Translate this Blog!

English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 05 November 2013

Kelok Sembilan dan Matahari Bagi Sumbar (2013)

Catatan Si Ntonk : 
Kali ini MinangLamo menampilkan tulisan dari sejarawan betulan yaitu Prof. Gusti Asnan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Tulisan ini ditulis sekaitan dengan peresmian Jalan Layang Kelok 9 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 31 Oktober 2013. Pembangunan itu sendiri berlangsung selama 10 tahun (2003-2013) dengan menghabiskan biaya 602,55 Milyar. Terdiri atas 6 jembatan dengan panjang total 943 meter dan jalan penghubung sepanjang 2.089 meter. Infrastruktur ini murni hasil karya anak bangsa sejak dari disain sampai pengerjaannya.
Tulisannya berjudul "Kelok Sembilan dan Matahari Bagi Sumbar". Bercerita tentang pergeseran peran kota Padang (dan Sumatera Barat) bagi pulau Sumatera sejak zaman kolonial sampai sekarang serta relevansinya dengan Kelok 9. Selamat membaca!

Gusti Asnan
Sepanjang abad ke-19 Padang adalah kota yang terbesar dan terpenting di Sumatera. Tidak itu saja, sejumlah kota bandar lain di kawasan barat Su­matera juga tumbuh menjadi pusat kegiatan sosial, politik dan ekonomi yang penting.

Kondisi itu menyebabkan daerah pedalaman Sumatera bagian tengah, yang identik dengan daerah administratif Gouvernement Sumatra’s Westkust (Pantai Barat Sumatera), menjadi sangat tergantung pada kota Padang dan kota-kota bandar lain di ka­­wasan pada umumnya. Kota Padang dan kota-kota di kawasan barat saat itu bagaikan matahari bagi dae­rah pedalaman. Kota Padang dan kota-kota di kawa­­san barat saat itu menerangi dan memberi energi bagi daerah pedalaman.

Sehubungan dengan itu, penduduk daerah pedalaman banyak yang bermigrasi ke pantai barat, berbagai komoditas daerah pedalaman dibawa ke kawasan pantai barat, dan berbagai barang yang didatangkan dari Negeri Seberang dikirim ke daerah pedalaman melalui pantai barat.

Untuk mengefektifkan pergerakan orang dan barang tersebut, pemerintah kolonial membangun berbagai jaringan jalan raya antara daerah pantai barat dengan kawasan pedalaman. Beberapa ruas jalan tersebut adalah: Air Bangis via Simpang Empat, Talu, dan Rao; Sasak/Katiagan dengan Ladang Panjang ke Bonjol; Tiku via Lubukbasung, Maninjau, Matua, ke Bukittinggi; Pariaman via Kayutanam, Padangpanjang ke Bukittinggi; Padang via Saningbakar, Singkarak ke Tanahdatar; Padang via Limau Manis, Gantung Ciri, Selayo, ke Tanahdatar; dan Bandar Sepuluh ke Solok Selatan.

Signifikansi kawasan pantai barat dalam dengan daerah pedalaman semakin terlihat ketika dibangunnya jaringan jalan kereta api yang menghubungkan kota Padang dengan Sawahlunto. Batubara yang dihasilkan Sawahlunto dibawa ke Padang terlebih dahulu sebelum dikapalkan dan diekspor ke mancanegara.

Kota Padang menjadi begitu penting sepanjang abad ke-19 karena kota itu adalah pusat kegiatan politik dan ekonomi terpenting, tidak hanya di pantai barat Sumatera, tetapi juga di Sumatera. Pelabuhan kota itu menjadi satu-satunya pelabuhan laut dengan tipe A (sebuah pelabuhan yang melayani kegiatan ekspor-impor dengan luar negeri) di Sumatera. Pelabuhan kota Padang disinggahi oleh kapal-kapal samudera yang melayani rute Batavia-Belanda atau Australia-Eropa atau sebaliknya. Di kota ada banyak konsulat perdagangan negara-negara terkemuka.

Di kota Padang ada banyak handelhuizen (rumah dagang) yang bergerak dalam sektor ekspor-impor, dan kota Padang adalah pusat kegiatan politik (ibukota) Gouvernement Sumatra’s Wetskust.

Peranan sebagai kota terpenting ini, tetap disandang Padang hingga dua dekade permulaan abad ke-20. Pada saat itu, Padang juga tumbuh menjadi pusat aktivitas sosial (pendidikan), dan juga pusat penerbitan surat kabar dan majalah, serta publikasi sejumlah buku. Di samping itu, berbagai organisasi sosial-kemasyarakatan juga ada di kota ini.

Memasuki dasawarsa ke-3 abad ke-20, kota Padang khususnya dan kota-kota pantai di kawasan barat umumnya mulai kehilangan pamornya. Peran politik, sosial, ekonomi, dan budayanya mulai memudar dan diambilalih oleh beberapa kota di bagian timur Sumatera. Pada saat itu, Medan telah tumbuh menjadi kota terbesar dan terpenting di Sumatera. Medan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang terkemuka, disebabkan oleh pembukaan berbagai ordernemingen (perkebunan besar) di kawasan itu. Pelabuhan Belawan mengambil alih peran pelabuhan Padang, dan kapal-kapal samudera yang dahulu menyinggahi Padang mengalihkan rutenya ke pelabuhan Belawan. Perkembangan ini menyebabkan hampir semua konsulat perdagangan yang ada di Padang memindahkan kegiatan mereka ke Medan. Sejumlah besar handelhuizen yang ada di kota Padang juga hijrah ke kota itu.

Perkembangan tersebut juga menyebabkan Medan menjadi tujuan migrasi orang/penduduk daerah pedalaman, termasuk juga pedalaman Sumatera Barat. Merantau ke Deli (Medan berada di kawasan Deli) menjadi sebuah gerakan saat itu. Mudahnya gerakan ini juga didukung oleh tersedianya jaringan jalan raya, serta adanya perusahaan otobis yang melayani rute Sumatera Barat (Padang dan Bukittinggi) dengan Medan.

Tidak hanya Medan atau kawasan Deli, Pekanbaru (Riau), Jambi dan Palembang juga tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru pada daswarsa ke-3 abad ke-20. Pekanbaru menjadi begitu penting bagi penduduk dan daerah pedalaman Sumatera Barat. Pekanbaru menjadi penting dalam hubungannya perdagangan dengan “negeri tetangga” (Semenanjung Malaysia). Berbagai komoditas impor dari Malaysia dan Singapura untuk Sumatera Barat didatangkan melalui Pekanbaru (Riau), dan bagi penduduk pedalaman Sumatera Barat, Pekanbaru (Riau) berperan besar sebagai “kota/daerah transit” bila mereka hendak pergi ke Malaysia atau Singapura.

Site Plan Jalan Layang Kelok 9. Yang berkelok-kelok di sebelah atas adalah Kelok 9 yang asli
Dalam kaitannya dengan pekembangan itulah pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan jalan raya yang menghubungkan daerah pedalaman Sumatera Barat dengan Pekanbaru (Riau). Ada dua ruas jalan raya yang mereka bangun saat itu: pertama, antara Bukittinggi via Payakumbuh dan Bangkinang ke Pekanbaru, dan kedua dari Kiliran Jao via Taluk Kuantan ke Rengat. Tanpa mengabaikan siginifikansi bagian jalan yang lainnya, Kelok Sembilan dapat dikatakan sebagai bagian jalan yang paling menyita energi dan biaya pemerintah kolonial. Tidak itu saja, perintah Hindia Belanda melalui Departemen Pekerjaan Umumnya (PU) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Padang mengatakan bahwa Kelok Sembilan adalah bagian jalan yang paling perlu dijaga dan diperhatikan.

Dikatakan, Kelok Sembilan adalah sebuah ruas jalan yang bisa menentukan hidup atau matinya hubungan antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pekanbaru (Riau). Pernyataan lembaga yang berurusan dengan jalan raya ini tentu tidak sekadar pernyataan semata. Tentu ada sejumlah pertimbangan yang mendasari pernyataan tersebut. Salah satu di antaranya adalah bila terjadi masalah dengan ruas jalan Kelok Sembilan itu, misalnya tebing atau lembah yang ada di ruas jalan itu longsor, maka akan putuslah hubungan antar kedua daerah. Putusnya hubungan tersebut akan membuat tersendat atau terhentinya pergerakan orang dan barang dari kedua daerah. Terhentinya pergerakan orang dan barang akan menimbulkan kerugian (finansial) yang besar bagi kedua belah pihak.

Dengan alasan inilah, Departemen PU masa itu, dan juga pada masa pasca-proklamasi kemerdekaan, senantiasa berusaha menjaga agar kondisi jalan ini senantiasa berada dalam keadaan baik. Selalu ada pengawas (opzichter) yang ditugaskan mengawasi keadaan ruas jalan itu. Alhasil dalam waktu yang cukup lama, ruas jalan Kelok Sembilan terjaga dengan baik dan hubungan antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pekanbaru (Riau) bisa terjalin dengan baik.

Bahkan, dalam kenyataannya, bila ada gangguan perjalanan antara Sumatera Barat dengan Riau, seperti tanah atau jalan yang longsor,  maka tanah atau jalan yang longsor itu umumnya terjadi di luar ruas jalan Kelok Sembilan.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan seiring pula dengan perkembangan teknologi transportasi, serta tingginya mobilitas angkutan darat antara Sumatera Barat dengan Riau, ruas jalan Kelok Sembilan ternyata tidak lagi mampu mengimbangi alat angkutan yang melintasinya. Ruas jalan tersebut dirasa sudah terlalu sempit. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa pemerintah, terutama pemerintah daerah Sumatera Barat untuk meningkatkan mutu dan kualitas, serta keadaan jalan di kawasan Kelok Sembilan. Peningkatan mutu jalan itu dilakukan dengan membangun jembatan yang megah, kokoh, dan lapang.

Kemegahan jembatan tersebut akan sangat terasa bila dilihat dari berbagai foto yang diambil oleh juru potret profesional. Kokohnya jembatan itu juga terlihat dari kekarnya struktur jembatan yang dibangun. Lapangnya jembatan itu sangat terasa bila kita melaluinya. Apatah lagi bila dibandingan dengan “sempitnya” ruas jalan yang dilalui sebelum kita memasuki jembatan ini. Bisa dikatakan, pembangun jembatan Kelok Sembilan ini adalah salah satu mahakarya anak bangsa dalam lapangan transporatsi darat di Samatera Barat pada awal millennium ke tiga ini.

Jalan Layang Kelok 9 dilihat dari arah Payakumbuh.
Pembangunan jembatan Kelok Sembilan jelas sangat menguntungkan Sumatera Barat. Pembanguan jembatan ini sangat membantu para pengguna jalan melewati salah satu satu ruas yang tersempit dan paling
berbahaya antara Payakumbuh (Sumatera Barat) dengan Bangkinang dan Pakanbaru (Riau). Pembangunan jembatan ini akan lebih menggairahkan mobilitas orang dan barang antara Sumatera Barat dengan Riau. Pembangunan jembatan ini akan lebih membuat mudahnya mobilitas orang dan barang dari Samatera Barat ke Riau.

Mobilitas orang dan barang dari Sumatera Barat ke Riau memang perlu mendapat tekanan, karena sejak awal tahun 2000-an, bisa dikatakan bahwa orang dan daerah Sumatera Barat lah yang paling berkepentingan dengan ruas jalan raya ini. Orang dan daerah Sumatera Barat lah yang paling banyak mendapat keuntungan dari adanya, dan lancarnya jalan raya ini. Keuntungan itu tentu saja bisa terjadi karena Riau dewasa ini adalah sebuah daerah yang membutuhkan banyak banyak dan komoditas dari Sumatera Barat sehingga bisa menjadi pasar potensial bagi daerah Sumatera Barat. Riau adalah matahari baru bagi Sumatera Barat dewasa ini. Dan Jembatan Kelok Sembilan adalah wahana yang bisa mengantarkan orang dan daerah Sumatera Barat ke matahari tersebut. 

(Sumber : padangekspres.co.id; indhietdaily.blogspot.com; twicsy.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar