Sabtu, 18 Oktober 2014

Takluknya Penguasa Rimba (1900-1907)


Entah apalah pasalnya hingga si Raja Rimba ini "didudukkan" di atas sebuah bangku panjang. Di depan sebuah rumah pula, jauh dari kerajaannya di tengah rimba raya. Ditonton oleh puluhan pasang mata dari mulai pria dan wanita, anak-anak dan dewasa, pejabat pemerintah dan rakyat jelata, sampai kepada penghulu dan kaum pasukuannya.  Komplit plit. 

Foto ini diambil di Padang Panjang antara tahun 1900-1907. Yang pasti si harimau sudah mati. Kalau tidak, pasti anak-anak dan wanita tidak ikut disana. Semua berwajah sumringah menghadap kamera. Mungkin ada sesuatu yang "dirayakan" sehingga semua berpakaian bagus seperti hari raya. Bisa jadi ini adalah harimau yang telah mengganas dan berhasil ditembak mati, karena terlihat ada beberapa orang yang memegang bedil dengan gaya pamer penuh kebanggaan. Seolah-olah berkata bahwa merekalah heroes of the day.

Tapi bisa jadi juga harimau ini mati karena olahraga semata. Pada zaman itu berburu binatang rimba merupakan salah satu hobi para pejabat kolonial. Berburu harimau merupakan yang paling top markotop. Karena harimau berada di puncak rantai makanan, maka menaklukkannya tentu merupakan kredit poin tersendiri.

Rampogan Macan di Jawa
Di Jawa harimau tangkapan malah diperlakukan seperti ayam. Diadu di tengah gelanggang. Lawannya bisa kerbau, bisa juga serombongan prajurit bersenjatakan tombak panjang. Nama permainannya "Rampogan Macan". Dalam sehari pertunjukan bisa beberapa ekor harimau tewas oleh tusukan puluhan atau ratusan tombak. Nyanya, bahasa minangnya. Tak heran jika saat ini Harimau Jawa resmi dinyatakan punah oleh pemerintah. Salah satu sebabnya ya rampog itu.

Lain cerita di Ranah Minang. Sejatinya orang Minang sangat menghormati harimau. Buktinya harimau selalu dibahasakan sebagai "inyiak" atau nenek. Tidak pernah ada yang berani menyebut kata "harimau", baik di dalam kampung apatah lagi di dalam rimba. Itu tanda menantang.  Bahkan ada ilmu silat tradisional yang dinamai Silek Harimau yang konon ujian akhirnya uji tanding dengan harimau betulan yang dipanggil oleh sang guru. Belum lagi adanya urban legend tentang manusia harimau atau harimau jadi-jadian yang disebut cindaku. Adalagi yang disebut dengan harimau kampuang yang konon piaraan seseorang atau suatu kaum di dalam sebuah nagari. Harimau jenis ini (konon lagi) berjalan dengan dua kaki dan tidak pernah kelihatan belangnya. Jadi selalu terlihat gelap. Kalau belangnya kelihatan tandanya sang harimau akan mati. Pokoknya cerita tentang manusia Minang dan harimau sungguh berwarna. Sampai-sampai salah satu Kabupaten menjadikan harimau sebagai lambang daerahnya, yaitu Kabupaten Agam.

Namun dengan kedatangan tuan-tuan kulit putih bersama bedilnya merubah paradigma itu. Seolah-olah para tuan itu hendak berkata bahwa jaman sudah bertukar, penguasa sudah berganti. Jangankan penguasa kampung atau nagari, penguasa rimba pun mereka taklukkan. Tuan-tuan itulah penguasa di atas penguasa di negeri ini pada saat itu. Di kampung dan di tengah hutan.

(Sumber: KITLV, http://padagananpunjer.blogspot.com)

3 komentar:

Kronik PRRI (Bagian 6: Wind of War)

Sebelumnya di Bagian 5: PRRI 16 Februari 1958: Presiden Soekarno kembali dari Jepang Presiden Soekarno mempercepat masa istirahat 40 harinya...