Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 27 Juli 2013

Sejarah Perih Kawa Daun (1840 - 1908)



Inilah minuman yang sedang in di Ranah Minang saat ini: Kawa Daun. Dengan gampang dunsanak akan menemukan kafe-kafe di pinggir jalan raya -biasanya dari bambu, dilengkapi kursi dan balai-balai- tempat menyeruput minuman ini.


Apa itu kawa daun? Kawa artinya kopi. Dari bahasa arab qahwah. Daun ya daun. Jadi kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Seperti teh. Sekali lagi: dari D-A-U-N kopi yang diseduh dengan air panas, dan bukan dari bijinya. Cara menikmatinya juga tak biasa : memakai tempurung alias batok kelapa, dengan ditemani gorengan. Sambil bersila di atas balai-balai bambu seraya dihembus angin sepoi-sepoi dingin pegunungan, sungguh kenikmatan tak terkira bagi penggemarnya. Rasanya? Kelat.

Tapi ambo tidak yakin semua penikmat kawa daun mengetahui bahwa sejarah minuman ini sekelam warnanya. Utamanya bagi orang Minang.

Bermula dari keinginan Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk menerapkan tanam paksa kopi di Ranah Minang pada 1840 menyusul keberhasilan di Tanah Jawa 10 tahun sebelumnya. Kopi adalah komoditi bernilai tinggi di Eropa sehingga keuntungan yang membayang sungguh luar biasa. Bagi kompeni tentunya.

Akibat harganya yang tinggi itu, semua biji kopi harus diserahkan ke gudang kopi alias koffiepakhuis tanpa boleh tercecer sebijipun. Muncullah sebutan pakuih kopi bagi pegawai pribumi yang mengurus gudang kopi ini. Tak heran jika mereka umumnya ikut kecipratan kaya.

Tapi malang bagi masyarakat kebanyakan. Mereka hanya boleh menanam saja tanpa boleh mencicipi rasa minuman kopi yang diolah dari bijinya. Kopi adalah minuman para dewa yang tak terjangkau tangan. Tapi tak kayu janjang dikapiang, tak ameh bungka diasah, timbullah ide kreatif untuk membuat minuman dengan menyeduh daunnya. Demi dapat mencicipi rasa kopi yang harum itu. Dapat dipastikan bahwa ide ini muncul terinspirasi dari cara mengolah daun teh menjadi minuman. Sayangnya ide ini tidak tercatat dengan baik kapan munculnya, dimana dan oleh siapa.

Pastinya rasa daun kopi tidak sama dengan rasa biji kopi. Tapi setidaknya ada bau-bau kopinya juga. Kelat-kelat sedikit tak apalah, mungkin begitu pandangan masyarakat saat itu. Penderitaan ini baru berakhir pada tahun 1908 ketika tanam paksa kopi diganti dengan penerapan belasting atau pajak. Namun tradisi minum air daun kopi ternyata tidak ikut berhenti. Mungkin karena sudah berlangsung lebih dari 60 tahun.

Sebelum diseduh daun kopi diasapi dulu sampai kering. Setelah itu baru disiram dengan air panas didalam tabung bambu. Selanjutnya ditambahkan gulo saka sebagai pemanis. Taraaaa.....terciptalah kawa daun.


Proses pengasapan daun kopi ini yang terekam dalam sebuah potret koleksi Tropen Museum. Beberapa orang ibu sedang bakalumun asok mengasapi daun kopi. Di belakang mereka didirikan tikar sebagai penghalang angin. Tentu saja, karena tentu mereka tidak mengharapkan api menyala dan membakar daun-daun kopi itu. Yang diharapkan adalah baranya. Kalau daunnya sudah berbunyi gemerisik artinya proses pengasapan sudah selesai. Siap untuk diolah selanjutnya.

Satu lagi tentang istilah Melayu Kopi Daun. Konon ini sebutan bangsa Belanda kepada orang Minang karena mereka meminum minuman kawa daun ini. Tepatnya sebuah hinaan. Tapi dulu almarhumah ibu ambo pernah bercerita bahwa istilah melayu kopi daun bukan diberikan oleh penjajah Belanda, tetapi karena salah tangkap pendengaran si Minang terhadap makian khas Belanda, "Melayu G*dverdomme". Tapi intinya tetap sama: istilah itu muncul dari sebuah hinaan dan makian.

Tak ada salahnya bagi dunsanak penikmat kawa daun mengenang sejarah ini sambil mairuik kupi...slurrrppp....

(Sumber: Tropen Museum, wisnugresco.blogspot.com)

Sabtu, 20 Juli 2013

Noni Belanda van Anas Familie (1935)


Dua orang gadis dari Sumatra Westkust dengan berpakaian ala Barat ini berkulit sawo matang. Yang satu mengingatkan kita kepada wanita Belanda pada abad ke -19 sedangkan yang satunya berpakaian seperti mayoret, lengkap dengan tongkatnya.

Pada tahun 1935, kedua gadis minang ini berpakaian 'melampaui jamannya' untuk ukuran gadis lokal. Agak 'ganjia'.  Namun tidak dapat dipungkiri bahwa bagi sebagian orang pada masa itu, bangsa Belanda adalah contoh atau role model. Terutama bagi yang berpendidikan Belanda. Roman Salah Asuhan dari Abdul Muis adalah potret yang tepat untuk itu.

Melihat catatan foto bahwa foto ini merupakan koleksi dari Djoesa Anas, maka 'keganjilan' dalam foto diatas dapat dipahami. Djoesa Anas adalah istri dari dokter Anas, Direktur Rumah Sakit di Payakumbuh saat itu. Keluarga ini terkenal ke-belanda-belanda-an. Bahkan setelah kemerdekaan, dr. Anas dan keluarganya memilih untuk hijrah ke negeri Belanda dan menetap disana selamanya.

Informasi yang ada tentang dr. Anas hanya sepotong-sepotong. Ia dan istrinya, Djoesa, berasal dari Kotogadang, meskipun ada informasi lain yang menyatakan bahwa Djoesa Anas adalah anak Angku Lareh Sungai Pua di Agam. Ibu dr. Anas bernama Jamilah dan ayahnya berdarah Jawa, namanya Atmo Wisastro yang konon masih termasuk trah Sultan Hamengku Buwono 1. Sumber lain menyatakan bahwa ia masih keturunan panglima perang Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. 

Di rumahnya di Payakumbuh pernah menginap Bung Hatta, Rosihan Anwar, dan Abdul Muis. Pengarang roman Salah Asuhan itu adalah ipar kontan dr. Anas karena mengawini kakaknya, Nuriah, yang mati muda. Artinya tidak tertutup kemungkinan bahwa roman Salah Asuhan diilhami oleh gaya hidup keluarga ini.

Foto-foto keluarga dr. Anas, termasuk foto disamping ini, telah diserahkan ke KITLV Leiden. Foto ini diambil waktu resepsi pernikahan anaknya Nadia Anas dengan R. Budi Hartono di Den Haag pada bulan Maret 1966. Perempuan yang berkebaya dan berselendang yang duduk itu adalah Ibu Djoesa Anas, dan pria berkacamata dan memakai jas yang duduk di sebelahnya adalah dr. Anas, suaminya.

Memang hidup adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan memiliki alasan. Termasuk alasan 2 'noni' diatas berpakaian seperti itu. Juga alasan keluarga dr. Anas memilih menjadi orang asing di negeri asing daripada menjadi 'orang asing' di negeri sendiri...

(Sumber: KITLV, niadilova.blogdetik.com)

Senin, 15 Juli 2013

Penampakan (1880)


Sepintas foto koleksi KITLV bertahun 1880 diatas adalah foto sejumlah penghulu kaum yang sedang berpose menghadap kamera. Ini dapat dilihat dari saluak yang mereka pakai. Beberapa diantaranya juga memegang tongkat. Bahkan menilik cara berpakaiannya -jas tutup hitam dan celana putih- ambo menduga bahwa beberapa orang dari mereka adalah Angku Lareh.

Tapi ada yang tak biasa dalam foto itu. Ditengah-tengah foto berdiri sosok pendek besar, bermata bulat dengan mulut menganga, dilengkapi gigi-gigi tajam. Sepertinya kehadiran para datuk ini adalah untuk 'mengunjungi' sosok itu. Mungkin peristiwa ini merupakan bagian dari  sebuah ekspedisi bersama pejabat kolonial atau para peneliti kepurbakalaan.

Sayangnya judul foto yang tersedia tidak memberikan informasi tentang 'penampakan' ini. Bahkan lokasi pengambilan dan juru kodak-nya pun tidak ada. Ini membuat ambo kehilangan jejak untuk mengetahui patung atau arca apakah itu. Kunjungan ke laman-laman museum, juga hasilnya nihil. Tidak ada kelihatan koleksinya yang mirip dengan apa yang terlihat di dalam foto. Meskipun ambo yakin bahwa arca itu saat ini mungkin sudah berpindah tempat. Bisa ke sebuah museum dan bisa juga ke tangan seorang kolektor.

Selanjutnya dalam pikiran ambo, ada 2 'terduga' lokasi untuk penjepretan ini. Pertama ada di nagari Mahat (Maek) di Kab. Lima Puluh Kota. Kedua di Nagari Siguntur Kab. Dharmasraya. Ada apa di kedua nagari tersebut?

Di nagari Maek, banyak ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologis dari zaman prasejarah, seperti dakon batu, lumpang batu, balai batu dan yang paling banyak ditemukan adalah menhir. Jumlah menhir yang ditemukan di Nagari ini mencapai 800 buah—tersebar di Koto Tinggi, Padang Ilalang, Koto Gadang, Ronah, Ampang Gadang, Bawah Parit dan beberapa tempat lainnya.

Menhir adalah batu besar menyerupai tiang atau tugu yang ditegakkan diatas tanah hasil kebudayaan megalit. Menhir biasanya digunakan masyarakat prasejarah sebagai alat pemujaan arwah nenek moyang. Batu-batu ini biasanya dibentuk dan dihias dengan berbagai macam bentuk dan ukiran dalam berbagai ukuran. Uniknya, semua menhir kecuali beberapa menhir di Padang Ilalang menghadap ke Tenggara atau ke arah Gunung Sago. Menhir-menhir yang ditemukan di Nagari Maek ini mirip dengan menhir-menhir yang ada di Irlandia, Inggris dan juga Perancis. 

Masyarakat Maek sendiri menyebut menhir-menhir ini sebagai batu urang saisuak. Menurut penelitian para ahli, menhir-menhir ini telah ada sejak Periode Neolitikum yaitu sekira 6.000-2.000 tahun sebelum Masehi. Artinya masyarakat Maek sekarang sama sekali tidak bertalian dengan masyarakat pembuat menhir-menhir ini sehingga mereka tidak tahu apa dan untuk apa menhir-menhir ini didirikan.

Terduga kedua yaitu Nagari Siguntur khususnya di kawasan Padang Roco dimana terdapat kompleks candi dan tempat ditemukannya 2 buah patung besar yang sekarang menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta: Arca Amoghapasa dan Arca Bhairawa. Kedua arca itu merujuk kepada sebuah nama: Adityawarman.

Lokasi di hulu sungai Batanghari itu diyakini sebagai pusat sebuah kerajaan Melayu yang merupakan penerus dari kerajaan Sriwijaya yaitu kerajaan Dharmasraya. Dari sini Adityawarman selanjutnya dipercaya bergeser ke Saruaso (dekat Pagaruyung) berdasarkan prasasti Suruaso dan Kuburajo.

Arca Amoghapasa merupakan hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Pada bagian lapik (alas) arca ini terdapat tulisan yang disebut prasasti Padang Roco yang menjelaskan penghadiahan arca ini. Arca ini berukuran tinggi 163 sentimeter, lebar 97-139 sentimeter, dan terbuat dari batu andesit.

Pada tahun 1347 Masehi, Adityawarman menambah pahatan aksara pada bagian belakang patung tersebut untuk menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Tulisan ini disebut Prasasti Amoghapasa. Bagian arca sendiri ditemukan sekitar tahun 1880 sedangkan bagian alas baru ditemukan  pada tahun 1911 di tempat yang berbeda.

Arca Bhairawa adalah patung batu raksasa berukuran tinggi 4,41 meter dan berat 4 ton dan terbuat dari batu andesit. Arca ini menggambarkan "Bhairawa", suatu dewa-raksasa dalam aliran sinkretisme Tantrayana, yaitu pengejawantahan Siwa sekaligus Buddha sebagai raksasa yang menakutkan. Arca ini dikaitkan sebagai perwujudan Raja Adityawarman karena ia adalah penganut Buddha aliran Tantrayana Kalachakra.

Arca raksasa ini aslinya terletak di bukit di tengah persawahan di kompleks percandian Padang Roco, Dharmasraya, Sumatera Barat, menghadap ke arah timur dan dibawahnya mengalir sungai Batanghari. Konon dulu, di tempat strategis itu Bhairawa dengan gagah berdiri memandang ke arah Sungai Batanghari, sehingga siapa pun yang melewati sungai tersebut akan mudah melihatnya. Dikatakan strategis karena Padang Roco merupakan gerbang masuk melalui Batanghari menuju pusat pemerintahan Kerajaan Dharmasraya, dan arca raksasa ini berfungsi sebagai markah tanah.

Arca raksasa ini sempat rubuh dan terkubur tanah, hanya satu sisi bagian lapik (alas) yang menyembul ke permukaan tanah. Penduduk setempat yang tidak menyadari keberadaan arca itu menjadikan batu itu sebagai batu pengasah parang dan membuat lubang lumpang batu sebagai lesung untuk menumbuk padi. Hingga kini pun bekas lubang itu dapat ditemukan pada sisi landasan arca ini. Sebelah sisi kakinya juga terlihat lebih halus karena asahan parang yang berulang-ulang.

Patung itu diangkut oleh pemerintah Hindia Belanda dari 'persemayamannya' pada tahun 1935 ke Kebun Margasatwa Bukittinggi. Lalu pada tahun 1937 arca ini diboyong ke Museum Nasional di Batavia.

Sekarang, dimanakah letak arca pendek-besar kita diatas? Jadi batu asahan juga atau malah jadi penghias taman?

(Sumber: KITLV, indonesia.travel; wikipedia)







Sabtu, 13 Juli 2013

Paviliun Minangkabau di Semarang (1914)


Pada akhir abad ke-19 muncullah trend baru di kalangan negara-negara penjajah di seluruh dunia untuk menyelenggarakan pameran tentang segala hal yang ada di daerah jajahan masing-masing. Pameran ini bersifat internasional dan bertujuan untuk meningkatkan hubungan dagang antar negara serta untuk saling memperoleh dukungan. Dalam hal jajah-menjajah tentunya. 


Belanda tentu tidak mau ketinggalan dengan negara-negara kolonial lain seperti Inggris dan Perancis atau Portugal. Mereka juga ikut menyelenggarakan sebuah expo internasional yang dihelat di Semarang selama 3 bulan pada 22 Agustus sampai 22 November 1914. Tidak begitu jelas bagi ambo kenapa yang dipilih Semarang dan bukan Batavia. Mungkin untuk lebih mendekatkan pengunjung pada suasana 'daerah'? Bisa jadi.


Tak main-main, expo bertajuk Koloniale Tentoonstelling ini termasuk salah satu yang terbesar sejagat pada era 1910-1920. Tujuannya adalah untuk 'memberikan gambaran terkini tentang kemajuan Hindia Belanda'. Menilik bentuk gerbangnya saja sudah cukup untuk menggambarkan skala pameran yang oleh orang Semarang disebut sebagai Pasar Malam Sentiling ini. Tentu karena lidah melayu membaca 'Tentoonstelling' berbeda dengan lidah bule.

Selain itu ternyata expo ini sekaligus juga bertujuan untuk memperingati 100 tahun lepasnya Belanda dari kekuasan Perancis dibawah Napoleon Bonaparte. Sungguh sebuah ironi karena kemerdekaan dari penjajah justru diperingati di negara jajahan. Whew.

Sumatra Westkust dengan budaya Minangkabau-nya yang unik serta alamnya yang indah tentu tidak ketinggalan dipamerkan pada expo ini. Paviliun Sumatra Westkust antara lain berisi rumah adat Minangkabau sebagaimana terlihat pada foto koleksi KITLV paling atas.

Sayangnya, dimata ambo bangunan itu lebih terlihat sebagai rumah adat batak daripada rumah adat minang. Bisa jadi karena yang mengerjakan adalah 'tukang jawa' sehingga tidak bisa membuat bentuk gonjong yang manis. Karena memang untuk gonjong ini tidak semua tukang -di ranah Minang sekalipun- bisa membuatnya dengan baik. Ada teori-teori khusus di dalam pengerjaannya. Kalau tidak pas paretongannyo, bisa aneh bentuknya.

Selain itu bisa jadi itu memang foto rumah adat batak. Tetapi sang juru foto atau si pembuat catatan foto (caption) yang tidak bisa membedakan mana rumah adat batak dan mana rumah adat minang. Maklumlah, informasi pada saat itu sangat terbatas..

(Sumber: KITLV, baltyra.com, wolfsonian.org, wikipedia)