa pentingnya posisinya, coba perhatikan foto disamping ini. Deretan pejabat penguasa Jepang sedang berpose. Di barisan depan, ditengah-tengah adalah Jenderal yang sangat terkenal yaitu Penguasa Wilayah Selatan, Field Marshall Hisaichi Terauchi yang berkedudukan di Singapura. Disebelah kanan Terauchi adalah Jenderal Tanabe, Panglima Divisi ke-25 yang berkedudukan di Bukittinggi. Di sebelah kiri Terauchi tak lain tak bukan adalah Gubernur Yano. Dari posisi duduknya sudah kelihatan, bukan?
Mungkin karena basic-nya orang sipil maka Gubernur Yano melakukan pendekatan lebih manusiawi kepada rakyat Sumatera Barat dibanding penguasa militer. Dialah yang berprinsip untuk 'merebut hati dan perasaan rakyat' dalam menghadapi sekutu. Dia menghargai kebudayaan Minang, sehingga tak heran dia berpose dengan pakaian datuak tadi. Konon dia sangat menyenangi legenda rakyat Minang yang menyatakan asal-usul orang Minangkabau dari 3 orang bersaudara yang turun dari Gunung Merapi. Seorang menjadi raja di negeri Japang (Jepang), seorang menjadi raja di negeri Rum (Romawi) --yaitu Iskandar Zulkarnain, dan seorang lagi menjadi raja Minangkabau. Dengan legenda ini Gubernur Yano berusaha merebut hati rakyat Minangkabau bahwa sebenarnya 'kitorang basudara'.
Pendekatan yang relatif lunak seperti ini sering membuat penguasa militer gerah. Tapi Pak Gubernur ini jalan terus. Selanjutnya dia mengusulkan kepada penguasa Jepang untuk membentuk suatu laskar sukarela yang isinya orang Indonesia semua. Maksudnya tentu untuk mengambil hati. Laskar inilah nanti yang dikenal diseantero nusantara sebagai 'giyugun' atau Laskar Rakyat. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Yano sampai terbang ke Jakarta dan berdiskusi dengan para founding fathers republik ini. Di foto samping terlihat ia bersama Mr. Ali Sosroamidjojo, Mr. M. Yamin, H. Agus Salim, Bung Hatta dan Bung Karno. Coba bayangkan bagaimana hangatnya diskusi yang terjadi kalau pesertanya adalah bapak-bapak itu!
Namun demikian, ternyata militer lebih kuat. Yano dianggap tidak sejalan karena lebih condong kepada mendorong semangat kemerdekaan anak negeri. Gubernur Yano akhirnya meletakkan jabatan pada Maret 1944 dan digantikan oleh Hattori Naoaki. Sebagian orang berpendapat bahwa ia dipaksa untuk mundur. Jawabnya tentu ada pada diri Sang Mantan sendiri...

(Sumber : hermes-ir.lib.hit-u.ac.jp --Akira Oki, Social Change in West Sumatera Village 1908-1945; wikipedia; googlebooks -- Audrey R. Kahin,Rebellion to Integration )

Jumat, 25 November 2011

Ibu Hajjah dan Penenun Kain (1920an)


Halo semua!
Sudah hampir 4 bulan sejak posting terakhir ya. Tepatnya pada awal Ramadhan lalu. Karena sesuatu dan hal --klise(!)-- maka baru sekarang bisa nulis lagi. Buat yang tetap berkunjung dan mengirimkan komentarnya selama blog ini vakum ambo ucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya...

Baik, kita sudah melewati 2 hari raya sejak posting terakhir yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Hari-hari ini adalah hari-hari kepulangan jemaah haji dari menunaikan rukun Islam ke-lima di Makkah. Saya masih mencari-cari dokumentasi tentang 'kehebohan' prosesi keberangkatan dan kepulangan jemaah haji jaman kolonial di Ranah Minang, namun belum ketemu sampai sekarang. Kalau ada pembaca yang punya bolehlah di-share disini buat kita nikmati rame-rame..:)

Akhirnya saya memutuskan untuk mengunggah sebuah foto dari tahun 1920-an koleksi dari Tropen Museum. Foto ini masih sedikit berkaitan dengan tema kita kali ini yaitu haji, namun dengan sedikit pernak-pernik lain.

Dalam foto terlihat seorang ibu yang dalam keterangan foto tertulis sebagai 'seseorang yang telah pulang dari perjalanan suci ke Makkah' sedang mengawasi seorang wanita yang sedang menenun kain. Tidak disebutkan lokasi spesifik pengambilan foto, tapi hanya ditulis di dataran tinggi jantung Minangkabau. Juga disebutkan bahwa berbeda dengan seabad sebelumnya, kain tenunan sudah kalah bersaing dengan katun impor yang harganya lebih murah.

Pose dalam foto tersebut kelihatannya sudah di-setting. Terlihat dari pakaian wanita penenun yang berpakaian rapi seperti mau pergi ke undangan perkawinan saja layaknya. Perhatikan sepatunya yang ber-hak tinggi dan berbunga-bunga. (Saya yakin kalau fotonya berwarna kemungkinan besar warnanya merah :)). Rasanya terlalu bagus untuk orang yang sedang menenun kain di halaman rumah.

Yang juga menarik adalah pakaian bu hajjah. Didalam jilbabnya terdapat lapisan keras sehingga bagian atasnya berbentuk persegi. Dagunya juga tertutup sampai hampir mencapai bibir. Sepintas terlhat mirip dengan pakaian biarawati. Bu hajjah juga berpakaian bagus, memakai gelang emas besar di tangan kanannya. Tapi apakah memang seperti ini pakaian hajjah sehari-hari pada masa itu atau hanya untuk kesempatan tertentu saja --berfoto misalnya?

Kesimpulannya apa mas bro? Kesimpulan pribadi saya, dua wanita ini berkerabat -kemungkinan ibu dan anak, melihat kemiripan wajah keduanya. Si ibu hajjah kemungkinan adalah juragan songket di --lagi-lagi kemungkinan-- Pandai Sikek, dekat kota Bukittinggi. Hal ini karena didalam keterangan foto juga mencantumkan bahwa disamping tenunan, juga diproduksi bordiran dan punya pasar sendiri. Tenun dan bordir serta pasar yang dekat (Bukittinggi), di dataran tinggi pula, kemungkinan besar menunjuk ke Pandai Sikek. Bahkan sampai sekarang nagari Pandai Sikek terkenal dengan tenunannya yang khas.

Terus, tahunya soal ibu dan anak selain soal kemiripan? Sederhana saja, kalau foto sudah di-setting sedemikian rupa untuk seorang juragan kain tenun (di zaman foto belum lazim untuk pribumi), siapa lagi yang pantas untuk diajak berfoto selain anak sendiri? :)

Kamis, 04 Agustus 2011

Mesjid Taluak (1900)

Di bulan puasa seperti sekarang ini, mesjid menjadi pusat aktivitas urang awak selaku umat muslim. Dari apa yang ambo lihat, salah satu mesjid yang paling banyak difoto sejak jaman sisuak adalah Mesjid Raya di Nagari Taluak - Banuhampu - Kabupaten Agam. Sebuah nagari di pinggiran kota Bukittinggi.
Mesjid ini eksotik karena tetap mempertahankan ciri khas arsitektur mesjid tradisional Minangkabau yang berupa atap balenggek atau bertingkat-tingkat. Jadi tidak memakai kubah seperti mesjid lain. Pengaruh arab baru datang dengan berdirinya sebuah minaret atau menara besar di depan mesjid. Namun demikian mereka tetap terlihat menyatu.
Sayang seribu sayang, mesjid ini rusak parah akibat gempa yang melanda kawasan Bukittinggi dan sekitarnya pada tahun 2007 silam. Untungnya upaya restorasi dilakukan dengan membangun kembali mesjid persis seperti aslinya. Namun demikian, meskipun dengan material yang jauh lebih baik, nilai keaslian dan sejarah memang tidak bisa tergantikan...:(
Foto-foto berikut memperlihatkan perkembangan mesjid dari waktu ke waktu di masa lalu.


Tahun 1900 : terlihat mesjid tradisional yang megah penuh dengan ukiran dengan kolam di depannya. Di kanan dan kiri mesjid terdapat bangunan yang juga berarsitektur tradisional. Mungkin untuk tempat anak-anak belajar mengaji. Di depannya ada 2 batang kelapa.


Tahun 1910 : Sebuah menara cantik telah berdiri di depan mesjid, sebagai pengganti 2 batang kelapa 10 tahun sebelumnya. Pinggiran kolam juga sudah dibuat permanen dengan beton. Bangunan di kiri dan kanan juga sudah bertambah banyak. Salah satunya bergaya modern dengan atap terbuat dari seng. Bangunan lain juga sudah ada yang diganti atapnya dengan seng.

Tahun 1920 : Atap mesjid sudah diganti dengan seng. Mungkin ijuknya sudah lapuk. Bagian teras mesjid juga sudah di atap dengan dek beton dengan tiang penyangga berpola lengkung ala arab. Dari foto ini dapat terlihat motif yang terdapat di sekeliling menara. Sungguh cantik.
(Sumber :kitlv.nl)

Rabu, 27 Juli 2011

Mentawai (1900)

Posting kali ini terinspirasi dari perjalanan ambo ke Kepulauan Mentawai karena tugas dari kantor. Memang agak bias dengan judul blog kita, Minang Lamo, karena adat dan kebudayaan Mentawai sangat berbeda dengan adat dan kebudayaan Minangkabau yang biasa disebut "tanah tepi" oleh masyarakat Mentawai.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa gugusan kepulauan Mentawai sejak jaman Belanda merupakan bagian dari Keresidenan Sumatra' Westkust atau Pantai Barat Sumatera, yakni Propinsi Sumatera Barat sekarang. Jadi, lupakan perbedaan, mari nikmati perjalanan ke Mentawai di awal abad 20...!
Foto pantai Mentawai ini sangat kontras dengan image tentang Mentawai yang ada di kepala kita saat ini. Pantai ini sangat tenang, seperti danau saja layaknya. Padahal, saat ini Mentawai identik dengan salah satu tempat surfing terbaik di dunia dengan ombak menggelora yang diburu para surfer mancanegara. Lha, ombaknya dimana, mister?
Foto ini mungkin diambil di pantai Timur kepulauan Mentawai yang membelakangi Samudera Indonesia. Sementara surga para peselancar itu berada di pantai Barat. Menghadap langsung ke samudera. Jadi, ya...beda lokasi cuy.
Perkampungan dengan beberapa Uma atau rumah. Uma berupa rumah panggung beratap rumbia, tipikal rumah tradisional. Sepertinya ada jembatan menuju kompleks uma di seberang sana. Padahal tidak ada sungai. Kayu juga terlihat bergelimpangan. Mungkin kampung ini berada di daerah rawa, sehingga perlu jembatan dan kayu sebagai alas untuk berpijak.
Sebuah 'dermaga' di pinggiran kampung. Terus terang, melihat foto ini, ambo terbayang kepada gambar-gambar penaklukan bangsa Spanyol atas bangsa Indian di Amerika Selatan pada abad ke-16. Orang-orang bercawat mendayung kano, dengan latar belakang hutan perawan.
Mungkin juga bangsa Belanda yang pertama datang ke Mentawai berpikir bahwa mereka telah setara dengan Pizarro atau Cortez di Amerika sana. Mereka juga telah menjadi penakluk seperti kedua orang tersebut, minus jarahan berton-ton emas. Inilah penaklukan versi mereka.
O ya, lokasi foto ini diambil mungkin sekarang telah menjadi resort milik orang Australia atau Inggris atau Italia. Itulah 'penaklukan' versi baru di Mentawai...
Pada tahun 1900 bangsa Belanda telah berupaya memperkenalkan Mentawai kepada Eropa. Upaya itu antara lain dengan mencetak briefkaart atau kartu pos bergambar keunikan Mentawai. Agak rancu juga karena kartu pos itu ditulisi kata-kata "Salam dari Sumatra" karena Mentawai itu kan terpisah dari Sumatera?
Di kartu pos itu terpampang foto pasangan dari Pagai, perkampungan dan Raja Mentawai. Ndak jelas apa maksudnya Raja Mentawai, seseorang dengan cawat dan baju serdadu Belanda.
Keunikan yang tidak tampak di kartu pos itu adalah ombak besar. Mungkin pada saat itu olahraga surfing belum dikenal sehingga bagi pembuat kartu pos ini ombak ya ombak. Ndak ada istimewanya. Ndak ada uniknya.


Selain lewat kartu pos, Belanda juga memperkenalkan Mentawai melalui promosi langsung. Contohnya adalah pada foto di atas. Foto ini diambil pada tahun 1907. Tapi ini bukan di Mentawai. Ini di Bukittinggi. Acaranya adalah Pakan Malam atau Pasar Malam. Tidak ada keterangan apakah orang-orang Mentawai ini tidak kedinginan dengan berpakaian tradisional mereka di kaki Gunung Marapi dan Singgalang...
(Sumber : kitlv.nl)

Kamis, 14 Juli 2011

Stasiun Pariaman (1935)


Sebuah stasiun Kereta Api di bibir pantai. Beberapa pejabat stasiun berpakaian putih terlihat berpose menghadap kamera. Matahari bersinar cerah pagi itu. Kok tau itu pagi? Ya, karena sinar matahari datang dari arah belakang, menghantam langsung ke dinding putih stasiun yang bertuliskan "PRIAMAN". Ingat, bahwa Pariaman berada di pantai barat Sumatera. Artinya, sinar datang dari Timur. Timur artinya pagi. Sederhana, bukan? :)
Inilah stasiun Pariaman. Sampai sekarang stasiun ini masih ada dan masih berfungsi membawa penumpang dari Padang ke Pariaman dan sebaliknya. Namun kondisinya sudah jelas jauh berbeda.
Stasiun sekarang tenggelam ditengah hiruk pikuknya pasar Pariaman. Berbeda dengan di dalam foto yang terlihat berwibawa, stasiun sekarang terlihat kerdil karena kalah tinggi dengan bangunan-bangunan ruko di sekitarnya.
Tegak lurus terhadap stasiun sekarang adalah jalan besar, dan disanalah deretan ruko serta pasar berdiri. Sejajar dengan rel di depan stasiun juga ada jalan yang membawa kita menuju pantai Gondoriah, pantai wisata kota Pariaman. Kita bisa makan nasi SEK disana. Eits, jangan salah. Nasi SEK adalah istilah lokal yang artinya nasi SEribu Kanyang (Kenyang). Tapi itu dulu, waktu istilah itu baru diciptakan. Sekarang, jangankan kenyang, nasi apa yang bisa dapat dengan duit cuman seribu perak????? :)
(Sumber : kitlv.nl)

Selasa, 12 Juli 2011

Monumen Pemberontakan Batipuh (1920)


Untuk memperingati gugurnya beberapa serdadu Belanda akibat pemberontakan yang meletus di Batipuh (dekat Padang Panjang) pada tanggal 24 Februari 1841 , didirikanlah sebuah monumen seperti terlihat di atas.
Pemberontak menyerang tangsi Belanda di Guguk Malintang yang dipimpin oleh Letnan JB. Banzer. Dalam tangsi itu sendiri terdapat 2 perwira (termasuk Banzer), 10 prajurit Eropa, 35 prajurit pribumi tak berpangkat serta 44 wanita dan anak-anak pribumi.
Pada tanggal 25 Februari Prajurit F. Marien, Sosemito, dan SerMa J.C. Schelling terluka parah. Banzer lalu mengirim surat ke tangsi terdekat untuk meminta bantuan namun duta tersebut, prajurit Suroto dari Madura, dibunuh dan dimutilasi secara mengerikan dan mayatnya ditemukan di permukiman yang berada di depan tangsi.
Pada tanggal 27 Februari Banzer memutuskan untuk menyelinap keluar benteng saat hari gelap dengan meninggalkan 3 prajurit yang terluka, atas persetujuan mereka. Di luar tangsi, para prajurit, wanita, dan anak-anak melarikan diri selama 2 hari 2 malam, dan akhirnya diselamatkan oleh barisan yang dipimpin secara pribadi oleh Andreas Victor Michiels (klik disini), yang kemudian maju ke wilayah yang bergolak itu.
Untuk mereka yang terluka dan gugur itulah akhirnya Belanda mendirikan monumen ini pada tahun 1920.

Foto-foto selanjutnya adalah rekaman dari upacara peringatan terhadap peristiwa di atas yang dilakukan di bawah monumen pada tahun 1930. Ambo belum mendapatkan informasi apakah peringatan ini dilakukan setiap tahun atau karena bertepatan dengan 10 tahun berdirinya monumen tersebut.
Terlihat banyak orang berkumpul di kaki monumen, yang sebagian berdatangan dengan mobil. Terlihat juga barisan serdadu dan barisan pejabat dan warga sipil. Para wanita terlihat mengenakan topi, khas Eropa tempo doeloe. Satu lagi, monumennya terlihat basah, mungkin karena Padang Panjang sering hujan. :)
Terus, bagaimana kondisi monumen ini sekarang, bung? Sama seperti monumen kolonial lainnya. Hilang ditelan zaman.....





(sumber : kitlv.nl; wikipedia)

Jumat, 01 Juli 2011

Istana Rajo Alam Alahan Panjang (1877)



Melihat foto rumah gadang diatas, tak pelak lagi yang terbayang adalah kemegahan masa silam. Betapatidak. Berbeda dengan kebanyakan rumah gadang yang biasanya bergonjong 5 atau 7, rumah gadang ini mempunyai jumlah gonjong 13! Selain itu juga terdapat bangunan yang kelihatannya berfungsi sebagai "rumah tabuah" atau rumah bedug serta lumbung padi dengan ukiran yang indah. Disamping itu juga terlihat taman dan jalan yang tertata rapi.
Memang rumah gadang ini bukan sembarang rumah gadang. Tapi ia adalah Istana dari Rajo Alam Alahan Panjang. Foto ini merupakan salah satu hasil dari ekspedisi Midden Sumatra (untuk mengetahui klik disini) yang sekarang menjadi koleksi Tropen Museum.
Ekspedisi Midden Sumatra juga mendokumentasikan keluarga penghuni istana tersebut, yaitu keluarga Rajo Alam (foto bawah). Sayangnya tidak ada identifikasi tentang siapa-siapa saja orang yang dipotret tersebut. Berkemungkinan orang yang menggunakan saluak, berkeris dan bertongkat panjang adalah Rajo Alam. Tapi itulah egaliternya orang Minang. Yang duduk dikursi adalah kaum perempuan (puterinya?), sedangkan sang Rajo sendiri malah duduk di lantai. Perhiasan keluarga ini juga tidak bling-bling seperti lazimnya keluarga raja. Hanya hiasan berupa kain dan penutup kepala, juga terlihat terbuat dari kain. Laki-laki yang berdiri (putra raja?) kelihatan memakai topi seperti prajurit romawi. Atau efek foto semata, tidak begitu jelas.
Pada gambar kedua identitas orang yang difoto lebih jelas. Judul foto menyebutkan mereka adalah saudara laki-laki dan puteri Rajo Alam. Sang saudara laki-laki memakai sejenis jas, dengan baju putih berkancing banyak di bagian dalam, memakai tutup kepala dan keris. Sepintas pakaiannya seperti prajurit dari kesultanan Jogjakarta. Sementara sang puteri cilik menggunakan penutup kepala, tidak begitu jelas terbuat dari bahan apa. Yang pasti, kain yang dipakai oleh paman dan keponakan ini terlihat bagus. Dan pasti mahal
.


(Sumber : Tropen Museum dan wikipedia)

Selasa, 21 Juni 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian V (HABIS)

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Terakhir dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Keempat silakan
klik disini)
Kami tinggal di Fort de Kock sampai tanggal 26 April dan selanjutnya menuju ke Pajacombo lewat Padang Pandjang dan Fort van der Capellen, sehingga mundur dari arah selatan Gunung Merapi. Perjalanan kami tanpa insiden, dan jalan sangat baik, sehingga kereta kuda kami berjalan lancar, meskipun kemiringan jalan sangat tinggi. Kebun kopi sangat luas di lereng pegunungan, sawah dan desa-desa, sejauh mata dapat melihat, tersebar di dataran, dan selalu terlihat situasi monoton yang sama di Pajacombo, tetapi pemandangan selalu terlihat indah di depan mata kami.
Kami berencana berangkat dari Pajacombo pada hari pertama bulan Mei, tetapi kami terpaksa tinggal satu hari lagi. Perjalanan yang ingin kami lakukan orang-orang mengatakannya sulit dan meskipun dengan sedikit kesulitan kami akhirnya mendapat izin untuk memulainya. Kami akan melalui daerah yang belum sepenuhnya tunduk. Daerah-daerah di pantai timur hampir semua independen, dan Belanda tidak ingin memaksakan otoritas mereka dengan kekuatan untuk hasil yang tidak seimbang.
Kami tidak melewati lembah Jambi, ataupun Indragiri berdasarkan penolakan formal atas permintaan kami untuk maju. Kampar dianggap terlalu berbahaya, dan Batavia telah jujur,dengan tidak memberi izin untuk kunjungan ke sebuah wilayah yang kondisi damai-nya hanya berumur beberapa minggu. Akibatnya kami harus memutuskan, langsung ke Taboeg di Batu Gajah Kampar Kiri dan kemudian setelah itu dilanjutkan perjalanan ke Siak. Tetapi Asisten-Residen Pajacombo memberi kami pesan meyakinkan tentang kondisi di Limo Koto sehingga kami memutuskan untuk sekali lagi mengubah jadwal kami.
Pajacombo berada di pinggir Sinamar, anak sungai Ombilien. Jalan yang akan ditempuh akan membawa kami ke pasar Kota Baru, 45 km utara Pajacombo dan terus ke tepi Soengai Mahe, anak sungai Kampars. Dari sana kami naik sampan di Soengai Mahe, dan kemudian berlayar ke Bengkinang Teratak Boeloe dan kemudian pergi lewat darat ke tepi Sungai Siak Pakan Baru dan terakhir sampai Beng Kalis.
Untuk mencapai perjalanan ini tanpa hambatan, kami jelas membutuhkan pemimpin-pemimpin pribumi untuk memperingatkan kedatangan kami, dan juga memberitahukan ke komandan pos Bengkinang. Sayangnya, dan ini cukup sering terjadi, garis telegraf yang menghubungkan Pajacombo dengan Bengkinang rusak sehingga kami dipaksa untuk menunda keberangkatan kami satu hari.
Pajacombo adalah sebuah desa yang sangat besar, terletak di dataran yang cukup lebar, di mana pohon kelapa tumbuh, dan di mana sawah telah dibuat. Meskipun hampir di ketinggian 500 M., iklimnya menyenangkan. Disekitarnya pegunungan yang tinggi dan di lereng Gunung Sago setinggi 2240 M, di tengah-tengah perkebunan kopi, terdapat pasangrahan yang dibangun oleh penduduk desa, dimana udara segar dapat menjadi pengobatan. Perawatan dan pengaturan dilakukan dan dikelola oleh pasangrahan, termasuk di dalamnya kelompok bungalow atau rumah peristirahatan.
Orang Eropa tidak terlalu banyak. Di luar Asisten-Residen ada letnan komandan garnisun kecil, dokter dan dokter hewan. Pemerintah memiliki peternakan pejantan dengan perangkat yang sangat sederhana, di mana tidak ada bangunan mahal didirikan seperti di tempat lain. Seluruhnya hanya membutuhkan biaya 3000 gulden, dengan bangunan dari kayu dan jerami. Ada dua puluh dua kuda-kuda ras yang berbeda, dari pulau Sumba, yang terbesar dan paling terkenal dari Makassar dan kemudian Batak, dipilih dari hewan-hewan terbaik, namun harga rata-rata mereka lebih dari £ 300. Kuda jantan didistribusikan ke distrik yang berbatasan dengan Pajacombo, dan lokasi dipilih sedemikian rupa sehingga pemeriksaan dengan mudah bisa berakhir dalam beberapa hari. Para pemilik kuda menerima suatu keuntungan, yaitu anak kuda muda yang bagus dan terawat dengan baik.
Hanya ada satu orang Eropa, dokter hewan, yang ada di peternakan. Operasional dan staf yang telah ditunjuk, menghabiskan biaya tidak lebih dari £ 800 per bulan. Prasarana ini memiliki hasil yang sangat baik, hanya dalam dua tahun sudah ada sekitar 270 anak kuda yang sangat baik lahir di Pajacombo.
Pasar Pajacombo merupakan salah satu yang tersibuk seluruh Dataran tinggi Padang. Kami membeli beberapa perlengkapan untuk perjalanan. Ini terlihat seperti kerumunan padat orang, kota yang ramai dan riuh. Pajacombo adalah salah satu pos paling diminati di Sumatera. Iklimnya nyaman, sama seperti kecantikan dan kelembutan para wanitanya.
Tanggal 2 Mei pada pukul enam pagi, kami berangkat dari Pajacombo. Di utara dataran ini tertutup oleh sebuah tebing setinggi 1500 M. Beberapa lembah menembus pegunungan dan melalui ke atas pegunungan. Kami telah melewati Lembah Harrau, sebuah celah di antara gunung dinding tegak yang tinggi, di mana air terjun berbusa turun. Hari ini kami pergi menuju lembah Ayer Poetih.
(Gambar : Lembah Harau)
Kami sampai di Loeboek Bengkoeang yang berjarak 12 batu dari Pajacombo (satu batu adalah 1500 M), di mana kami naik di atas punggung kuda dan mulai mendaki jalan curam, sepanjang sisi angin lembah bertiup. Tanah terdiri dari batuan konglomerat tinggi kasar dan curam naik di atas sungai.

Sebuah karpet tanaman yang cukup lebat menutupi lereng dari permukaan sungai ke atas ketinggian. Kami secara perlahan maju di jalan yang telah banyak mendapat curah hujan. Setelah satu jam kami mencapai puncak gunung. Kami melihat ke bawah ke lembah di mana sungai memperoleh air dari lembah Ayer Poetih. Aku telah melakukan kebodohan dimana kudaku tergelincir dan jatuh di lantai jembatan kayu. Kakiku terhimpit di bawah hewan, topiku jatuh bergulung ke kedalaman ngarai, dan aku mendapat memar parah dan sayatan panjang di lengan dan kaki.

Kami berhenti beberapa saat di sebuah gubuk di sisi jalan. Daerah ini disebut Ulu Ayer. Kami berada di ketinggian 950 M., Celah yang akan kami tempuh beberapa ratus meter lagi, dan kami akan segera turun ke Kota Baru di 20 KM dari sini. Dari celah kami lihat bukit yang berurutan, yang secara bertahap menurun, di kejauhan lautan dedaunan, lautan hijau, hijau tua, gelombang luas menyebar lebih jauh dan lebih jauh di cakrawala.

Ini adalah hutan raksasa yang menutupi dataran, di mana kami akan lewat. Kemiringan pegunungan menuju 250 km dari sini, ke Selat Malaka. Kami tetap sejenak di atas. Lanskap ini, kasar dan gelap membuat kesan yang mendalam pada kami. Tidak ada jejak kehadiran atau aktivitas manusia. Tidak ada sepotong tanah yang telah diolah, tidak ada terlihat asap membumbung ke udara. Pepohonan sangat rapat, dengan tanah yang tidak digarap dan tidak diragukan lagi akan berada dalam bayang-bayang bahaya dan ancaman hewan buas. Rasa haus akan petualangan, keinginan dan keinginan untuk pengalaman baru, keinginan untuk hal-hal yang belum diketahui, sebagaimana perasaan semua orang , kenangan cerita masa lalu, mimpi-mimpi, mimpi masa kanak-kanak, semuanya ada di dalam diri dan menantang kami...

(***HABIS***)

(Fakta menarik :
1. Sangat disayangkan tidak ada ulasan tentang Fort van der Cappelen alias Batusangkar. Padahal kota ini dilewati dalam perjalanan Fort de Kock - Padang Panjang - Fort van der Cappelen - Payakumbuh. Kira-kira kenapa ya? Padahal di Batusangkar banyak yang bisa dibahas, terutama sebagai pusat kerajaan Minangkabau di Pagarayung.
2. Daerah-daerah di pantai timur Sumatera belum sepenuhnya ditundukkan Belanda karena dianggap hasilnya tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Belum tau rupanya kalau di sana banyak minyak...:)
3. Sangat sulit untuk mendapat izin perjalanan ke daerah-daerah tersebut. Izin pun harus diperoleh dari Batavia. Rute pun harus berubah-ubah sesuai informasi kondisi keamanan jalan yang akan dilalui.
4. Rencana rute perjalanan selanjutnya adalah Payakumbuh - Koto Baru - Berperahu di Sungai Mahat - Teratak Buluh - Bangkinang - Pekanbaru - Bengkalis
5. Sudah ada jaringan telegraf antara Payakumbuh dan Bangkinang saat itu. Tapi sering putus.
6. Di lereng Gunung Sago terdapat perkebunan kopi dengan bungalow-bungalow peristirahatan di tengahnya, yang disebut pasangrahan.
7. Orang Belanda di Payakumbuh tidak banyak. Hanya ada Asisten Residen, Letnan Komandan Garnisun, Dokter dan Dokter Hewan. Mungkin juga ada beberapa yang lain tapi tidak disebutkan.
8. Payakumbuh sudah menjadi sentra pembibitan kuda. Tercatat ada 22 ras yang dikembangkan dengan pengawasan seorang dokter hewan Belanda! Bayangkan. Dokter orang saja jarang pada saat itu, lahhh ini dokter kuda disediakan. Artinya, kuda sangat berharga...
9. Pembibitan itu berlangsung sukses. Terbukti telah lahir 270 anak kuda ras dalam dua tahun. Well done, tuan dokter kuda!
10. Payakumbuh termasuk pos yang diminati orang Belanda, terutama karena iklim dan kecantikan wanitanya...
11. Hitungan satu batu berarti berjarak 1,5 kilometer.
12. Rimba antara Payakumbuh dan Bangkinang masih perawan, belum terjamah, lebat dan menyeramkan. Berkemungkinan rombongan ini berhenti di lokasi puncak panorama Selat Malaka sekarang, dan memandang sekeliling, hanya ada hamparan pucuk-pucuk pohon hijau pekat bergelombang naik turun sejauh-jauh mata memandang......
13. Sampai disini habis bagian perjalanan di Ranah Minang. Terjemahan ini mestinya diteruskan oleh blogger dari Riau....hehe)

(sumber : gutenberg.org)

Selasa, 14 Juni 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian IV

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Keempat dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Ketiga silakan
klik disini)


Kami membalik untuk menyaksikan untuk terakhir kali pemandangan yang indah ini, angin bertiup kuat, dan kami segera kembali ke Matoea terus ke Fort de Kock. Badai mengancam, dan jalan terjal yang menanjak ke atas Si Anoq. Kami memacu kuda-kuda kami melarikan diri agar terhindar dari hujan.
Pada saat kedatangan kami di Fort de Kock, di hotel kami berjumpa dengan kepala Laras Soengai Poear, atas permintaan salah satu teman kami untuk mempersiapkan dan menyewa pemandu dan porter bagi perjalanan kami ke Merapi .
Keesokan harinya di siang hari kami pergi ke Soengai Poear. Angku Laras mengajak kami makan, masakan harum dibuat dari daging rusa kering dan dibumbui dengan selera yang sesuai.
Salah satu rekan saya dari Fort de Kock tidak jadi berangkat. Ia mendapat luka di kaki, dan tampaknya cukup serius, ia memutuskan untuk tinggal. Jadi kami hanya berdua, dan kami melakukan pendakian selama tiga jam di sore hari itu. Kami berada di ketinggian 1100 M., dan harus menghabiskan malam di sebuah pondok di ketinggian sekitar 2000 M. Awalnya jalan cukup bagus, tetapi segera kami mencapai akhir itu, dan segera menjadi sulit, jalan berbatu, curam, semakin tinggi. Pada jam setengah enam kami akhirnya mencapai tujuan dan kami merasa lelah. Kabut telah menyebar, dan kami melihat di kejauhan, lereng gundul dan lebih rendah, perkebunan kopi, Soengai Poear dan Fort de Kock.
Malam yang dingin berlalu dengan tenang. Untuk waktu yang lama tidak ada yang melewati hutan ini, penuh dengan pakis, tanaman merambat dan berbahaya, penuh juga rumput, yang bermata, dan semak belukar, yang sangat berduri. Di sana-sini jalan setapak menghilang, dan pemandu akan melihat ke belakang, menyelinap, bertiarap di bawah semak-semak dengan parang dan lorong sempit. Alang-alang menyembunyikan lubang tak terduga yang berbahaya, dan setiap kali kaki tenggelam di 'jalan kosong ‘, maka itu akan membuat jungkir balik di rumput basah. Hari belum terang, dan beberapa bintang bersinar. Jika melihat ke belakang, terlihat di belakang kami awan putih polos menggantung.
Akhirnya, setelah setengah jam, kami meninggalkan hutan dan semak belukar. Tidak ada di depan kami selain kemiringan setinggi 200 M, sungai lava hitam yang mengalir, bergerak di bawah kaki kami. Pendakian masih berlanjut, dan kami mencapai dataran tinggi, dikelilingi oleh dinding lagi. Sebuah tingkat kedua naik sedikit lebih jauh, dan ketika kami lihat, sebuah mangkuk dangkal di tengah kawah yang terbuka.

(Gambar : Kawah Gunung Merapi)
Ini adalah lubang hitam dengan diameter 200 sampai 300 M., dengan asap tebal yang tak bersuara. Aku berjalan di sekitarnya. Pinggiran kawah sebelah selatan sedikit lebih tinggi dan lebih tipis, dan meruncing di atas kedalaman yang menganga. Ada tangga sempit, diukir di batu, sangat sempit sehingga tangan seseorang akan basah waktu menaikinya. Pada kedua sisi menguap jurang; asap belerang membuat seseorang tersedak. Aku mundur beberapa langkah, ke tempat yang cukup lebar untuk menempatkan kaki, dan tanah basah lengket. Aku kembali beberapa meter ke bawah dan beristirahat di atas sebuah dataran tinggi yang sempit, dari mana aku bisa melihat panorama yang indah.
Segera hari menjadi pagi. Sebuah secercah pucat muncul seperti surga. Angin membawa awan pergi, dan dataran muncul dari kegelapan. Puncak tinggi, titik tertinggi dari Merapi, di sebelah timur menyembunyikan bagian dari cakrawala dimana matahari bersinar merah. Tampak berwarna ungu bagian atas gunung Singgalang.
Semakin terang, sementara lembah di bawah kami bayangan gelap besar masih melingkupi hutan. Di kejauhan kami melihat laut, gulungan ombak yang tenang. Kami melihat lengkungan pantai, dan garis pasir putih yang indah jelas terlihat sebelum massa hijau tua.
Lembah Anei terbuka, dan sungainya terlihat seperti garis besar busa. Rumah-rumah di Padang Pandjang di tengah-tengah. Danau Sing Kara menunjukkan dirinya di Selatan, dan tebing di tepi kanan disinari oleh matahari cerah, sedangkan yang ke kiri tetap dalam bayang-bayang pegunungan yang curam. Dataran Fort de Kock, dihiasi dengan desa, tersebar di depan kami, dengan sawah dan dihiasi dengan tebing putihnya. Air terjun memantulkan cahaya seperti cermin logam dan aliran lampu terang sekilas. Sebuah rangkaian gunung terlihat, Tandikat, Singgalang yang tipis, pohon-pohon kecil berdiri sekitar kolam kecil, sehingga tampaknya seperti cangkang berbingkai yang memegang danau Manindjoe. Kemudian gunung Ophirberg dan batu kapur dan formasi batuan aneh Pajacombo, dan di Selatan di kejauhan, Indrapoera yang gilang-gemilang dan, lembah besar Korintji.
Adegan ini bukan hal baru bagiku. Aku ingat perjalanan ke Bromo dan kabut putih naik dari kawah raksasa.

(Gambar : Merapi mengingatkanku akan Gunung Bromo)
Tapi kami harus pergi, membenamkan diri lagi dalam kabut. Penurunan bahkan lebih sulit daripada pendakian. Pada tanah yang licin, ditutupi dengan daun basah, terbenam hampir ke lutut. Kami muncul dengan tertutup lumpur di pondok tempat rekanku menunggu. Kami melanjutkan perjalanan ke bawah dengan langkah tidak pasti, kadang-kadang cepat, karena ditarik berat badan sendiri. Akhirnya tiba Soengai Boeloe dimana kereta api akan membawa kami kembali ke Fort de Kock.

(Sumber : gutenberg.org)
(Fakta menarik :
1. Pada waktu itu masih banyak rusa. Buktinya Angku Lareh Sungai Pua menyuguhkan dendeng rusa kepada tamunya. Mungkin juga rendang rusa? Hmmmm.....jadi terbayang harumnya rendang yang sedang dimasak....:)
2. Mereka mulai mendaki Gunung Merapi selepas tengah hari. Selanjutnya menginap di ketinggian 2000 M. Sebelum fajar sudah jalan lagi sehingga sampai di puncak sebelum terang. Berbeda dengan sekarang, para pendaki gunung Merapi naik malam hari dan non-stop sampai di puncak juga menjelang terang.
3. Satu hal lagi yang berbeda dengan pendaki sekarang adalah rute. Mereka naik dan turun dari sisi Sungai Pua, sebuah rute tradisional yang sekarang tidak umum. Rute sekarang adalah dari Koto Baru, di pinggir jalan Padang-Bukittinggi.
4. Jaman itu belum banyak orang yang naik gunung. Terlihat dari jalan yang harus dirintis dulu oleh pemandu lokal. Semak dan rumput tebal setinggi lutut. Belukar yang sudah membentuk lorong. Bahkan ada juga jalan yang 'hilang' dan membuat kaki kejeblos. Untung bukan kejeblos jurang, meneer!
5. Kawah merapi waktu itu berdiameter 200 - 300 m. Sekarang berapa ya?
6. Di sisi kawah ada tangga batu! Buatan siapakah? Penduduk lokal, Belanda, atau ..... alien...???!! *pikiranliar dot com*
7. Dari puncak merapi kelihatan samudera Hindia, lembah Anai, Danau Singkarak, Bukittinggi, Danau Maninjau, Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, Gunung Pasaman (Ophirberg), Payakumbuh, Indrapura dan Kerinci. Luar biasa!
8. Gambar terakhir sepertinya tidak sinkron dengan gunung Merapi. Terlihat seseorang (mungkin penulis) berjongkok sambil merokok dengan latar belakang sebuah gunung yang berasap. Keanehannya adalah jika si penulis memanjat gunung Merapi, maka gunung yang berasap di belakangnya itu gunung apa? Karena di Sumatera Barat gunung yang sering mengeluarkan asap hanya gunung Merapi. Perhatikan juga pakaian dan sepatunya. Kira-kira mungkin tidak orang naik gunung Merapi yang jalannya harus dirintis dulu sampai tiarap-tiarap dengan jas dan sepatu kulit? Rasanya tidak. Melihat lapisan pegunungan di belakangnya, berkemungkinan gambar ini adalah memang di Gunung Bromo Jawa Timur dan ditampilkan hanya sebagai ilustrasi. Karena ke Gunung Bromo orang bisa berkuda sehingga wajar berpakaian begitu.... )
---Untuk meneruskan ke bagian kelima klik disini

Senin, 06 Juni 2011

Anai Mengamuk (1892)

Dunsanak semua,
Karena jadwal yang padat maka minggu ini kegiatan penterjemahan buku Van Batavia Naar Atjeh terpaksa tertunda dulu. Namun untuk menggantinya, ambo akan menampilkan sesuatu yang tidak kalah menariknya.
Sebagaimana dimuat dalam buku tersebut diceritakan bahwa setahun setelah dibuka, rel dan jembatan kereta api yang berada di kawasan lembah Anai rusak dihantam banjir. Foto-fotonya dikatakan begitu "menakutkan bagi tiap insinyur Eropa" (untuk membacanya klik disini). Namun disebutkan juga bahwa perbaikan segera dilakukan dengan biaya 600 ribu gulden.
Nah, ambo coba membongkar arsip Tropen Museum dan menemukan foto-foto ini, yang merupakan foto kerusakan akibat banjir tersebut, dan bertanggal tahun 1892. Silakan dinilai, semenakutkan apa kejadian itu. Bahkan banjir besar di lokasi yang sama tahun lalu mungkin tidaklah sedahsyat ini, karena tidak sampai menghanyutkan jembatan Kereta Api.


(Gambar : Jalan Kereta Api terputus akibat tertimbun tanah longsor)

(Gambar : Jembatan Kereta Api terputus dan "terduduk" di dalam Sungai Batang Anai)

(Gambar : Jembatan Kereta Api bengkok dan lepas akibat dorongan banjir)

(Gambar : Tanah dan bantalan rel Kereta Api hanyut, tinggallah rel besi menggantung)


(Gambar : Rel Kereta Api terdorong dan tergeletak ke dalam sungai)

(Gambar : Pandangan dari sisi lain)


(Gambar : Rel Kereta Api dan tembok penahan tebing setelah diperbaiki. Di dalam sungai masih terlihat sisa-sisa beton dan besi lama)


(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)


(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)
(Sumber : Tropen Museum)




Senin, 30 Mei 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian III

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Ketiga dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Kedua silakan
klik disini)


(Gambar : Buah melimpah di pasar)


Lalu muncullah kaum wanita. Mereka mengenakan sarung dan baju panjang dengan peniti emas. Mereka menggunakan penutup kepala, yang kelihatan melebar ke samping seperti memunculkan dua sayap, sementara kedua ujung belakangnya menggantung ke bawah, dengan membawa beban di kepala mereka. Mereka berjalan dengan cepat di sepanjang jalan, dengan perhiasan di tangan dan dada. Cincin emas, hiasan rambut, anting-anting, kalung manik-manik berwarna, ikat pinggang dan perhiasan emas lainnya.


(Gambar : Penduduk pergi ke pasar)

Sumatera adalah daerah pengrajin emas. Di Fort de Kock, lereng gunung Singgalang, penduduk desa Kota Gedang mengolah semua jenis perhiasan, mereka juga membuat kain yang indah, membuat sulaman terawang, dan seni halus lainnya untuk mempercantik gadis manis di daerah indah ini.
Fort de Kock mempunyai ketinggian 930 M. Tinggi dan memiliki suhu yang sangat nyaman. Namun situasi kesehatan masih jauh dari sempurna, demam adalah biasa disini. Dokter Belanda banyak memberikan resep untuk nyamuk yang melayang di atas genangan sawah di sekitar kota yang membentuk rawa buatan yang besar. Dari perspektif ini, Padang Pandjang, meskipun jauh lebih rendah, jauh lebih disukai. Kecuraman dari lereng sana menghilangkan genangan air, dan berkat curah hujan yang melimpah dan teratur tidak ada variasi yang besar pada suhu. Selain nyamuk, bagaimanapun, kondisi orang Eropa di Fort de Kock dan koridor kecokelatan yang teduh menunjukkan tingkat kesehatan yang baik di sini.
Orang Eropa sebagian besar pergi berlibur kesini, dan banyak perwira datang dan pergi dari Aceh. Ada banyak garnisun, dan mereka hidup nyaman dan sederhana, dengan kenyamanan dan gaya hidup yang efektif, seperti yang saya lihat di Jawa. Barak kecil, bangunan rendah, yang tidak memiliki kesamaan dengan reuzentabernakels kami yang menghabiskan biaya besar di Saigon, Hanoi, Dakar dan Saint Louis.
Di sini semua orang tidak merasa tercela tinggal di rumah kecil. Sebuah rumah dengan taman di mana orang dapat berjalan ke rumah tetangga dalam tiga puluh langkah.

(Gambar : Rumah perwira di Fort de Kock)

Di luar hampir tidak ada apa-apa, dan tidak ada alasan untuk membangun sesuatu disana. Di Hindia Belanda barak menempati wilayah besar, mereka tidak di dalam kota, seperti di Saigon atau Hanoi, tetapi di luar. Bangunan biasanya dibuat di lereng landai, yang berdrainase baik dan dibedah oleh parit-parit yang dalam dari semen, yang masih banyak mengalir air. Ada taman bunga besar, banyak pohon dan udara segar, paviliun dan di belakang masing-masing rumah memiliki kamar mandi kecil dalam jumlah yang cukup. Kotak-kotak ini begitu kecil. Tidak ada rumah yang memiliki ruang dengan dinding bercat putih, , betapapun kecilnya, di mana terdapat sebuah bak mandi dengan air jernih, untuk mandi berendam.
Di luar barak ada klub para bintara dan prajurit. Para perwira juga pergi ke Club, Harmony, dimana pegawai negeri juga menjadi anggota, tetapi para prajurit memiliki lingkungan mereka sendiri. Mereka memiliki ruangan membaca dan permainan, lapangan untuk permainan bola dan tennis, dan yang mungkin dapat menjelaskan bahwa situasi kesehatan di Hindia Belanda lebih baik daripada di Indo-China.
Pada malam hari, para tentara kelihatan tampan berseragam coklat, dengan menggandeng atau memeluk pinggang seorang gadis. Di barak, para wanita bebas menemui pasangannya, dan ada dapur terpisahnya, dimana masing-masing menyiapkan hidangan untuk pasangannya tersebut. Area tidur dipisahkan menjadi dua, untuk bujangan dan keluarga. Para perwira yang membawa saya berkeliling, memuji kebebasan yang mereka dapatkan, yang mereka anggap sangat diperlukan untuk menghapus kerinduan pada rumah dan semua hal-hal sedih lain, dan saya pikir mereka benar.

(Gambar : Kamar di dalam barak tentara di Fort de Kock)

Bukan berarti sistem seperti itu dapat diterapkan pada seluruh koloni. Harus juga memperhitungkan karakter dan temperamen. Orang Belanda di sini senang dengan kehidupan yang tenang dan monoton. Di Fort de Kock, di Batavia dan di tempat lain ada sedikit perbedaan. Namun lingkungan disini indah. Kami suka itu. Kami akan mengunjungi danau Manindjoe dan kawah gunung Merapi.
Kami pergi dengan mengendarai kuda, pagi pada tanggal 22 April. Ketika pertama kali meninggalkan kota kami turun ke jurang yang dalam, yang mengalir anak sungai dari Masang, Si Anoq. Sungai berliku dengan kedalaman antara 2 M-300 M. Lembah yang luas, dikelilingi oleh dinding putih, yang curam dengan kedalaman 100 M. Lembah ini disebut Karbouwengat. Kami mengarungi sungai ke hulu dan mengikuti tepi sampai bertemu dengan sungai lain. Kabut pagi membuat batu berwarna terang dengan pegunungan yang tajam dan bentuk terpahat memberi kesan yang mendalam. Setiap jejak air ke dalam batu pasir yang lembut memiliki alur dalam, di mana banyak tanaman tumbuh. Di sana-sini blok terpisah, dimahkotai dengan pohon-pohon.
Di atas dataran tinggi kami melihat ke arah ngarai, sempit berkelok-kelok, karena ada begitu banyak di sini. Mereka membentuk tanjung dan pulau-pulau, dataran hijau tempat kerbau digembalakan. Kami segera turun ke dalam lembah Masang. Bambu dan semak yang menunjukkan tempat dimana sering dilewati, sekarang rata dengan tanah karena banyak hujan.
Di desa pasangrahan Matoea kami meninggalkan barang-barang kami. Pengawas laki-laki pribumi telah menunggu kami, dia telah menyewa kuda segar dan setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan. Daerah ini menawan. Kanan dan kiri jalan tanah naik secara bertahap, dan ada gundukan bulat di atas dengan kanopi hutan. Kampung terdiri dari deretan rumah sepanjang sawah, dan di mana-mana kita melihat atap dengan ujung runcing, sehingga tampak akan terbang segera. Belakang punggung bukit nampak tidak teratur, mendekati cakrawala, kabut naik dan menyebar ke semua sisi. Kami masih berada di ketinggian, saat tampak seolah-olah tujuan menghilang di depan kami, dan tiba-tiba tenggelam dan kemudian tanah di bawah kaki juga menghilang, kami melihatnya. Danau Manindjoe.
Lingkaran danau yang tenang, adalah sebuah kawah kuno berdimensi raksasa. Danau itu sendiri memiliki panjang 16 KM dan lebar 8 mil. Sekitar pantai, air mengikis tebing, dengan ketinggian antara 11 M-1200 M. Tinggi di atas tepi danau. Jalan di mana kami lewat dan seolah-olah akan jatuh tadi berada 700 M di atas danau. Lereng ke sisi danau sangat terjal dengan jurang dan jalan yang berkelok-kelok mengitari pegunungan, di mana sawah bertingkat-tingkat, dengan taman di sekitarnya.


(Gambar : Danau Manindjoe)
Yang tidak menggembirakan adalah langit gelap dan mengancam. Di sekitar danau berkabut tebal. Ketika melihat ke selatan hanya terlihat dinding hitam, naik di atas air, di mana kabut putih pucat merayap. Sesekali petir menerangi dinding ngarai, dan terbayang adegan mengerikan saat aliran lava pijar datang bergelombang dulunya. Sinar itu menerangi sawah yang berwarna emas pucat, kebun kelapa, atap besi dan kayu, dan kami terus berlanjut mendekati permukiman. Kami dengan cepat menurun ke bawah, memotong jalan tanah licin, kuda kami gesit dan cepat seperti kambing. Tidak ada angin, kami hanya melihat sedikit riak di permukaan air, di atas kabut menggantung, lalu tiba-tiba beberapa tetes air mulai jatuh. Kami berada di hutan di ngarai yang sempit,tiba-tiba hujan lebat, membuat kami basah kuyup sampai di Manindjoe.
Auditor Manindjoe telah diberitahu sebelum kedatangan kami. Kebaikan luar biasa dari penerimaan nya membuat kami segera melupakan pengalaman yang tidak menyenangkan tadi, dan saat kami menyesal bahwa kami hanya sedikit menyaksikan pemandangan yang indah karena kabut, dia mengajak kami untuk melanjutkan pada sisa hari. Saat matahari muncul lagi, langit cerah, dan kami jadi lebih dapat melihat dengan cara yang berbeda. Kami menerima tawaran agar seorang pelayan dikirim ke Matoea untuk mengambil barang-barang. Kami menghabiskan sore yang menyenangkan. Hujan telah berhenti. Kami berdayung di danau. Air, bergerak dalam membuat jurang di antara perahu.
Malam jatuh, malam yang indah dan hening, garis-garis warna merah dalam kabut abu-abu membuat suasana seperti di surga. Tidur nyenyak tanpa terganggu oleh apa-apa, tidak ada angin, tidak ada tangisan, dan hanya beberapa lampu malu-malu bersinar sepanjang tepian, di bawah pohon palem tinggi.
Keesokan paginya saat fajar kami meninggalkan Manindjoe dengan rasa sedih. Inilah surga tempat dimana orang-orang bisa hidup dengan tenang , dengan udara yang lembut dan indah! Tidak ada tempat di dunia ini yang pernah saya rasakan begitu memberi kedamaian dan kebahagiaan.
(Fakta menarik :
1. Memang sudah kodratnya bahwa kaum ibu itu kalau ke pasar selalu full asesoris. Sejak jaman dulu ternyata....:)
2. Koto Gadang sudah terkenal sebagai daerah produsen perhiasan dan sulaman.
3. Meskipun banyak nyamuk, tapi orang-orang Belanda di Bukittinggi sehat-sehat.
4. Bukittinggi sudah jadi lokasi berlibur bagi orang-orang Belanda, terutama dari Aceh. Ini tentu karena di Aceh waktu itu masih perang basosoh. Jadi refreshing itu perlu untuk yang baru pulang dari front pertempuran.
5. Lokasi garnisun di Bukittinggi (lapangan kantin sekarang) berada di luar kota.
6. Rumah perwira dianggap terlalu kecil di mata orang Belanda. Juga kamar mandinya, yang tidak pakai bath-tub. Meski demikian, toh mereka enjoy-enjoy saja....
7. Para prajurit dan para perwira memiliki club atau tempat ngumpul yang berbeda. Disana mereka membaca dan main bola atau tenis.
8. Para tentara bebas membawa wanita ke dalam barak. Katanya obat kangen kampung halaman....
9. Perjalanan ke danau Maninjau dilakukan lewat bawah ngarai Sianok dan naik lagi menjelang Matur. Jadi bukan lewat jalan umum. Ini yang menyebabkan pemandangannya menjadi menakjubkan.
10. Deskripsi tentang danau Maninjau, kabutnya, awan mendung dan hujannya serta suasananya sungguh detail dan luar biasa. Sampai sekarang Maninjau masih seperti itu.....)
(Sumber : www.gutenberg.org)
---Untuk melanjutkan ke bagian keempat klik disini

Selasa, 24 Mei 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian II

(Pengantar : Tulisan berikut adalah Bagian Kedua dari terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.

Bagi yang belum membaca Bagian Pertama silakan klik disini)


Gambar : Mesjid dan desa di kaki Gunung Singgalang
Kami menginap di Solok dan pergi lagi pagi-pagi. Beberapa kilometer selanjutnya kami menurun sepanjang Lassi, tapi kemudian sebuah ngarai sempit membuka, dan kami melalui terowongan sepanjang 800 sd 900 M. Kami memasuki lembah Sawah Loento.
Lapisan batu bara di Sawah Loento tersebar di area permukaan yang sangat luas sepanjang lembah sungai Ombilien. Hanya bagian selatan dioperasikan. Terbagi dalam tiga lapisan paralel, yang terendah dengan ketebalan 6 sampai 8 M. Batubara diambil dari tambang, lalu ditempatkan dalam gerobak yang ditarik oleh kerbau, untuk jarak sekitar 1500 m. Kemudian dipindahkan ke gerbong, untuk dikirim ke Emmahaven.
Kami berjalan dengan susah payah di sepanjang jalan sempit dalam tambang. Di atas genangan lumpur hitam yang meliputi tanah, kerbau menarik kereta di atas genangan air. Mereka terlihat ketakutan dan bodoh. Dengan kepala menunduk, mereka segera kembali bergerak lambat, melangkah lebar-lebar, menumpukan berat di tanah, di atas air berlumpur.
Kami mengakhiri wisata tambang antara dua dinding hitam besar. Tentu saja meskipun panas gerah, kami senang ketika melihat matahari lagi. Para penambang, kebanyakan laki-laki Cina dan Melayu, masih terus melanjutkan pekerjaannya. Kebanyakan narapidana Melayu. Mereka rindu dengan matahari dan daerah dengan pemandangan yang luas. Sementara orang Cina menerima upah. Para buruh bekerja di bawah pengawasan pengawas, yang juga narapidana, tetapi kekuasaannya diakui oleh semua. Tidak sulit untuk memimpin para buruh miskin ini. Keterasingan, hukuman, dan demam telah menghancurkan kekuatan mereka, juga ketidakpedulian terhadap kebersihan. Dan hanya sesekali terjadi perkelahian, yang biasanya berakhir dengan pengadilan.
Penduduk disana semakin padat. Meskipun batubaranya berkualitas rendah, produksi dan penjualan meningkat setiap hari. Sekarang mencapai 18 000 ton per bulan dan hampir 3000 penambang bekerja di sana. Yang terakhir ini adalah pegawai negeri, dan juga mengoperasikan kereta api, sedangkan seorang insinyur bertanggung jawab untuk mengawasi seluruh pekerjaan dan kegiatan di Emmahaven. Meski Sawah Loento berjarak 156 mil dari pelabuhan, dengan tanjakan lebih dari 58 mil langsung melalui Soebangpas, tetapi dipilih rute melalui Padang Padjang sehingga nantinya dapat dibantu dengan kereta dari wilayah Fort de Kock dan Pajacombo. Setelah kunjungan kami ke tambang tersebut, kami kembali ke Solok, untuk bermalam di situ.

Solok bukanlah sebuah kota melainkan sebuah desa besar. Tanah di sekitar itu baru sedikit yang digarap, dan peradaban belum seperti di Jawa. Hewan-hewan liar masih banyak. Kami melihat harimau muda yang tertangkap dua hari sebelumnya. Dia berada di belakang di taman dalam kandang berat, dan begitu ia melihat kami, dia melompat ke arah kerangkeng dan menyambut kami dengan “ramah”nya. Rasa lapar dan obat bius tidak merubahnya menjadi tenang. Dia gugup dan ia meregangkan ototnya, matanya berapi-api dan bibir terangkat, sementara gemuruh auman membosankan dari mulut yang terbuka, dan lubang hidung bergetar dengan keinginan pada bau daging manusia hidup.
***

Gambar : Desa antara Fort van der Cappelen (Batusangkar) dan Pajacombo
Kami menghabiskan delapan hari di Padang Bovenlanden dan sekarang siap untuk pergi lagi. Setelah perjalanan pertama kami ke Padang, kami akan tinggal disana hanya satu hari.
Kami menginap di Hotel Aceh. Sebuah bangunan persegi besar di panggung berdiri tegak di tengah alun-alun yang ditanami pohon. Sebuah beranda raksasa, dengan meja dan kursi goyang. Ruang makan ada di sisi lain dan koridor mengarah ke sana, menghadap ke kamar. Di kedua sisi dari gedung persegi terdapat kamar sempit panjang, di mana kita menginap. Dinding dan langit-langit terbuat dari kayu dan begitu panas, sedangkan suara-suara bisa terdengar dari satu ujung ke ujung lainnya. Tikus-tikus berjalan-jalan dan tampak tertarik pada kulit sepatu saya dan pakaian kanvas kami. Sepanjang hari itu hotel seperti mati. Jam lima baru ada gerakan. Semua orang berpakaian santai melewati tangga curam lambat-lambat dan pergi ke kamar mandi. Orang-orang mengenakan jaket putih pendek dan celana lebar kain Jawa dengan gambar hitam besar berwarna coklat atau biru. Para wanita yang terbungkus dalam sarung berwarna-warni, dalam berbagai tampilan bentuk, menuju kamar mandi.
Tapi tontonan tersebut tidak cukup untuk membuat kami bertahan di Padang, dan kami menyelesaikan persiapan untuk berangkat lagi dengan tergesa-gesa.
Kami tiba siang hari di Fort de Kock. Ia adalah ibu kota daerah atas, dan merupakan lokasi penempatan terbesar pasukan garnisun. Kota ini dibangun di tengah cekungan, dikelilingi oleh pegunungan tinggi di sebelah Barat, Selatan dan Utara. Ke arah Timur menurun ke daerah lembah Masang Sinamar dan dataran Pajacombo.
Tanahnya subur terdiri dari batu pasir yang relatif muda, lembut, dimana alur sungai mengikis mendalam, dan terutama di sebelah utara anda dapat melihat lembah besar dengan dinding curam di mana-mana. Pada awal abad ini daerah ini tertutup hutan lebatdi sisi lembah dan pegunungan, dan daerah ini lebih dari nyaman untuk perang gerilya dengan penyergapan dan pengkhianatan, yang begitu lama telah mengamuk.
Perang akhirnya selesai. Belanda telah menaklukkan. Kelompok-kelompok bangsa Minang telah mempertahankan tanah dan kepala mereka. Mereka menyatakan bahwa mereka adalah orang bebas. Mereka berbahasa Melayu, tetapi dengan nada keras. Dalam perjanjian perdamaian tidak ada kewajiban bagi mereka selain pemeliharaan jalan dan penanaman kopi. Mereka benar-benar tahu bahwa kemenangan sebenarnya ada di pihak mereka.
Mereka adalah petani terampil dan pedagang yang cerdas. Meskipun demikian, tidak terlihat kereta orang Cina untuk masuk ke dalam persaingan dengan mereka. Pada hari pasar terlihat garis panjang pribumi di sepanjang jalan yang sibuk.

Para pria memiliki kebanggaan diri, berdiri tegak dan mereka tidak menunduk ke bawah untuk merendahkan diri ketika bertemu dengan orang Eropa. Beberapa orang memegang sangkar burung di tangan dengan handuk di atasnya, . Mereka membawa burung katitiran, burung seukuran merpati, sebagai penjaga di hampir setiap rumah. Ia dipercaya membuat bisnis berhasil, melindungi keluarga dari penyakit tanaman dan kekeringan. Namun itu tidak berlangsung selamanya. Setelah empat tahun ia kehilangan semua kekuatannya, dan sampai batas waktunya tuannya akan berduka atas kematiannya. Tubuhnya diawetkan dan disimpan di atap rumah , dan sang tuan bergegas pergi ke pasar untuk membeli burung yang baru.
Hari pasar selalu menjadi hari yang sibuk. Ada kerumunan, bergerak bersama-sama. Kereta, kerbau atau sapi dimanfaatkan untuk berjalan. Di antara payung cantik besar warna-warni terlihat buah, gerabah, kain kapas, perhiasan dan kue. Ada buah raksasa, yang jelek baunya tergantung di pohon-pohon, yaitu durian, dengan duri tajam sepenuhnya dengan daging buah berwarna putih krem dan memerlukan keberanianuntuk mencicipinya. Ini tampaknya merupakan kehendak alam, yang menghasilkan , buah juicy dengan daging yang lezat namun memiliki bau yang mengerikan.
Selain itu ada mangga. Ia adalah sesuatu yang sehalus salju dan meleleh di mulut dan dingin, dengan rasa aneh yang harum . Dan kemudian ada adalah bertandan-tandang pisang, jeruk dengan ukuran besar, kelapa dan lain-lain.

Para pria berjongkok di bawah pohon melihat burung Katitiran, yang dipuji-puji oleh pedagang. Perempuan menjual minuman dan potongan aneh produk yang lengket, berwarna hitam atau merah, dan mereka membuat kopi dari daun kopi, yang digantung pada potongan bambu dan yang tersebar di tanah. Paket kecil tembakau coklat dibungkus daun enau juga dijual dan dipotong kecil-kecil, tipis, yang digulung oleh perokok sebagai rokok mereka. Di jalan terlihat laki-laki berjalan dengan kera besar di belakangnya, yang patuh mendaki pohon kelapa tinggi, untuk mengambil kelapa yang sudah matang.
.....................................
(Fakta menarik:
1. Batubara dikeluarkan dari dalam tambang dengan menggunakan kereta yang ditarik oleh kerbau. Tambang yang beroperasi juga baru tambang dangkal dengan kedalam 6-8 meter.
2. Ternyata selain narapidana (orang rantai istilah di Minang umumnya), di tambang batubara juga banyak bekerja orang Cina, meskipun mereka menerima upah.
3. Kembali istilah Soebangpas muncul. Dimana ya?
4. Solok masih merupakan desa besar dengan binatang buas yang berkeliaran.
5. Fort de Kock atau Bukittinggi merupakan tempat konsentrasi pasukan garnisun Belanda terbanyak. Pasti hal ini berkaitan dengan Perang Padri.
6. Di Padang ada hotel yang bernama Hotel Aceh. Agak unik juga. Yang punya orang Aceh atau bagaimana? Soalnya rasa ke-Indonesia-an kan belum tumbuh waktu itu, sehingga agak kurang lazim menggunakan atribut daerah lain di suatu daerah. Biasanya malah nama Belanda, seperti Hotel Oranje.
7. Perang Padri selesai. Namun orang Minang hanya diminta memelihara jalan dan menanam kopi sebagai pihak yang "kalah". Meskipun akhirnya ada juga belasting atau pajak, bahkan sampai terjadi pemberontakan di beberapa daerah.
8. Meskipun ditaklukkan Belanda, orang Minang tidak kehilangan ke-PeDe-annya. Mereka tetap egaliter. Terbukti bahwa mereka tidak menunduk atau merendahkan diri ketika berpapasan dengan orang Eropa. Nada bicaranya juga keras. Maklum, orang Sumatera, bung!
9. Orang Minang diakui sebagai petani yang terampil dan pedagang yang cerdas. Bahkan orang Cina tidak berani bersaing di pasar (tradisional).
10. Orang Minang suka memelihara burung Katitiran sebagai penjaga rumah. Agak diragukan juga pendapat penulis bahwa burung Katitiran bagi orang Minang dianggap sebagai "juru selamat". Karena, agak berbeda dengan orang Jawa (tradisional), memelihara burung bukan sesuatu yang wajib bagi orang Minang.
11. Penulis sangat takjub dengan buah-buahan lokal seperti durian yang disebut "buah lezat berbau mengerikan" atau mangga yang disebut "selembut salju, lumer di mulut dengan bau wangi yang aneh." Alamak!
12. Orang Minang minum kopi yang dibuat dari daun kopi (kawa) dan merokok daun enau. Ini tentu karena biji kopi sudah habis dikirim ke Eropa semuanya oleh Belanda...)
--- Untuk melanjutkan ke bagian III silakan klik disini
(Sumber : www.gutenberg.org)

Sabtu, 21 Mei 2011

Van Batavia Naar Atjeh (1904) - Bagian I


(Pengantar : Tulisan berikut adalah sebuah terjemahan bebas dari buku berjudul Van Batavia Naar Atjeh, Dwars Door Sumatra De Aarde en Haar Volken (Dari Batavia ke Aceh, Bumi dan Rakyat Sumatera) yang merupakan catatan perjalanan sang pengarang, Fransch F. Bernard. Buku ini aslinya diterbitkan pada tahun 1904 dan saat ini telah didigitasi oleh Project Gutenberg.
Buku ini menjadi menarik karena gaya bahasanya cukup detail dan dilengkapi dengan foto-foto.
Terjemahan ini hanya mengambil bagian yang meliput Ranah Minang.
Tips membaca : resapi kata demi kata dan bayangkan.... Masa lalu memang selalu terlihat lebih romantis! :) )


..............
Mendekati Padang, kapal cukup dekat sepanjang pantai. Pegunungan indah muncul dan semakin dekat kami ke Padang, semakin sempit pantai, di mana desa-desa dihiasi dengan kebun hijau. Bukit Barisan muncul seperti dinding tinggi yang naik dari laut. Ia berubah dari curam, batu merah, tertutup dengan warna hijau dan tiba-tiba turun ke dalam gelombang. Di sela-sela pegunungan muncul sebuah teluk melengkung biru dengan semenanjung berpasir dan laguna yang tenang, pohon-pohon palem bergoyang di tiup angin, dan daun halus berkilau dibawah Matahari mengubah nada dalam lanskap dari biru laut ke biru langit.
Pertama-tama terlihat bambu dan pohon kelapa, pohon-pohon besar dengan dedaunan gelap dan potongan besar bayangan misterius,membentuk tirai dengan menyebar warna ungu. Tempat ini terlihat indah, dan keindahan alam yang luar biasa sangat menarik orang-orang Eropa. Alam yang terlihat memberikan sebuah sihir tak tertahankan. Saya bisa membayangkan bahwa dengan kondisi ini seorang penyair akan berada dalam keadaan terus-menerus berkontemplasi.
Kami tidak mendarat di Padang, tetapi di Emmahaven di sebuah teluk melingkar besar ke Selatan dan terbuka ke Barat yang dilindungi oleh pegunungan. Di tempat ini beberapa tahun yang lalu tidak terdapat apa-apa selain rawa akar pohon dan pohon pandan. Bintik-bintik kuning dan putih terang terlihat di lereng, yang merupakan tambang, dan berlubang ke arah utara yang disebabkan oleh rel kereta api. Sebuah bangunan tinggi dari besi bersilangan dengan garis-garis tajam melawan langit di atas laut dan mengeluarkan lengan panjang seperti sebuah timbangan raksasa. Dari sana, gerbong ditarik oleh lokomotif kecil, dan lengan panjang yang terbuat dari logam mengisi kapal dengan zat padat hitam, batubara.
Beberapa menit kemudian, kereta api telah membawa kami ke Padang. Apakah ini sebuah kota? Tentu, dan masih yang terbesar di Sumatera, tapi sungguh berbeda dari biasa. Seperti Batavia, penuh dengan taman dan jalan. Rumah-rumah terbuat dari kayu, di atas tiang dan beratap jerami. Tapi terasa nyaman dan tidak terlalu panas. Udara lewat secara bebas di antara atap yang tinggi, matahari dihalangi dengan kanopi, sehingga tidak terlalu silau di tanah yang berlapis rumput tebal.
Sungai tidak begitu dalam sepanjang Kampung Cina,tapi kapal-kapal kecil dapat melayarinya. Mereka membawa buah, kayu dan ikan. Mereka juga berlayar ke laut sepanjang pantai , sedangkan kapal yang sangat sarat muatan berlabuh di hilir sungai. Sebuah bukit kecil di pantai, Gunung Monyet, yang di mulut sungainya banyak kapal menari di atas ombak.
Tanggal 16 April kami menuju Padang Bovenlanden. Ada dua jalan menuju kesana, ke Timur menuju Soebangpas dan Danau Singkarak, dan yang lain menyusur di sepanjang pantai, kemudian mengikuti lembah Anai dan berakhir di Padang-Pandjang. Kereta api mengikuti rute kedua dan kami mengambil rute ini.
Pertama kami berjalan sepanjang 40 mil di daerah datar, di mana sungai besar, sungai, laut ada di dekatnya, dan kita bisa melihatnya di antara tirai tebal pepohonan. Tak lama kita tiba di sepanjang tebing tinggi dan gelap. Desa-desa semua berada dekat dengan sungai, dan hamparan sawah datar yang dipenuhi padi. Seperti pada hari kedatangan kami, kami bahagia dengan keanekaragaman vegetasi. Ada berbagai bentuk dan warna.
Daun-daun ramping, lincah dan elegan dari batang kelapa bergantian dengan sagu, palem, dan bambu. Diantara pepohonan pisang Anda bisa melihat ratusan pohon tak dikenal dengan daun terang atau gelap, kusam dan mengkilap, besar dan kecil. Saat hutan menempel pada lereng , daun dan batang Colossi raksasa dengan akar tertanam di batuan, seprti kepiting aneh yang sedang menggenggam, dan tanaman merambat, menggantung seperti karangan bunga.
Di kaki batuan terdapat rawa dan tanaman air pakis dan lumut, ranting dan batang dengan nuansa pucat menyebar, sementara anggrek hidup di lapisan kulit mereka. Banyak parasit terlihat, setiap tanaman memiliki tanaman parasit sendiri, masing-masing adalah perawat bagi yang lain.
Lembah Anei memilik jalan, dan kereta api melewati lembah tersebut. Terletak antara Kajoetanam dan air terjun. Kereta api memotong ketinggian, dan lokomotif berasap dan meraung keras. Lokomotif berada di belakang di kereta, mendorong ke depan, dan kami dapat melihat jalan berliku di depan kami. Sungai berbelok dari satu sisi ke sisi lain melalui lembah sempit, air terang berkilau membelai batuan dan menyatu dengan musik merdu dengan akar, sampai tiba-tiba ketika ada hambatan yang datang di jalannya, meloncat tinggi. Air terjun jatuh ke batuan, tiga puluh atau empat puluh kaki di atas kepala kami, dan angin mengirimi kami partikel air. Kereta api beberapa kali berada di atas sungai, terlihat di bawah busa putih, dan setiap belokan terlihat pemandangan yang indah. Stasiun pertama di ngarai terdiri dari dua atau tiga cottage di antara pohon palem dan pisang. Perhentian lain berada antara tembok tinggi dan tertutup dalam sebuah lubang, dan seperti satu keajaiban muncul secara tiba-tiba. Kemudian ada jembatan dan terowongan kecil dan gemuruh sungai dan kusut-masai pohon.
Di sana-sini jejak dari kemarahan Anai masih terlihat. Reruntuhan dan sisa-sisa jembatan di dalam sungai yang liar. Satu tahun setelah peresmian rute ini terjadi banjir dengan tiba-tiba dan memerlukan perbaikan total sebesar £ 600.000. Saya telah melihat di Padang photografie├źn foto-foto yang diambil pada pagi hari setelah bencana. Sangat menakutkan bagi setiap insinyur Eropa. Jalan tersapu ratusan meter, tebing di bawah jalan longsor ke arah sungai. Rel dan bantalan bengkok atau bahkan tergantung di atas jurang. Stasiun kereta api dan jembatan rusak. Dengan sangat segera pekerjaan perbaikan dimulai.
Kami berjalan perlahan melalui ngarai. Dari Kajoetanam ke Padang-Pandjang hanya 15 mil jauhnya, tapi jalan naik 640 meter bahkan pada bahwa jarak yang pendek. Cuaca menjadi dingin, dan keluar dari hutan kami bisa melihat desa-desa. Kami melewati sebuah jembatan tinggi dengan lengkungan dan lereng yang kurang curam, terlihat tanaman berbaris-baris dan kami sudah berada di Padang Pandjang.
Ini adalah sebuah kota di punggung bukit sempit, yang justru merupakan lembah antara dua lereng Sumatera. Singkatnya, kita tidak lebih dari 30 mil dari pantai dan berada di tepi dataran tinggi. Sebenarnya, nama “dataran” di sini salah. Daerah ketinggian ini memiliki permukaan tidak teratur, sangat bergelombang dan dipotong oleh lembah dan puncak tinggi yang naik di sampingnya. Tiga gunung-gunung tinggi yang indah di Padang Pandjang, yaitu Tandekat dan Singgalang di Barat, Merapi di Timur Laut. Iklim di tempat ini sempurna jika tidak begitu banyak hujan. Pagi hari yang sangat bagus, tetapi perlu waktu sampai jam sembilan untuk menyingkirkan kabut. Mereka merayap menaiki lereng gunung dan secara bertahap menyerap semua yang kami sebelumnya terlihat berkilauan di kejauhan. Awan menjadi lebih berat, dan segera turun hujan di siang hari. Tidak begitu lama, tapi matahari tidak muncul lagi, dan terlihat abu-abu terang dengan bentuk bulat dan membosankan. Saya hampir lupa bahwa saya berada di Sumatera jika aku tidak melihat pohon palem dan bambu dan rumah-rumah Melayu dengan atap rumah mereka yang begitu khas.

Rumah-rumah berada di tiang tinggi, dibuat dari kayu dan bambu, dan setiap titik meruncing sampai ujung-ujungnya, seperti haluan dan buritan kapal. Mereka dimahkotai dengan atap melengkung, dua tinggi, titik yang tajam diarahkan ke langit sebagai tanduk raksasa. Pada jendela depan yang tanpa penutup, dan sebelum pintu merupakan tempat berteduh kecil, terbuat pada kayu. Dinding putih dan warna hitam atau merah dan gambar kasar diplester dengan ornamen, potongan dekorasi kaca atau tembaga. Di setiap sisi bangunan utama yang lebih rendah, simetris saling berhadapan dan semua dibangun dengan cara yang sama, sementara atap yang lebih rendah di bawah yang lain. Di dekatnya juga lumbung beras, yang merupakan bangunan persegi kecil berbentuk panggung dan dengan atap sama dengan rumah-rumah.

Di Padang Pandjang harus diakui bahwa seluruh rumah-rumah bagus. Kami hanya memiliki beberapa jam waktu berhenti. Jalan terus mendaki sampai 1154 m., untuk menuju ke celah yang memisahkan Singgalang dan Merapi. Di sebelah kanan kami, turun dengan cepat, pemandangan Danau Singkarak yang dikelilingi oleh kabut.

Dari Kota Baru kami kembali turun ke arah Fort de Kock, yang akan dicapai pada jam lima. Hari hujan dan kami menginap di hotel. Hal ini sebaiknya tidak dialami. Bahkan kamar paling bagus sekarang diduduki oleh tikus. Sepanjang malam binatang ini membuat pemandangan seperti di neraka. Gerombolan nyamuk mendengung di surga ini, yang jauh dari kesan manis pada saya.

Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan kami ke Pajacombo. Kami berangkat saat ini untuk menjelajah tapi kemudian akan kembali ke sini, untuk mengamati lebih khusus dan mencari jawaban atas rincian pertanyaan yang menarik minat kami. Awalnya kami berada pada sebuah dataran tinggi, yang melereng lembut ke timur. Daerah ini dibangun secara mengagumkan, dan sawah meluas ke sisi Merapi. Di belakangnya muncul Singgalang; puncak gunung ditutupi dengan hutan, tapi pada kakinya desa-desa dan perkebunan berganti satu sama lain. Pada satu bagian dari perjalanan ini kami mengikuti jalan biasa, dengan rel berada sepanjang salah satu tepi, dan kami melewati pribumi berbaris dengan gerobak sapi, menuju pasar.

Lalu kami turun dalam garis lurus sepanjang 7 mil, lereng menurun bertahap, tanpa keraguan disebabkan oleh semburan lava yang luar biasa pada zaman dahulu. Kiri dan kanan memiliki gunung kapur yang curam dan tebing batu pasir. Potongan batu hitam bertebaran dimana-mana. Di kaki bukit itu kami melihat sebuah lorong sempit di antara dua batu, dan membawa kami ke dataran Pajacombo.

Kami pergi ke tempat itu, menemui Asisten Residen untuk berbicara dan meminta bantuannya untuk perjalanan kami. Ketika kunjungan kami sudah berakhir, kami sekali lagi naik kereta api dan kembali ke Padang-Pandjang. Di tempat ini rel kereta api terbagi, dan satu cabang pergi ke Solok dan dari situ ke tambang batubara Sawah-Loento. Itu adalah tujuan utama dari tamasya pertama kami. Kereta turun perlahan menuruni lereng curam, di stasiun menunggu kereta api batubara, yang pada gilirannya ditempatkan di jalan dan dengan kesulitan diseret oleh lokomotif.

Terhampar lembah yang indah Soempoer, penuh dengan desa-desa dan sawah. Di sebelah kiri kami adalah daerah tertutup, dipotong oleh ngarai dalam, dan sejauh mata memandang kami dapat melihat kopi, ditanam di sekitar rumah. Hujan, hujan terus-menerus telah dimulai, awan merayap sampai ke Merapi dan kabut tebal menutupi sawah, mengelilingi dan menyembunyikan bagian atas pegunungan. Sekarang kami berkendara di sepanjang Danau Singkarak. Kumpulan air terletak tak bergerak dalam cahaya monoton dan suram. Hujan berhenti, tapi kabut menyapu bersih semua kontur dan lansekap, sinar matahari cerah telah berganti kabut, dan tampak mengantuk, gelap dan mematikan sebagaimana pemandangan Eropa utara dalam kabut. Sekitar danau dikelilingi ketinggian, arus air yang kuat telah mengukir batu, dan banyak ngarai tak berujung bercabang ke segala arah. Air dari pegunungan berakumulasi menjadi kerucut puing-puing raksasa, setinggi 50 atau 60 M. dan perlahan-lahan bergerak. Setiap hujan datang aliran pasir dan batu ke arah jalan kereta api dan kemudian kadang-kadang benar-benar tertutup. Sebuah jembatan rendah di atas Sungai Ombilien berada di pintu keluar danau. Air itu indahnya tak tertandingi, biru safir dan sangat bersih. Pada akhir danau kita memasuki sebuah lembah dengan dasar rata dan kemudian lenyap, tanpa sadar naik lagi menuju Solok.

.............

(Fakta menarik dari kutipan diatas:
1. Padang adalah kota terbesar di Sumatera pada saat itu.
2. Penggambaran pelabuhan Emmahaven persis seperti yang tergambar di video dalam posting sebelumnya. Ini meyakinkan bahwa deskripsi pengarang tentang apa yang dilihatnya dapat diandalkan. (Klik disini untuk melihat)
2. Sungai di daerah Muaro Padang dapat dilayari kapal sampai ke dalamnya. Tidak seperti sekarang...:(
3. Disebutkan ada Rute Padang ke arah Solok melalui Subangpas. Dimana itu Subangpas? Rasanya ndak ada nagari yang bernama itu di jalur tersebut. Apakah salah tulis? Atau si Pengarang salah dengar dari dialek lokal?
4. Hutan di lembah Anai sungguh lebat dan ...menyeramkan!
5. Di lembah Anai terdapat stasiun KA yang berupa cottage. Mungkin itu adalah bangunan setelah air terjun, di sebelah kiri dari arah Padang, yang sekarang tertutup semak belukar lebat. Ambo pernah melihatnya waktu petugas Perumka membersihkannya beberapa tahun yang lalu.
4. Setahun setelah peresmian, jalur KA Lembah Anai dihantam banjir besar. Perbaikannya memerlukan biaya sebesar 600 ribu gulden atau sekitar 3,3 Miliar Rupiah sekarang.
6. Rumah-rumah di Padang Panjang bagus-bagus.
7. Padang Panjang sering hujan setelah tengah hari. Dan setelahnya berkabut.
8. Perlu waktu sampai jam 9 pagi bagi kabut untuk betul-betul lenyap dari Padang Panjang.
9. Bukittinggi banyak tikus dan nyamuk!
10. Di daerah Solok kopi ditanam sampai ke halaman rumah.)
..................Silakan melanjutkan membaca Bagian Kedua (klik disini)
(Sumber : www.gutenberg.org)