Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 27 Juli 2011

Mentawai (1900)

Posting kali ini terinspirasi dari perjalanan ambo ke Kepulauan Mentawai karena tugas dari kantor. Memang agak bias dengan judul blog kita, Minang Lamo, karena adat dan kebudayaan Mentawai sangat berbeda dengan adat dan kebudayaan Minangkabau yang biasa disebut "tanah tepi" oleh masyarakat Mentawai.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa gugusan kepulauan Mentawai sejak jaman Belanda merupakan bagian dari Keresidenan Sumatra' Westkust atau Pantai Barat Sumatera, yakni Propinsi Sumatera Barat sekarang. Jadi, lupakan perbedaan, mari nikmati perjalanan ke Mentawai di awal abad 20...!
Foto pantai Mentawai ini sangat kontras dengan image tentang Mentawai yang ada di kepala kita saat ini. Pantai ini sangat tenang, seperti danau saja layaknya. Padahal, saat ini Mentawai identik dengan salah satu tempat surfing terbaik di dunia dengan ombak menggelora yang diburu para surfer mancanegara. Lha, ombaknya dimana, mister?
Foto ini mungkin diambil di pantai Timur kepulauan Mentawai yang membelakangi Samudera Indonesia. Sementara surga para peselancar itu berada di pantai Barat. Menghadap langsung ke samudera. Jadi, ya...beda lokasi cuy.
Perkampungan dengan beberapa Uma atau rumah. Uma berupa rumah panggung beratap rumbia, tipikal rumah tradisional. Sepertinya ada jembatan menuju kompleks uma di seberang sana. Padahal tidak ada sungai. Kayu juga terlihat bergelimpangan. Mungkin kampung ini berada di daerah rawa, sehingga perlu jembatan dan kayu sebagai alas untuk berpijak.
Sebuah 'dermaga' di pinggiran kampung. Terus terang, melihat foto ini, ambo terbayang kepada gambar-gambar penaklukan bangsa Spanyol atas bangsa Indian di Amerika Selatan pada abad ke-16. Orang-orang bercawat mendayung kano, dengan latar belakang hutan perawan.
Mungkin juga bangsa Belanda yang pertama datang ke Mentawai berpikir bahwa mereka telah setara dengan Pizarro atau Cortez di Amerika sana. Mereka juga telah menjadi penakluk seperti kedua orang tersebut, minus jarahan berton-ton emas. Inilah penaklukan versi mereka.
O ya, lokasi foto ini diambil mungkin sekarang telah menjadi resort milik orang Australia atau Inggris atau Italia. Itulah 'penaklukan' versi baru di Mentawai...
Pada tahun 1900 bangsa Belanda telah berupaya memperkenalkan Mentawai kepada Eropa. Upaya itu antara lain dengan mencetak briefkaart atau kartu pos bergambar keunikan Mentawai. Agak rancu juga karena kartu pos itu ditulisi kata-kata "Salam dari Sumatra" karena Mentawai itu kan terpisah dari Sumatera?
Di kartu pos itu terpampang foto pasangan dari Pagai, perkampungan dan Raja Mentawai. Ndak jelas apa maksudnya Raja Mentawai, seseorang dengan cawat dan baju serdadu Belanda.
Keunikan yang tidak tampak di kartu pos itu adalah ombak besar. Mungkin pada saat itu olahraga surfing belum dikenal sehingga bagi pembuat kartu pos ini ombak ya ombak. Ndak ada istimewanya. Ndak ada uniknya.


Selain lewat kartu pos, Belanda juga memperkenalkan Mentawai melalui promosi langsung. Contohnya adalah pada foto di atas. Foto ini diambil pada tahun 1907. Tapi ini bukan di Mentawai. Ini di Bukittinggi. Acaranya adalah Pakan Malam atau Pasar Malam. Tidak ada keterangan apakah orang-orang Mentawai ini tidak kedinginan dengan berpakaian tradisional mereka di kaki Gunung Marapi dan Singgalang...
(Sumber : kitlv.nl)

3 komentar:

  1. "O ya, lokasi foto ini diambil mungkin sekarang telah menjadi resort milik orang Australia atau Inggris atau Italia. Itulah 'penaklukan' versi baru di Mentawai..."

    ironis banget bang..

    BalasHapus
  2. oke banget tulisannya tu.... sukses ya

    BalasHapus
  3. taf3tta : itulah kenyataannya. coba aja search "mentawai" di google. liat aja situs yang muncul. rata-rata punya bule...

    miing : tararengkyu...tunggu action dari senayan nih..:)

    BalasHapus