Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 10 Oktober 2014

Aksi Pak Masinis (1935)


Sebuah foto yang diambil dari album kenangan untuk Ir. C. L. de Voogt ketika pensiun sebagai Kepala Jawatan Keretaapi Negara Wilayah Sumatera Westkust pada Agustus 1935. Foto ini tentunya dimaksudkan untuk memberi kenangan tentang perkeretaapian Ranah Minang dengan alamnya yang indah sebagaimana latar belakang foto pak Masinis di atas.

Di foto terlihat seorang masinis berkulit sawo matang dengan seragam kebanggaan Staatsspoorwegen sedang serius melaksanakan tugasnya. Tangan kiri di kemudi, posisi tubuh meneleng keluar, dengan mata liar menilai kondisi luar jangan-jangan ada potensi gangguan terhadap perjalanan kereta yang dibawanya.

Sangatlah berat kerja masinis kereta api pada saat itu. Sesuai namanya, masa itu kereta api memang dijalankan oleh api. Uap yang digunakan untuk menggerakkan kereta api berasal dari pembakaran kayu yang berada di lokomotif, tepat di depan sang masinis berdiri! Bayangkanlah panasnya, asapnya serta debu hasil pembakaran yang menerpa si masinis di ruang kemudi. Tak heran matanya sampai melotot begitu. 

Masinis juga harus bisa membaca sinyal, mengendalikan kereta dgn hati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, disamping harus selalu berkomunikasi dengan para pembantunya seperti juru api atau juru rem.

Seorang masinis juga harus mempunyai kemampuan ilmu fisika terapan baik, misalnya perhitungan jarak berhenti setelah pengereman. Demikian juga ketika melewati tikungan, masinis harus tahu berapa derajat tikungan tersebut, dan berapa kecepatan harus dibatasi agar tidak bablas. Termasuk juga perhitungan batas kecepatan ketika melewati sebuah jembatan ataupun turunan dan pendakian. Kapan saat memerintah juru api menambah kayu ke dalam tungku ataupun kapan meneriaki juru rem untuk melakukan pengereman.

Untuk tugas seberat itu, seorang masinis digaji sebesar 77 gulden sebulan dan mendapat rumah dinas di dekat stasiun. Sebuah jumlah yang cukup memadai karena harga beras pada jaman itu sekitar 2 - 2,5 sen per liter. Jadi 1 gulden bisa dapat 40-50 liter beras.

(Sumber: KITLV, jatibarangindramayu.blogspot.com;majalah2.tempo.co;alwishahab.wordpress.com) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar