Selasa, 30 September 2014

Jemaah Haji (1884)


Beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Haji. Karena itu postingan kali ini akan mencoba mengangkat cerita lama soal jemaah haji di masa lampau, terkhusus yang berkenaan dengan Ranah Bundo.

Foto diatas menampilkan dua orang jemaah haji dari Indrapura (Pesisir Selatan) dan Muko-muko (Bengkulu) yang dipotret di Konsulat Belanda di Jeddah pada tahun 1884. Tidak ada keterangan soal nama kedua orang itu, maupun kenapa kedua orang yang berlainan daerah itu difoto berdua. Apa memang mereka bersahabat ataukah karena alasan praktis saja, mumpung daerah asal mereka berdekatan.  Apapun itu, namun saya yakin keduanya tentu menjadi tokoh masyarakat sekembalinya dari Makkah mengingat jauh dan payahnya perjalanan yang mereka tempuh dalam menunaikan rukun Islam yang kelima itu. 

Pemerintah Belanda memang saat itu sedang giat mendokumentasikan dan memata-matai jemaah haji dari Hindia Belanda karena alasan politis. Mereka beranggapan bahwa pergaulan jemaah haji Hindia Belanda dengan jemaah haji lain dari seluruh dunia, bisa saja membawa paham baru yang dapat merugikan pemerintah sekembalinya mereka ke kampung halaman. Contoh sudah ada. Kembalinya Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Makkah telah memicu Perang Paderi yang sangat melelahkan pemerintah kolonial. Jangan sampai pisang berbuah dua kali, begitu kira-kira. Itulah juga salah satu alasan di Jeddah didirikan Konsul Belanda pada 1872, meskipun mungkin saat itu hampir tidak ada orang Belanda yang perlu bepergian ke Jeddah.

Kalau ditilik ke belakang, dalam ordonansi haji atau Staatblads 1898 no.294, pelabuhan embarkasi haji (pilgrimhaven) di Hindia Belanda itu hanya 2: Batavia dan Padang. Jadi semua jemaah haji dari seluruh nusantara hanya bisa berangkat dari kedua kota itu saja. 

Sejak 1858, kapal uap maskapai Inggris dan Belanda mulai menggantikan kapal layar. Kalau dengan kapal layar perjalanan banyak singgah disana-sini dan rutenya tidak menentu, maka dengan kapal api rute perjalanannya direct Batavia-Jeddah via Padang. Lama perjalanan berkisar 20-25 hari. Ongkosnya dari Padang 50 dollar atau 105 gulden. Dari Batavia 60 dollar.

Dua Orang Jemaah Haji Asal Solok dengan Pas Jalan di Tangan (1884)
Yang lebih memberatkan adalah ketentuan pajak haji untuk mendapatkan pas jalan ke Jeddah yang diberlakukan sejak 1852. Nilainya 110 gulden. Bandingkan dengan tiket Padang-Jeddah yang 105 gulden. Lebih mahal daripada  tiket pulang.

Namun demikian yang namanya si Padang tentu tidak hilang akal, Mereka berangkat dengan pas jalan biasa ke Singapura. Dari sana baru lanjut lewat Malaka, Penang atau Bombay. Sebagaimana ditulis oleh Van der Meulen, konsul Belanda di Jeddah pada 1927.

"Orang Padang yang tidak mendapat tiket di Singapura mengambil rute baru. Dari Singapura dengan trein ke Kuala Lumpur, kemudian dengan koeli boot ke Madras, dengan hanya 1,23 gulden dan dengan trein ke Bombay. Dengan kapal haji, dari sana ke Jeddah. Rute ini lebih murah daripada langsung dengan kapal."

Iyo sabana si Padang!

(Sumber: Googlebooks: Historiografi haji Indonesia (M. Shaleh Putuhena); KITLV)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kronik PRRI (Bagian 6: Wind of War)

Sebelumnya di Bagian 5: PRRI 16 Februari 1958: Presiden Soekarno kembali dari Jepang Presiden Soekarno mempercepat masa istirahat 40 harinya...